Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Arash dan Anja


__ADS_3

"Arash mau kemana kamu buru-buru sekali?" tanya Rose saat mendengar Anja memanggil nama Arash.


Anja dengan cepat menjawab Rose. "Sepertinya abang Arash mau pergi tante." Ia tidak tahu saja saat ini Arash ingin sekali menghindarinya tapi apa daya ia malah melihat Arash yang ada di depan pintu utama. "Abang Arash …," panggilnya sekali lagi.


Sehingga membuat Arash dengan cepat memasukkan kotak merah yang berisi cincin tadi ke dalam sakunya. "Anja, ada apa kamu datang pagi-pagi sekali ke sini?" tanya Arash berbasa-basi.


Dengan senyum yang lebar Anja menjawab, "Mama menyuruh aku buat mengantar ini ke sini." Ia mengangkat dua kresek plastik putih. "Ini isinya kue dan puding, kata Mama abang sangat suka dengan ini makanya setelah sholat subuh aku buatkan untuk abang," sambung Anja berharap Arash akan memuji dirinya sebagai calon istri yang baik. Namun, sayang Arash hanya meresponnya dengan sebuah senyuman.


"Arash kebetulan kamu datang, Mama boleh minta tolong nggak?" Rose berjalan mendekati Arash yang masih diam di teras depan bersama Alma.


"Minta tolong apa, Ma?"


"Begini, maksud Anja datang kesini juga bukan semata-mata mau nganterin kamu kue sama puding doang." Rose masih berbicara tapi belum pada intinya, ia masih akan menjelaskan Arash dulu maksud serta tujuan Anja datang ke rumahnya. "Sebenarnya yang minta tolong itu Anja, bukan mama."


"Pada intinya saja Ma, aku soalnya masih ada sesuatu yang harus aku kerjakan jadi, aku tidak bisa berlama-lama di sini." Arash yang memang benar tidak suka berbasa-basi langsung menyuruh Rose berbicara pada intinya.

__ADS_1


"Anja cuma minta tolong, kalau dia mau kamu yang mengantarnya ke butik langganan mama yang waktu itu." Sebenarnya ini hanya akal-akalan Rose saja supaya Arash dan Anja semakin dekat. Makanya ini adalah salah satu cara yang ampuh menurutnya untuk mendekatkan mereka. "Gimana apa kamu setuju? Hitung-hitung buat ucapan terima kasihmu kepada Anja, karena Anja telah rela masak masih subuh demi membuatkanmu puding dan kue."


"Nggak apa-apa tante, kalau abang Arash si–"


"Dia nggak sibuk Anja, soalnya hari ini dia libur," potong Alma. Supaya Arash dan Anja pergi ke butik berduaan ini adalah momen yang ia tunggu juga karena ia sudah membayangkan wajah Arash yang kesal saat berduaan dengan Anja di dalam mobil.


"Hari ini memang hari keberuntungan kamu Anja, sana gih pergi sama Arash," kata Rose dan dengan cepat meraih kresek yang di pegang Anja. "Arash, ajak calon istrimu supaya kamu semakin terbiasa dan tidak malu-malu lagi seperti saat ini."


Arash yang orangnya tidak enakkan, akhirnya mau tidak mau menuruti permintaan mamanya untuk menemani Anja ke salah satu butik yang katanya mau mengambil gamis. Karena tadi juga Alma sempat mengancamnya tentang akan memberitahu Anja tentang dirinya yang sudah menikah. Jadi, ia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan Rose.


"Bunga mama sudah layu semua, makanya mama mau menggantinya dengan yang baru," ucapnya supaya Arash tidak curiga. "Dan belinya pakai uang kamu dulu, nanti mama akan suruh papa kamu untuk mengganti uangmu."


Arash mengangguk tandanya mengiyakan Rose. "Aku pergi dulu, titip Kak Alma jangan sampai dia pergi kemana-mana," seloroh Arash tiba-tiba.


"Kakak kamu ini tidak akan kemana-mana, hanya saja cuma mau pergi kerumah kamu saja," balas Alma menimpali Arash. "Dan sepertinya Mama mau ikut."

__ADS_1


"Silahkan saja, menginap disana juga nggak apa-apa." Wajah Arash terlihat biasa saja saat mengatakan itu sehingga membuat sang kakak heran. "Sekarang saja Kak, supaya rumah itu tidak kosong," sambungnya sambil berlalu pergi.


***


Di dalam mobil Arash lebih banyak diam tidak seperti Anja yang selalu saja berbicara tentang apa saja yang ia lakukan di rumahnya sehari-hari.


"Kata Mama kalau aku harus pintar masak supaya nanti calon suamiku tidak kelaparan," ucapnya dengan pipinya yang tiba-tiba bersemu merah di saat ia menceritakan Arash. "Mama juga bilang kalau sudah menikah harus nurut sama suami." Lagi-lagi pipinya terlihat bersemu merah ketika ia mengatakan itu.


"Semoga jodoh atau calon suami kamu itu bangga memiliki istri yang seperti, Anja," kata Arash tiba-tiba setelah ia cukup lama terdiam hanya sebagai pendengar yang setia.


"Bukankah abang adalah calon suamiku?" Anja heran karena kenapa Arash berkata begitu makanya ia bertanya.


"Jodoh, rezeki dan maut hanya Tuhan yang tahu jadi, kita sebagai hambanya tidak pantas mendahului takdirnya." Memang benar apa yang dikatakan oleh Arash ini kalau semua sudah diatur ditangan Sang Pencipta. "Kita sebagai hambanya hanya bisa berdoa karena Allah yang berhak menentukan segalanya, maka dari itu jangan terlalu berharap kepada manusia karena manusia bisa berubah kapan saja."


"Harapanku, semoga abang adalah jodoh yang Allah kirimkan untukku," ucap Anja dengan penuh percaya diri..

__ADS_1


__ADS_2