
Tepat hari ini acara yang di tunggu-tunggu oleh Lisa akan berjalan dengan apa yang sudah ia rencanakan. "Kalian cukup mengaku sebagai kedua orang tuaku saja nanti disana, kalian tidak usah banyak omong cukup bicara seperlunya saja. Apa kalian berdua paham?"
"Siap Bos, tapi gimana dengan bayaran kita?" Wanita yang terlihat seumuran Endang itu bertanya.
"Setelah acara ini selesai, uang kalian akan aku transper. Jadi, aku harap kalian berektinglah sebagus mungkin jika ingin mendapatkan bonus." Lisa mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Teteskan ini juga ke minuman Reka, tapi inggat seperti biasa jangan sampai ada orang yang tau apa lagi curiga."
"Tapi Bos, bagaimana kita tahu yang mana minuman Reka?" tanya laki-laki itu yang bernama Kamal.
"Itu juga salah satu tugas kalian, pokoknya kalian harus bisa melakukan apa yang aku perintahkan." Lisa memperbaiki riasan wajahnya ia juga tidak lupa mengoles sesuatu ke dua kelopak matanya dan mulutnya juga terlihat sedang komat kamit seperti sedang membaca mantra. "Kalian berdua bisa menungguku di luar dulu, sebelum Reka datang."
Kamal dan istrinya yang bernama Marni langsung saja keluar setelah mendengar perintah Lisa. "Jika Bos butuh sesuatu panggil kami."
"Ya, dan cepat keluarlah!" seru Lisa memerintahkan mereka keluar.
Beberapa saat setelah Kamal dan Marni keluar terlihat Lisa seperti sedang menghubungi seseorang dari benda pipihnya.
"Halo, ada apa lagi kamu menghubingiku Lisa?" Seseorang bertanya di seberang telpon.
"Aku tidak perlu berbasa basi, Om kirimkan saja aku uang yang telah aku minta tempo hari yang lalu," jawab Lisa.
"Jangan coba-coba memerasku Lisa, aku tahu bayi itu bukan darah dagingku!" bentak pria itu.
Lisa tertawa renyah membuat laki-laki di sebrang sana merasa heran. Beda halnya dengan Lisa yang semakin tertawa terbahak-bahak. "Baiklah, Video berdurasi 30 menit itu akan aku kirim ke anak serta istri Om," ancam Lisa. "Tidak lupa juga aku akan memberitahu mereka kalau aku sedang hamil dan anak yang aku kandung ini adalah darah daging Om."
"Kamu mengancamku Lisa?" tanya laki-laki itu. Yang kira-kira umurnya 45 tahun.
__ADS_1
"Om Andri sudah tahu jadi, buat apa bertanya lagi. Kirim saja uangnya secepatnya jika rahsia Om ingin aman," jawab Lisa seperti tidak ada beban. "Om Andri sayang, aku tunggu transperan uangnya secepatnya."
"Dasar j*l**g, berani-raninya kamu mau memerasku!" Andri terdengar sangat marah. "Kamu lupa bukan cuma aku saja yang menidurimu, lalu kenapa cuma aku saja yang kamu akui sebagai Bapak dari bayi harammu."
"Karena cuma Om yang tidak pernah pakai pengaman ketika berhubungan denganku," ujar Lisa. "Ternyata Om lebih sayang dengan uang, baiklah kalau begitu siap-siap saja atas kehancuran rumah tangga Om," kata Lisa lalu memutuskan sambungan telponnya.
*
*
Witma masih saja menangis di atas sejadahnya meskipun acara pernikahan Reka akan segera di mulai. "Ya Allah, kenapa Engkau menguji hamba dengan cara begini." Air mata Witma menjadi saksi bisu bagimana hancurnya hatinya saat ini. "Kenapa? Ini semua harus terjadi kepada hamba, apakah Engkau begitu mempercayai ragaku ini untuk menerima setiap cobaan yang Engkau berikan?" Tangisan Witma semakin lama terdengar memilukan. "Ya Allah, rasanya hamba tidak sanggup untuk menyaksikan acara pernikahan Mas Reka."
"Jika kamu tidak sanggup, jangan keluar Nak. Bapak tahu bagimana perasaanmu saat ini," kata Badrun dari luar, yang saat ini sedang duduk di kursi roda. Sebenarnya keadaannya belum cukup membaik tapi Endang tetap saja memboyong Badrun untuk pulang supaya bisa menyaksikan perninakahan Reka dengan Lisa.
Witma berdiri dan segera membuka pintu untuk Badrun, ia juga membiarkan air matanya terus saja mengalir. "Bapak, Witma kali ini benar-benat tidak sanggup." Witma langsung berlutut di depan kursi roda Badrun. "Witma merasa alam semesta tidak pernah adil." Suara Witma serak karena ia terlalu lama menanggis, matanya juga sudah terlihat mulai membengkak. "Mas Reka, kenapa dia tega melakukan ini kepada Witma?"
Endang yang dari tadi bersembunyi di balik tembok memajukan bibirnya beberapa senti, karena mendengar percakapan Witma dan Badrun. Ia yang sudah tidak tahan bersembunyi langsung saja berdehem beberapa kali membuat Badrun menoleh.
"Kenapa masih di sini?" tanya Endang saat melirik ke arah Witma. "Kamu bersiap-siaplah, tukang rias akan mendandanimu supaya wajah sedihmu tidak begitu terlihat. Jangan lupa juga apa yang telah Ibu katakan tadi malam." Endang mendorong kursi roda Badrun supaya menjauh dari Witma. "Jangan mengulur waktu, cepatlah mandi karena tukang riasnya sudah selesai merias kedua pembelai."
"Biarkan saja Witma disi—" ucapan Badrun terpotong oleh kalimat Endang.
"Bapak apa-apaan sih, Witma itu harus ada di sana duduk di sebelah Lisa. Supaya orang-orang tahu kalau Witma itu ikhlas untuk dimadu. Agar mereka semua juga tidak curiga atas apa yang sebenarnya telah terjadi."
"Baik Bu," jawab Witma singkat. Karena ia tahu acara ini akan tetap berjalan lancar meskipun ia tidak setuju kalau Reka menduakannya.
__ADS_1
*
*
"Baiklah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, di karenakan kedua pembelai kita sudah ada di sini. Jadi, kita mulai saja acaranya karena menunda-nunda hal yang baik itu tidak boleh," kata penghulu itu. "Saudara Reka sudahkah Anda meminta izin untuk menikah lagi ke istri pertama Anda?" tanya penghulu itu ingin memastikan terlebih dahulu.
Karena Reka sempat melamun jadi, ia mengangguk dan juga menggeleng secara bersamaan membuat para tamu juga penghulu itu kebingungan.
"Saudara Reka saya tanya Anda sekali lagi, apakah Anda sudah meminta izin untuk menikah lagi ke istri pertama Anda?"
"Sudah Pak penghulu." Lisa yang menjawab.
"Pembelai wanita diam dulu, saya hanya bertanya kepada Saudara Reka saja," kata penghulu yang melihat gelagat aneh Reka.
"Saya sudah meminta izin ke Witma, yaitu istri pertama saya Pak penghulu. Jadi Bapak tidak usah khawatir." Reka mengubah posisi duduknya sambil menjabat tangan penghulu itu.
"Tunggu dulu, bukankah pembelai wanita ada Bapaknya?" tanya penghulu itu lagi.
"Saya serahkan semuanya ke Bapak, saya cukup menjadi saksi," ujar Kamal yang mendapat anggukan dari penghulu itu. "Silahkan Bapak lanjutkan saja," sambung Kamal.
Beberapa saat kemudian dengan satu tarikan nafas Reka mengucapkan ijab kabul dengan sangat lancar tanpa ada hambatan.
"Gimana para saksi apa sudah sah?" tanya Penghulu itu sambil mengangkat microphone.
Saat semua orang bersorak mengucapkan kata sah saat itu juga pandangan Witma tiba-tiba saja menjadi gelap gulita. Ia hanya bisa mendengar suara Badrun yang beberapa kali memanggil namanya.
__ADS_1
Bersambung.