
Setelah lama di toilet akhirnya Witma keluar, ia sekarang menuju tempat dimana Dina dan teman-teman kerjanya berada. Namun, tidak lama langkah kakinya terhenti di saat melihat seorang laki-laki tersenyum ke arahnya. "Kak Arash," gumam Witma. Ia berharap penglihatannya salah hingga ia mengucek matanya beberapa kali. "Jadi, benar itu kak Arash, ngapain dia berdiri di sana sambil tersenyum ke arahku?" Witma yang tahu itu benar-benar Arash memalingkan wajah.
"Witma, sini!" seru Dina melambai-lambaikan tangannya. Di salah satu kursi paling depan dekat panggung yang telah di dekorasi sesederhana mungkin namun terlihat sangat indah. "Sini, cepetan. Kenapa kamu malah diam saja di sana!" seru Dina membuat teman-temannya yang lain ikut menoleh ke arah Witma.
Witma yang merasa dirinya menjadi pusat perhatian bergegas menuju Dina. Akan tetapi, suara Arash yang memanggil nama lengkapnya dari atas panggung membuat
jantungnya terasa terlepas dari tempatnya saat itu juga.
"Dipersilahkan kepada Witma Alya, pekerja baru di sini untuk naik ke atas panggung," kata Arash membuat para pekerja di sana heran karena bisa tahu nama lengkap Witma.
Witma melongo sambil menunjuk dirinya. Ia juga mengisyaratkan kepada Arash kalau dirinya tidak mau naik ke atas panggung, di karena ia tidak mau membuat yang lain salah paham padahal dirinya tidak tahu sama sekali kalau Arash adalah Owner di cafe tersebut.
"Dikarenakan Witma menolak naik ke atas panggung, jadi siapa disini yang mau menggantikannya tapi yang memiliki suara yang istimewa." Arash tahu saat ini Witma merasa canggung kepada dirinya. "Kalian pasti tahu, apa maksud dari saya yang mengatakan suara istimewa," sambung Arash.
Dan seketika suara riuh terdengar saat semua tangan malah menunjuk Dina yang saat ini sedang memperhatikan Arash dan juga Witma secara bergantian. "Apa hubungan Witma dan Pak Arash, kenapa mereka terlihat saling mengenal," bartin Dina.
"Lu, tuh. Disuruh naik ke panggung." Adel nama teman kerjanya menyenggol siku Dina. "Ini kesempatan buat lu lagi, supaya bisa mendekati Pak Arash, bukanlah selama ini impian lu cuma satu yaitu bisa menjadi pendamping hidup Pak Arash," bisik Adel di telinga Dina. Supaya yang lain tidak mendengarnya.
Iya, ternyata selama ini Dina diam-diam menaruh rasa kepada Arash rasa yang hanya bisa ia pendam sendiri, meski ia sudah tahu mustahil Arash akan membalas rasa cintanya itu. Namun, meskipun begitu ia tetap berusaha terus supaya bisa mendapatkan apa yang selama ini ia impi-impikan.
"Lu, kalau ngomong lain kali direm, jangan ceplas ceplos saja. Nanti ada orang lain yang dengar gimana?" desis Dina membalas ucapan Adel.
"Bagus dong, malah semakin banyak yang dukung lu, buat deketin Pak Arash," seloroh Adel. "Jadi, bukan cuma gue aja," sambungnya.
"Gua sadar diri, nggak pantes buat Pak Arash, lihatlah dia begitu tampan berkharisma dan juga kaya. Lah gue cuma anak yang tidak jelas asal usulnya." Dina tersenyum getir.
"Udah deh, lu nggak usah ngomong begitu. Lebih baik cepat lu naik ke panggung." Adel mengatakan itu karena melihat Witma yang akan duduk di sebelah Dina.
*
Dina naik ke atas panggung dan menyanyikan sebuah lagu yang berjudul.
Kisah Tak Sampai
Lagu Padi Reborn
Indah Terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki
Namun bila
__ADS_1
Itu semua dapat terwujud
Dalam satu ikatan cinta
Tak semudah seperti yang pernah terbayang
Menyatukan perasaan
Tetaplah menjadi bintang dilangit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kitak
Berdua
Berdua
Sudah
Lambat sudah
Kini semua harus berakhir
Dan kita mesti relakan kenyataan ini
Tetaplah menjadi bintang dilangit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua
Berdua
Menjadi saksi kita berdua
Sumber LyricFind. Dari Google.
________
__ADS_1
Seakan mengucapkan isi hatinya yang paling dalam Dina membawakan lagu itu dengan penuh penghayatan. Semua di sana langsung saja serempak bertepuk tangan saat lagu itu sudah selesai dinyanyikan Dina.
Beda halnya dengan Witma yang diam-diam mengusap air matanya. Karena ingatannya tiba-tiba saja tertuju kepada Reka. Entahlah karena mungkin ia menyesal mengenal Reka atau ia merasa kalau di hatinya masih ada nama Reka yang tersimpan rapi, mungkinkah? Hanya Witma sendiri yang tahu jawabannya.
*
Tidak berselang lama Dina turun dan langsung saja menghampiri Witma yang sedang duduk bersama beberapa teman kerja mereka. "Aku pulang duluan, kamu bisa kan, pulang naik ojek?" tanya Dina kepada Witma.
Witma yang baru saja akan memakan hidangan yang tersedia di depannya tidak jadi, karena mendengar pertanyaan Dina. "Kok tumben, buru-buru. Emang mau pergi ke mana?" Witma malah bertanya balik.
Dina nyengir sambil berkata, "Ada suatu hal, yang sangat penting. Jadi, kamu bisa pulang sendiri, kan?"
Witma menepuk tangan Dina. "Nggak apa-apa, kamu pergi saja. Aku bisa pulang sendiri." Witma sebenarnya ingin bertanya sedetail mungkin tapi karena tempat dan waktu yang tidak tepat membuatnya mengurungkan niatnya. "Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut ingat ini akhir tahun dimana aspal lagi butuh darah segar," ujar Witma bercanda.
"Baiklah, aku pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ingat pokoknya jangan ngebut-ngebut." Witma tidak henti-hentinya memperingati Dina meski sudah menjauh.
*
Karena tidak ada ojek ataupun angkot yang lewat, Witma akhirnya memutuskan untuk jalan kaki saja. "Semoga tidak terjadi apa-apa dengan hamba Ya Allah, hamba pasrahkan semuanya kepada Engkau lindungilah hamba dari orang-orang berniat tidak baik," lirih Witma. Jujur saat ini ia merasa takut karena pernah mendengar cerita Dina yang mengatakan kalau ada salah satu wanita yang berjalan sendiri di jalan itu tiba-tiba saja wanita itu di begal dan di perk*sa setelah itu di bu*n*h dengan keji. "Allah, akan melindungi setiap langkahmu Witma. Jadi, jangan takut," kata Witma yang berusaha membuat dirinya supaya tidak takut namun tak lama suara klakson mobil terdengar beberapa kali.
Titt … tittt … titt … .
Witma langsung membeku dan tidak berani menoleh, karena ia berpikir itu adalah orang yang pernah di ceritakan Dina. "Ya Allah," lirih Witma sambil terus berzikir di dalam benaknya berharap rasa takutnya menjadi sedikit berkurang.
"Witma, ayo naik!" Suara itu membuat Witma menolah secara perlahan. "Ini aku Arash, ayo naiklah. Lagi pula disini sangat rawan tidak baik untuk kamu," ujar Arash. Ternyata diam-diam ia mengikuti Witma dari tadi di belakang.
Witma bernafas lega saat megetahui itu adalah Arash. "Kak Arash," panggil Witma.
Arash keluar dari dalam mobilnya, ia kemudian menghampiri Witma. "Ayo, aku antar pulang. Nanti ibu khawatir di rumah," ucap Arash seperti biasa, ia akan bicara dengan siapa saja dengan nada yang lemah lembut.
Witma sempat terdiam sebelum menyahut ucapan Arash. "Hm, bukankah di rumah kak Arash ada pengajian, lalu kenapa bisa kakak ada di sini?"
Arash sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk Witma supaya Witma tidak tahu kalau dirinyalah pemilik cafe itu. "Kebetulan, pemilik cafe itu teman aku jadi, dia menyuruh aku untuk hadir di acara tahunan di cafe itu. Dan untuk acara pengajian di rumah papa sudah mengususnya di sana." Arash berbohong karena ia merasa belum saatnya mengatakan kalau dirinya pemilik cafe itu. Ia akan menunggu waktu yang tepat.
"Oh jadi begitu," Witma menimpali. "Witma dengar-dengar, kak Arash mau menikah. Siapa kira-kita wanita yang beruntung itu?" tanya Witma sambil tersenyum.
Arash menggelang-ngeleng, karena ia tahu ini pasti pekerjaan mamanya yang menyebarkan gosip kalau dirinya akan segera menikah. "Jika kamu wanita itu, apa yang akan kamu lakukan?" Arash menatap Witma saat mengatakan itu.
"Tidak mungkin Witma kak, karena Witma seorang janda. Tidak pantas bersanding dengan kak Arash yang masih bujang." Witma menunduk tidak berani menatap netra Arash.
"Witma andai engkau tahu, rasa yang dulu pernah ada tidak pernah berkurang ataupun terkikis sedikit saja." Arash membatin karena ia belum berani mengungapkan perasaanya. Mengingat masa idah Witma belum berakhir.
Witma yang melihat Arash diam saja dan tidak merspon ucapannya, membuat dirinya semakin merasa kalau apa yang keluar dari mulutnya itu benar apa adanya kalau dirinya tidak pantas dengan Arash. "Maaf, Kak Arash kalau kata-kata Witma yang tadi membuat kakak Arash tersingung."
__ADS_1
(Semangati Author dengan cara komen ya, kakak-kakak. Jangan lupa juga Like dan kasih dukungan😊🌹🌹🙏🙏)