
"Itu bukannya mantan suami kamu?" tanya Dina ketika ia melihat Reka duduk di meja dekat pintu masuk. "Ada urusan apa lagi dia mencarimu? Belum cukupkah selama ini dia menggores luka di hatimu," ucapannya membuat Witma menggeleng lemah.
"Itu memang mas Reka, tapi aku tidak tahu kenapa dia mencariku ke sini," jawabnya lirih sebenarnya ia tahu Reka datang pasti hanya ingin menanyakan tentang pernikahannya. Namun, di depan Dina ia hanya berpura-pura tidak tahu karena ia tau Dina pasti akan marah dan mengusir Reka dari cafe itu dan juga ia pasti akan tahu kalau dirinya berbohong tentang berlibur ke Bali. "Untuk luka di hatiku yang telah dia buat, insyaAllah aku telah memaafkannya Din, karena aku tidak mau menjadi orang yang sombong dan angkuh yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain bagaimanapun dia kan, telah menjadi imamku meski kelakuannya sangat tidak pantas di tiru untuk kaum laki-laki diluaran sana yang bergelar suami."
"Tapi ingat hanya memaafkan Wit, tidak untuk kembali bersama karena aku benar-benar tidak sudi melihat temanku yang berhati lemah lembut ini rujuk lagi dengannya mengingat sifat Reka selama ini ke kamu itu seperti apa, di tambah ibunya yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian yang dulu, mending di pikir-pikir sebelum kamu terlena dalam rayuannya. Kamu juga jangan mudah terpancing dengan wajah polos Reka seperti orang yang tidak memiliki dosa." Dina mengatakan itu semua karena ia benar-benar peduli kepada Witma. Ia tidak mau sahabatnya jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
"Iya, aku akan mengingat semua kata-kata kamu ini Dina, terima kasih karena selama ini kamu tidak pernah bosan dalam hal mengingatkan aku untuk masalah itu," balas Witma meninpali Dina. Ia merasa sangat bersyukur karena Allah telah mengirimkannya sosok Dina teman yang begitu baik untuknya meski kadang sifat gesrek Dina sering kumat. "Aku kesana dulu, kamu nggak usah ikut ini mungkin mas Reka mau bicara empat mata denganku." Ia melarang Dina ikut sebab ia memiliki fealing kalau Reka akan benar-benar membahas tentang pernikahannya yang akan di adakan dua hari lagi.
"Tadi ngajak, sekarang malah ngelarang kamu ini gimana sih." Diana pura-pura memasang raut wajah kesal. "Nanti kalau dia ngapa-ngapain kamu gimana?"
Witma nencubit lengan Dina. "Maaf, aku kira orang yang tidak aku kenal tadi yang mau menemuiku makanya aku mengajakmu kawan, kalau tahu mas Reka tidak akan mungkin tadi aku memintamu untuk menemaniku." Ia berusaha menjelaskannya kepada Dina suapaya Dina yang pura-pura merajuk tidak marah kepadanya. "Aku juga yakin mas Reka tidak akan berani ngapa-ngapain aku di tempat ramai seperti sekarang ini, kamu jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak. Kalau begitu aku kesana dulu kamu lebih baik kebelakang lagi untuk beristirahat mumpung waktunya masih banyak aku janji akan menyusul kamu kesana," kata Witma menyuruh Dina beristirahat lagi.
Dina akhirnya membentuk huruf O pada jari telunjuk dan jari jempolnya menandakan ia paham dan setuju. "Baiklah, baik-baik kalau ada sesuatu yang mencurigakan hubungi aku secepatnya." Dina berlalu pergi setelah mengtakan itu kepada Witma sambil terus menoleh beberapa kali. "Jangan sampai termakan rayuannya lagi Wit!" serunya sambil berlari.
__ADS_1
***
"Hm, mas mencari aku?" Witma mengtakan itu sebagai kalimat basa basi saat baru saja sampai di tempat Reka duduk.
Reka yang mendengar suara Witma langsung mendongak untuk melihatnya. "Witma, duduk dulu jangan bicara sambil berdiri di saat lawan bicaramu duduk." Ia dengan cepat menarik kursi untuk Witma. "Silakan duduk, supaya kita bisa mengobrol dengan santai dan tenang."
"Ya Allah, semua kata-kataku yang dulu di keluarkan oleh mas Reka." Ia membatin karena mengingat apa yang keluar dari mulut Reka itu adalah semua yang dulu pernah ia ucapkan ketika Reka dalam keadaan marah.
Witma menuruti apa yang Reka katakan. "Jam istirahtku tidak lama lagi mas. Jadi, aku harap mas bisa mengerti apa yang aku maksud." Ia kemudian duduk dengan perasaan yang tidak menentu setelah mengtakan itu kepada Reka. Entah apa yang sedang ia pikirkan sehingga raganya ikut sedikit gemetaran.
"Hanya sebentar saja Witma, aku janji setelah menanyakan ini aku akan langsung pergi entah membawa kabar bahagia atau kabar menyedihkan," lirih Reka karena ia merasa kabar yang ia dengar itu memang benar apa adanya. Karena ia merasa ini salah satu alasan Furqon yang tidak membiarkannya rujuk dengan Witma.
"Mas langsung pada intinya saja, biar pembicaraan kita tidak muter-muter seperti kincir angin yang tidak akan berhenti bila terus tertiup angin," kata Witma membuat perumpamaan atau peri bahasa.
__ADS_1
Reka menghela napas panjang sebelum menghembuskannya pelan. Sesaat sebelum ia berkata, "Baiklah, kita bicara pada intinya saja. Begini apa benar kamu mau menikah dengan laki-laki pilihan kak Furqon makanya menolak untuk aku ajak balikan? Tolong jawab dengan sejujur-jujurnya." Reka benar-benar mengatakan apa yang ada di dalam isi hatinya sudah beberapa hari ini.
Witma ingin jujur tapi saat mengingat ucapan sang kakak ia menjadi mengurungkan niatnya. "Maaf mas Reka, sepertinya kabar yang mas dapat itu tidak benar bahwa aku tidak akan menikah, bisa jadi juga kabar yang mas dapat itu semua hanya sebuah gosip." Witma hanya bisa mengelak dengan kata itu. "Intinya semua gosip tentang diriku itu tidak benar mas."
Reka ingin meraih tangan Witma namun Witma dengan cepat menarik tangannya bersembunyi di bawah meja.
"Jujur atau berbohong aku akan tetap mempercayimu Witma meski hatiku ini kamu buat hancur lebur dengan kebenaran yang akan terungkap." Reka beranjak dari duduknya. "Aku pamit pulang, nanti aku datang kesini lagi untuk menayakan hal yang sama apakah jawabnmu akan berubah atau malah memilih jujur." Ia memgambil kunci mobilnya di atas meja. "Aku pergi … ."
Witma hanya bisa terdiam saat Reka berkata begitu. Tatapan netranya terus saja menatap punggung Reka yang semakin menjauh. "Ada kalanya kita akan menyesal atas apa yang telah kita lakukan setelah kita menyadarinya," gumammya pelan. Disini lain ia merasa kasihan saat melihat Reka di kala begini namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain ini, karena ia juga harus mendengar apa kata kakaknya.
......................
__ADS_1