
Pada akhirnya Witma mengalah dan mau di bawa ke rumah sakit karena keadaanya semakin drop. Dimana ia semakin terlihat lemas karena keseringan mondar mandir masuk ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan cairan bening.
"Lebih baik kamu pergi sekolah saja Tam, biar aku yang menjaga Witma di sini," ujar Arash saat melihat Tami masih betah duduk di sebelah Witma yang sedang berbaring dengan mata terpejam. "Nanti kamu bisa terlambat," lanjutnya lagi.
Tami menggeleng. "Tami hari ini nggak masuk sekolah saja kak, karena nggak mungkin aku ninggalin Kak Witma dalam keadaan begini." Tami sempat melirik ke arah Arash. "Kak Arash yang seharusnya pergi bekerja, biar Tami saja yang jagain Kak Witma disini." Ia sebenarnya saat ini agak sedikit nggak enak hati karena mendengar ucapan Arash yang memintanya untuk bersekolah saja makanya ia mengatakan itu. Padahal ia tahu betul gimana sibuknya seorang Arash.
"Aku yang akan menjaga Witma, lagi pula hari ini tidak ada jam mengajar di sekolah," balas Arash. Ia berharap Tami mengerti dengan ucapannya karena saat ini ia ingin menunjukkan kepada Witma bahwa ia laki-laki yang bertanggung jawab. Menemani Witma dalam keadaan sakit begini tidak seperti Reka yang membiarkan Witma sendiri dalam keadaan apapun. "Apa kamu mau aku yang mengantarmu ke sekolah?" Ia bertanya begitu karena tahu kalau Tami tidak bisa membawa motor sendiri. Makanya ia menawarkan untuk mengantar Tami saja ke sekolah.
"Gimana, apa aku yang mengantar kamu?" Arash kembali bertanya karena Tami tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Tidak usah kak, aku tetap disini saja." Ternyata Tami tetap dengan pendiriannya di mana ia tidak mau pergi ke sekolah. "Kakak saja yang pergi bekerja, karena Tami sudah tahu kakak orangnya sangat sibuk." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Tami karena ia tahu kehidupan Arash selama ini seperti apa. Ternyata selama ini Tami juga sering memantau gerak-gerik Arash dimana ia juga selama ini menaruh rasa kepadanya sejak Arash masuk mengajar di sekolahnya.
"Tidak Tam, hari ini aku benar-benar tidak sibuk makanya aku berani menyuruhmu pergi sekolah saja." Arash tetap saja menyuruh Tami bersekolah, karena ia benar-benar memegang erat amanah yang telah di berikan Furqon pada dirinya dimana ia harus menjaga Witma dan Tami itu juga salah satu alasannya. Mengapa ia rela mengorbankan waktunya yang sangat berharga hanya untuk menjaga wanita yang telah menghianati cintanya dulu.
Tami melihat jam di dinding sebelum ia kembali membalas ucapan Arash. "Baiklah, kalau kak Arash benar-benar mau menjaga Kak Witma disini. Aku pergi ke sekolah saja," kata Tami yang mau mengalah. "Kak Arash tidak usah mengantarku, karena sekolahku juga tidak terlalu jauh dari sini," sambungnya, dan setelah mengatakan itu ia pergi tidak lupa juga tadi ia mengucapkan salam kepada Arash.
*
Arash memperhatikan wajah pucat Witma sambil bergumam pelan. "Apa yang telah kamu pikirkan Witma sehingga aslam kamu kambuh lagi?" Arash benar-benar merasa iba melihat Witma dalam keadaan begini. Tidak pernah terlintas di dalam benaknya kalau Witma wanita yang dulu mengisi hatinya malah menjadi begini. Menjadi seorang janda di usianya yang terbilang sangat muda. "Semoga saja, kamu bisa menerimaku lagi Witma untuk menjadi pendamping hidupmu." Ia sangat berharap rasa yang ada di dalam hatinya ini tidak bertepuk sebelah tangan mengingat kata Tami kalau Witma masih sering menangis hanya karena mengingat Reka.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu begitu cepat, Arash yang merasa waktu begitu cepat berputar melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah jam 11:53, aku harus bergegas ke mushola yang ada disini untuk mengumandangkan Adzan," ucapnya yang kemudian beranjak dari duduknya. "Aku pergi ke mushola dulu Witma, kamu cukup istirahat saja disini." Arash sempat berpamitan kepada Witma meskipun Witma sama sekali tidak bisa mendengarnya.
Karena dokter telah menyuntikannya obat tidur supaya Witma bisa beristirahat dan ternyata salah satu yang membuat aslam Witma kambuh gara-gara begadang juga kurang istirahat serta pikiran yang tidak karuan.
"Semoga cepat sembuh, permata indahku yang selalu aku pinta di setiap sujud dan doaku." Arash sempat tersenyum ketika kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya. "Jika kita berjodoh maka Allah akan mempermudah jalan kita," sambungnya lagi sebelum benar-benar pergi dari sana.
*
*
"Assalamualaikum," ucap Arash sambil mengetuk pintu ketika melihat Tami yang sedang mengobrol dengan salah satu dokter yang menangani Witma dan ternyata dokter itu adalah temannya sendiri.
"Wah, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat," seloroh Arash bercanda. "Apa aku pergi saja," lanjutnya lagi sambil tersenyum.
Rangga mengangkat tangannya yang tergenggam kuat. "Jangan ngadi-ngadi, sini masuk ada hal yang harus aku sampaikan." Mimik wajah Rangga sudah terlihat serius. "Sini cepetan, kenapa malah diam di sana?"
"Ada hal penting apa kawan, sehingga wajahmu terlihat seperti itu?" Arash malah bertanya balik sambil berjalan ke arah mereka. "Ayolah, jangan menatapku begitu aku merasa seperti salah satu buronan yang sedang dalam pengawasan." Lagi-lagi Arash bercanda.
"Kenapa kakak Arash tega melakukan ini kepada Kak Witma, aku pikir kakak adalah tempat berlindung yang baik dan benar tapi nyatanya aku salah." Bibir Tami bergetar saat mengatakan itu semua. "Inikah yang dinamakan terlalu berharap kepada manusia sehingga melupakan Sang Pencipta?"
__ADS_1
Arash saat ini bingung dengan apa yang dikatakan Tami. "Apa maksudmu Tami? Aku saat ini benar-benar tidak tahu kemana arah pembicaraanmu itu." Arash yang memang benar tidak tahu maksud Tami berusaha untuk menebak-nebak di dalam benaknya.
"Jangan pura-pura tidak tahu kak, kakak kan yang telah menghamili Kak Witma!" seru Tami dengan nafas naik turun.
Sontak saja Arash langsung beristighfar mendengar tuduhan Tami, sambil mengelus d*d*nya karena kaget. "Jangan menuduh tanpa bukti Tam, nanti itu jatuhnya fitnah."
"Tidak ini bukan fitnah, kata dokter Rangga saat ini Kak Witma hamil." Tami melempar kertas hasil USG ke arah Arash. "Tidak mungkin anak kak Reka, karena dia laki-laki yang mandul!" Saking marahnya Tami berteriak saat mengatakan itu. "Kakak ternyata sama saja, laki-laki yang hanya mengikuti n@fsu sesaat."
Bukannya marah Arash malah tersenyum saat melihat lembaran hasil USG itu. "Ini yang kamu maksud?" Arash mengangkat selembar kertas itu. "Ini bukan punya Wit—"
"Pokoknya kak Arash harus tanggung jawab!" Tami berdekap sambil memelototi Arash.
"Ini semua salah paham, coba lihat ini bukan hasil USG Witma." Arash menunjuk kertas itu. "Jelasin ke Tami sekarang juga Rangga, biar dia tidak salah paham."
Semberi menunggu si Witma Up, kakak-kakak bisa mampir ke karya temanku ya ... .
Ada disini👇👇 Author: AYi
__ADS_1