Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Furqon Pulang


__ADS_3

"Salim dulu sama aunty-aunty kalian," kata Furqon menyuruh kedua anaknya untuk bersalaman dengan Witma juga Tami.


Kedua anak Furqon berhamburan berlari ke arah Witma. "Aunty Witma, kami pulang dulu, besok kalau libur kita datang kesini lagi, ya." Faruq dan Fahlan mengatakan itu dengan serempak. "Buat aunty Tami juga, kami pulang dulu." Sekarang mereka berdua pindah bersalaman ke Tami.


Tami mengusap air matanya karena sebenarnya ia ingin ikut dengan Furqon tapi setelah mendengar penjelasan Witma ia menjadi mengurungkan niatnya. "Kalian berdua belajar yang rajin ya, juga jangan nakal." Tami menasehati anak sang kakak yang ternyata kembar. "Dan jangan sering buat bunda marah-marah, nanti calon dedek bayi kalian ngambek nggak mau punya abang seperti kalian berdua," lanjutnya lagi.


"Benar apa kata aunty Tami, kalian jangan nakal dan belajar dengan rajin supaya cita-cita kalian ingin menjadi tentara terwujud serta jangan pernah meninggalkan … ." Witma sengaja menjeda kalimatnya.


"Sholat 5 waktu!" seru mereka secara serempak lagi.


"Wah, kalian berdua memang keponakan aunty yang pintar-pintar," balas Witma, ia sekarang berlutut memeluk kedua keponakannya. "Nanti kalau sudah sampai jangan lupa hubungi aunty." Ia sekarang mencium pipi kedua keponakannya secara bergantian.


"Kak, nanti mereka bisa terlambat mengingat tiket Kak Furqon berangkat jam 16:40 dan sekarang sudah jam 16:00," ucap Tami memperingati Witma yang terlihat enggan untuk melepaskan Faruq dan Fahlan.


Witma yang mendengar Tami langsung berdiri sambil mengusap lelehan air matanya. "Maaf aunty sampai lupa waktu, kalau ternyata tiket pesawat kalian akan berangkat dalam waktu 40 menit." Witma menuntun kedua keponakannya untuk keluar menuju teras dimana Furqon juga Fatimah sudah keluar dari tadi dan ternyata mereka sedang menunggu Arash yang akan mengantarkan mereka ke bandara.


Saat Witma sudah sampai di teras saat itu juga sebuah mobil yang tidak terlalu mewah berhenti di halaman rumahnya. "Kak Arash, apa dia yang akan mengantar Kak Furqon?" Witma bertanya di dalam benaknya saat melihat Arash lah yang duduk di depan mengemudikan mobil tersebut.


"Ayo kak Furqon, nanti kakak bisa telat." Arash membuka suara karena melihat mereka hanya diam saja dengan wajah yang terlihat murung.

__ADS_1


"Iya Arash, kami akan naik," balas Furqon namun sebelum itu ia sempat mencium kepala Witma dan Tami. "Semoga Allah selalu melindungi kalian berdua." Setelah mengatakan itu Furqon menuntun Fatimah untuk naik ke dalam mobil karena saat ini kepala Fatimah merasa sangat pusing. "Kakak kalian Fatimah sedang pusing, maka Kakak harap kalian berdua memaklumi."


"Iya Kak, tolong jaga kak Fatimah baik-baik." Witma kembali lagi mengusap air matanya.


"Kakak pamit dulu, Assalamualaikum," ucap Furqon. Meski saat ini ia merasa berat meninggalkan Witma juga Tami.


"Waalaikumsalam, semoga Kakak selamat sampai tujuan," jawab Witma dan Tami serempak.


Sesaat setelah mobil yang dibawa Arash pergi Witma dan Tami bergegas masuk karena malam ini mereka juga akan pindah dari rumah yang penuh dengan kenangan itu.


"Kamu bawa pakaian seperlunya saja Tam, besok kalau kita sudah merasa nyaman di sana baru kita bawa semuanya," ujar Witma.


Saat mereka berdua sedang asik mengemas pakaian masing-masing tiba-tiba suara ketukan pintu membuat mereka saling tatap. Saat itu juga tubuh Witma gemetaran ia teringat dengan Baron lagi ketika mendengar suara pintu diketuk.


"Tidak apa-apa Kak, itu pasti kak Dina." Tami berusaha meyakinkan Witma karena ia bisa melihat dengan jelas netra Witma berubah menjadi sedikit kemerahan karena merasa takut. "Tami bukain dia pintu dulu, Kakak lanjutin saja kemas-kemas barangnya." Saat Tami akan beranjak dari duduknya Witma malah menarik pergelangan tangannya. "Kak, itu kak Dina, percaya sama aku."


"Kakak takut Tam, jangan-jangan itu … ."


Suara cempreng Dina terdengar begitu nyaring membuat Tami tersenyum kepada Witma. "Tuh, itu kak Dina. Kakak diam saja aku mau bukain pintu buat dia dulu." Setelah mengatakan itu Tami pergi dari sana.

__ADS_1


*


"Udah, yang dibawa ini saja?" tanya Dina kepada Witma.


"Iya, ini saja dulu. Nanti gimana-gimana kita ambil lagi kesini," jawab Witma.


Dina kemudian naik ke atas motornya. "Ayo, naik kalau begitu. Kamu sama aku dan biarkan Tami sama kang ojol." Dina ternyata datang bersama kang ojol karena ia tidak mungkin membawa Tami dan Witma dengan cara bergendolan dalam satu motor. "Udah jangan mikir aneh-aneh, kang ojol itu teman aku. Jadi, jangan cemas." Sepertinya Dina mengerti arti tatapan Witma yang terus saja melirik ke arah ojol itu.


"Dia kelihatannya masih muda, Din. Aku takut dia ngapa-ngapain Ta—"


"Nggak bakal, andai itu terjadi aku yang akan datang ke rumahnya dan mengh@bisinya langsung," seloroh Dina bercanda memotong ucapan Witma. "Ayo naiklah, nanti keburu hujan lihat deh atas bulan dan bintang tidak ada itu menandakan mendung," sambungnya lagi.


Witma mendongak dan benar saja saat ini langit tampak mendung. "Kalau begitu ayo kita pergi sekarang, sebelum hujan."


Dina menepuk jidatnya sendiri. "Kamu yang belum naik. Astagfirullahaladzim


… gimana mau berangkat coba."


Witma nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Maaf ya, sekarang ayo." Witma akhirnya naik. "Jangan ngebut-ngebut, ingat sebentar lagi tahun baru dimana aspal butuh darah segar."

__ADS_1


"Santai saja, aku tidak akan ngebut-ngebut. Lagi pula tempatnya tidak terlalu jauh, kok."


__ADS_2