
Reka yang kesal karena Lisa, akhirnya memutuskan untuk pergi ke bar karena ia juga merasa sangat merindukan suasana bar di mana ia akan merasa senang jika sudah berada di sana, oleh sebab itu dari dulu sampai sekarang ia akan merasa tenang jika sudah bertemu dengan deretan minuman yang mengandung alkohol bagaimanapun berat dan banyak masalahnya.
Seperti sekarang saat ia sedang asik minum sendiri tiba-tiba saja Lusi datang menawarkannya minuman dengan logo bintang. Ia yang tidak menaruh curiga sama sekali dengan Lusi mengambil minuman itu sembari tersenyum ramah.
"Sendirian aja, Lisa mana?" tanya Lusi berbasa basi. Sebenarnya ia sudah tahu kalau saat ini Reka pasti sedang ada masalah jika datang ke bar. "Pasti sedang mengurus bayi h@ramnya, iya 'kan?"
"Dari mana kamu tahu?" tanya Reka yang sekarang tersenyum getir menatap Lusi.
"Apa sih yang aku nggak tahu mas, bukankah kita kenal dari SMP sampai sekarang jadi, aku hapal dan tahu persis masalah apa yang sedang mas alami. Apalagi soal Lisa itu terlalu mudah bagiku untuk mendapat informasi," kata Lisa bicara jujur karena ia memang mengenal Reka sejak masih sekolah SMP dulu. Jika dengan Lisa ia hanya mendapat informasi dari orang-orang bayarannya.
Setelah lama mereka mengobrol dan sepertinya Reka sudah menunjukkan reaksi lain, Lusi dengan cepat mengajak Reka ke apartemennya karena ia sudah memiliki rencana supaya Reka menjadi miliknya lagi seperti dulu.
*
*
Di apartemen Lusi saat ini Reka sedang merasakan panas di seluruh tubuhnya karena tadi Lusi sudah mencampurkan minuman Reka dengan obat per@ngs*ng.
"Panas, badanku kenapa bisa begini," ucap Reka yang kini berguling-guling di atas ranjang Lusi yang berukuran king size.
Lusi keluar dari kamar mandi ia saat ini sengaja memakai lingerie, supaya Reka tergoda dengannya lalu tidak lama ia mendekati Reka yang sedang berbaring karena kepanasan. "Kamu kenapa Mas?" tanya Lusi, ia meraba paha Reka.
Reka mantap Lusi dengan menelan air liurnya karena ia laki-laki normal, siapa yang bisa tahan melihat wanita dengan pakain seperti yang dikenakan Lusi saat ini. Ia yang sudah tidak tahan lagi dengan satu tarikan menarik Lusi sehingga jatuh ke atas adanya. Dan tidak perlu menunggu lama ia dengan gerakan cepat menyobek lingerie yang dikenakan Lusi hingga detik itu juga badan Lusi polos tanpa sehelai benang apapun di badannya hingga terjadilah hal yang akan membuat Lusi akan terikat dengan Reka.
"Kamu masuk perangkap Mas Reka," batin Lusi.
__ADS_1
*
Pagi harinya Reka terbangun karena mendengar suara tangisan, perlahan ia membuka mata sambil melihat sekeliling ia saat ini belum sadar kalau sedang berada di kamar apartemen Lusi. "Lusi kamu kenapa bisa ada di sini?" tanyanya dengan suara serak.
"Ini apartemenku mas, tadi malam kamu sudah merenggut kesucianku," jawab Lusi dengan nada yang ia buat sesedih mungkin. Ia lalu menangis dengan sangat kencang sehingga tangisannya terdengar menggema di kamarnya.
"Apa maksud kamu Lusi? Ini tidak mungkin terjadi." Reka merasa ini kesalahan kedua yang ia lakukan.
"Apanya yang tidak mungkin, kita berdua sama-sama tidak memakai pakaian," balas Lusi yang semakin erat memegang selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Reka terdiam karena ia hanya mengingat waktu di bar sedang minum setelah itu dia tidak mengingat apapun lagi.
"Bagaimana? Kalau aku hamil mas, apa kata orang tuaku nanti?" Lusi lupa kalau Reka mandul.
Rela melirik Lusi sambil berkata, "Kamu tidak akan hamil Lusi, karena aku mandul. Iya, aku mandul apa kamu lupa itu?"
Sedangkan Reka meremas rambutnya berharap ia bisa mengingat semuanya. Tapi sayang sekali ia sama tidak bisa mengingatnya meski ia berusaha berpikir keras.
*
*
"Mas apa kamu mau menghindar dari tanggung jawab, setelah apa yang kamu lakukan?"
"Silahkan keluar Nyonya, Pak Reka tidak bisa diganggu," ujar wanita yang ditugaskan menjadi asisten pribadi Reka di salah satu pabrik susu milik Lisa.
__ADS_1
"Lancang kamu ya, saya ini calon istrinya Mas Reka!" ucap Lusi dengan nada suara lantang.
"Sudah Imel kamu boleh keluar, biarkan Lusi di sini." Reka yang tidak mau ada keributan memerintahkan Imel, nama asisten pribadinya itu untuk keluar. "Satu lagi, jangan sampai Lisa tahu tentang ini," lanjutnya memperingati Imel.
"Baik Pak, kalau begitu saya keluar dulu." Imel yang sudah tahu bagaimana sifat dan karakter Reka seperti apa ia langsung saja mengiyakan perintahnya.
Setelah Imel pergi, Lusi langsung saja mendekati Reka dan duduk begitu saja di pangkuannya. "Mas, aku sangat merindukan kamu." Tangan Lusi meraba dada bidang Reka.
"Turun Lusi! Kamu jangan kurang ajar." Reka menepis tangan Lusi dengan kasar.
Namun, bukanya turun dan kapok karena tangannya ditepis, Lusi malah berlanjut manja dan bersandar di dada bidang Reka.
"Aku kesini cuma mau ngajak kamu menginap di hotelku nanti malam, karena aku saat ini sangat rindu belaianmu Mas," ujar Lusi dengan tidak tahu malunya.
"Sebentar lagi Lisa pasti datang, kamu cepatlah pergi dari sini!" Reka mengusir Lusi.
"Kamu ngusir aku, Mas?" tanya Lusi. "Apa kamu tidak ingat bagaimana kamu merenggut kesucianku di malam itu?" sambungnya bertanya kepada Reka yang masih saja berekspresi datar.
"Tutup mulutmu Lusi, bukankah kamu juga sudah tahu bagaimana sifat Liza. Jika kamu tidak ingin terkena masalah. Maka jangan mendekatiku lagi." Reka pergi begitu saja setelah mengatakan itu. Membiarkan Lusi sendirian di sana.
(Hai kakak-kakak jangan lupa mampir ke karya temanku ya, ini ceritanya nggak kalah serunya kok😊).
Judul: Gadis Desa Kesayangan Tuan Muda
Author/Napen: Bunga Alika
__ADS_1
Ada disini👇