Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Pak Badrun Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Di rumah sakit Badrun terbaring lemah tidak berdaya sudah tiga hari, sejak kejadian dimana Lisa datang membawa kabar yang kurang menyenangkan bagi Badrun dan juga Witma. Tidak dengan Endang yang merasa sangat senang kala itu.


Saat ini hanya Witma seorang yang menemani Badrun dirumah sakit sedangkan Reka beserta ketiga adiknya dan Endang sedang mempersiapkan acara pernikahan Reka dan Lisa karena acara itu akan diadakan dua hari lagi.


"Bapak mau minum?" tanya Witma pelan di dekat telinga Badrun.


"Bapak tidak haus," jawab Badrun sambil melihat ke arah pintu. "Di mana Ibu? Kenapa tidak pernah menunggu Bapak di sini?"


"Ibu akan kesini sebentar lagi," kata Witma berbohong kalau Endang akan datang, padahal Endang sama sekali tidak pernah menanyakan tentang keadaan Badrun. Apa lagi berniat menjaga Badrun di rumah sakit. "Katanya Bapak ingin sembuh, maka dari itu Bapak istirahat saja supaya keadaan Bapak cepat pulih dan bisa cepat pulang."


"Mereka benar-benar sangat keterlaluan Witma Bapak minta, tolong maafkan Reka dan juga istri Bapak." Badrun tahu kalau Witma wanita yang benar-benar berhati malaikat. Karena selama ini Badrun sama sekali tidak pernah mendengar Witma mengeluh meskipun diperlakukan buruk oleh Endang dan Reka.


"Pak, tidak usah memikirkan hal itu, Witma sudah ikhlas menerima setiap takdir yang Allah berikan. Mungkin ini salah satu ujian dalam rumah tangga Witma." Mula-mula Witma ingin memberi tahu Badrun kalau Reka mandul. Tapi melihat keadaan Badrun begini ia jadi mengurungkan niatnya. "Bapak cukup mendoakan, supaya rumah tangga Witma dan Mas Reka baik-baik saja."


"Percayalah, suatu hari nanti Reka akan menyesal karena telah memperlakukan kamu seperti ini." Badrun berkata demikian karena ia sangat menyayangi Witma layaknya ia menyayangi anaknya sendiri. Bukan seperti Endang yang hanya memandang Witma rendah dan hina hanya karena Witma belum memberikannya cucu.


"Ibu Witma sebentar lagi kesini, mau menjenguk Bapak." Witma dengan cepat mengalih pembicaraan karena ia tidak mau membuat Badrun memikirkan hal yang dapat membuat kesehatannya semakin menurun.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu dan juga salam dari luar ruangan. "Assalamualaikum." Ibu Witma mengucap salam. Sambil mengintip sedikit berharap ia tidak salah kamar. Kebetulan ruangan Badrun terbuka jadi Ibu Witma yang bernama Ratih cukup mengintip sedikit.


"Waalaikumsalam," jawab Witma dan Badrun serempak. "Ibu masuk saja, disini hanya ada Witma dan juga Bapak." Witma kemudian dengan cepat menyambut sang Ibu.


"Maaf Pak Badrun, saya baru bisa jenguk Bapak sekarang dikarenakan adik Witma juga saat ini kurang sehat." Ratih menaruh kresek putih yang berisi roti juga buah-buahan. "Gimana keadaan Bapak, apa perut Bapak sudah tidak sakit lagi?" Ratih duduk di kursi yang Witma berikan.

__ADS_1


"Alhamdulilah, sudah lebih baikan." Badrun tersenyum ramah. "Kalau Ibu Ratih apa kabar?" tanya Badrun karena ia melihat Ratih sepertinya agak kurusan sedikit.


"Alhamdulilah juga Pak, Saya baik-baik saja," jawab Ratih. "Dimana Reka dan Ibu Endang?" Ratih balik bertanya.


"Mas Reka dan Ibu baru saja pulang dari sini Bu, sekarang giliran Witma yang menjaga Bapak." Witma yang menjawab. Dan lagi-lagi ia harus berbohong. Demi kebaikan Ratih karena ia tahu sang ibu tidak boleh memiliki beban pikiran dikarenakan Ratih juga baru sembuh beberapa bulan belakangan ini.


Ratih mengangguk sebagai tanda mengiyakan Witma. "Ibu tidak bisa berlama-lama di sini, karena pekerjaan Ibu masih sangat bany—" Ratih menutup mulutnya sebelum kalimatnya usai karena ia tadi keceplosan.


"Ibu kerja apa? Dan di mana?" Witma begitu terkejut mendengar Ratih.


"Ibu hanya bekerja di warung makan Witma, bantu-bantu Kang Mamang cuci piring," jawab Ratih berbohong.


"Ibu tidak membohongi Witma, kan?"


Witma memeluk Ratih, penyesalan tiba-tiba saja merasuk ke dalam relung hatinya. "Maaf, Witma tidak bisa membantu Ibu. Karena Mas Reka … ."


"Sudah, tidak apa-apa. Ibu tahu perekonomian kamu saat ini sedang tidak baik-baik saja." Ratih membalas pelukan Witma. Tanpa ia sadari Witma mengusap air mata yang terus saja mengalir.


*


*


Malam menjelang Raka dan Lisa datang ke rumah sakit. Mereka datang hanya ingin memamerkan kemesraannya kepada Witma. Seperti sekarang ini Lisa bergelayut manja di lengan Reka sambil memasang muka sedih berharap Reka semakin percaya kalau dirinya adalah wanita yang baik. "Apa keadaan Bapak sudah lebih memba—"

__ADS_1


"Buat apa kamu membawa wanita ini kesini Reka," potong Badrun. "Jika ingin bermesraan, jangan pernah datang kesini. Karena melihatnya hanya membuat penyakit Bapak kumat lagi." Badrun berbalik membelakangi mereka.


"Pak, Lisa calon menantu Bapak. Kenapa Bapak tega berkata begitu padahal niat kami datang kesini baik." Reka mengajak Lisa supaya mendekat ke arah ranjang Badrun. "Ingat di perut Lisa ada calon cucu Bapak jadi, Bapak bersikap baiklah kepada Lisa."


"Reka, tidak apa-apa. Bapak pasti akan menerima ku seiring berjalannya waktu." Lisa semakin bergelayut manja. "Ini hanya tentang waktu, aku yakin Bapak pasti akan menerima aku sebagai menantunya cepat atau lambat aku akan menunggu."


"Yang sabar, aku yakin kamu memang wanita yang baik," ucapan Reka membuat Badrun heran karena ia tahu Reka tidak akan mudah percaya dengan siapapun tapi sekarang, Mereka dengan enteng dan mudahnya berkata lemah lembut kepada Lisa. Padahal selama ini Badrun tahu bagimana sifat putranya itu.


"Pulanglah, sebelum Witma melihat kalian," kata Badrun yang memikirkan perasaan Witma jika sampai melihat Reka dan Lisa. "Apa belum cukup menyiksa raganya, sekarang ditambah lagi kalian ingin menabur garam di dalam hatinya yang penuh luka." Badrun masih betah membelakangi mereka.


"Reka dan Lisa kesini baik-baik Pak, jadi jangan berlebihan begitu. Mana mungkin Witma akan merasa sakit jika sekedar melihat kita berdua berdiri di sini tidak melakukan apa-apa," balas Reka. "Apa jangan-jangan selama ini Bapak memiliki perasaan kepada Witma, makanya selalu saja membela wanita mandul itu."


Badrun berbalik dan melihat Reka. "Cukup Reka, omong kosong apa yang kamu katakan." Badrun meremas sprei. "Witma wanita baik-baik, tidak seperti wanita yang saat ini bersamamu."


"Reka, lebih baik kita pergi saja dari sini. Aku takut penyakit Bapak akan tambah parah." Lisa bicara sok bijak. Padahal ia suka melihat Reka membelanya begini. "Ayo, kita pergi saja," ajak Lisa sekali lagi.


"Penyesalan akan datang di akhir." Badrun menunjuk Lisa. "Saat itu juga semua kebohongan akan terbongkar."


"Bapak boleh membenci Lisa, tapi tolong Bapak ingat di sini." Reka mengelus perut Lisa. "Calon penerus Reka sedang tertidur lelap. Reka berharap nada suara Bapak saat bicara dengan Lisa tolong lemah lembut sedikit saja. Karena Reka takut suara Bapak mengganggu tidur lelap jagoan kecilku."


"Keluar Reka!!" bentak Badrun yang tidak sengaja melihat bayangan Witma di ambang pintu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2