
Reka tetap diam saja di dalam mobil sambil terus memperhatikan Witma. "Mungkin ini jalanku untuk kembali mendapatkan hati Witma," kata Reka yang mulai memiliki ide. "Aku akan mencoba menitip bayi ini padanya, semoga saja dia mau." Detik itu juga senyum terukir jelas dari bibirnya. "Aku hanya tinggal menunggu kedua orang itu pergi, setelah itu baru aku akan turun menemui Witma, iya. Witma aku akan segera mendapatkan hatimu seperti dulu lagi," sambungnya.
__
Setelah lama menunggu akhirnya Reka keluar dari dalam mobilnya membawa Lire ikut serta bersamanya. Saat melihat Dina dan Damar sudah pergi meninggalkan kontrakan Witma ternyata Reka sempat mendengar percakapan antara Witma dan Dina, maka dari itu ia tahu kalau saat ini Witma sedang mengontrak di rumah tersebut.
Tanpa perlu berpikir lama-lama Reka mengetuk pintu kontrakan Witma dengan pelan karena ia tidak mau Lire yang sudah terlelap di dalam gendongannya akan terbangun lalu menangis.
Tok ... tok ... tok ...! Suara ketukan pintu mulai terdengar. Tanpa menunggu waktu yang lama pintu itu sudah terbuka.
"Iya Din, apa ada yang ketinggalan?" tanya Witma yang ternyata mengira itu adalah Dina. Karena saat ini Ia sedang menunduk memperbaiki jilbabnya maka dari itu ia tidak tahu kalau itu Reka. "Kenapa diam Din? Apa yang ketingg—" Kalimatnya terputus saat mengangkat wajahnya dan melihat Reka yang sedang berdiri di depannya saat ini.
"Wi-Witma, maaf mengganggu waktu istirahatmu malam-malam begini. Aku cu—"
"Sudah larut malam begini, aku tidak terima tamu mas." Witma mundur dan ingin menutup pintu. "Datang lain kali saja mas karena saat ini aku sedang tidak menerima hinaan dan cacian apa lagi ejekan." Ternyata Witma berpikir kalau Reka datang hanya untuk mengejeknya ketika ia melihat Reka menggendong Lire.
"Mas, cukup sudah. Aku sadar diri kalau aku hanya wanita mandul yang tidak bisa memiliki anak jadi, tidak perlu mas datang jauh-jauh kesini hanya untuk memamerkan bayi kalian." Bibir Witma bergetar saat mengatakan itu. sungguh hatinya kembali sakit ketika ia menatap netra Reka yang terlihat begitu sendu.
"Tidak Witma, aku datang kesini hanya untuk meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan. Ternyata aku selama ini keliru." Reka semakin mendekati Witma.
__ADS_1
"Stop! Jangan mendekat mas, kamu pulang saja bawa bayi kalian. Dan jangan pernah ganggu aku lagi." Badan Witma mulai gemetaran karena bayang-bayang Reka yang dulu sering memulainya kembali teringat. "Aku mohon, mas lebih baik pergi." Witma mundur sesaat setelah mengatakan itu.
"Witma aku datang kesini dengan baik-baik aku cuma mau menitipkan bayi ini, yang ternyata bukan darah dagingku." Pada saat itu juga Reka mulai menjelaskan Witma tentang apa yang telah terjadi, dimana ia hanya dijadikan pemeran pengganti ayah untuk Lire.
"Sekali lagi maaf mas, aku sudah tidak memiliki hak untuk tahu semuanya mengingat kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." Witma sengaja mengatakan itu supaya Reka sadar kalau dirinya bukan wanitanya lagi.
"Kasihilah bayi yang tidak berdosa ini Witma kalau aku, kamu boleh membenciku." Reka memberikan Lire kepada Witma dimana bayi itu sudah kembali menangis. "Kali ini saja Witma tolong aku, Lisa kabur entah pergi kemana dan meninggalkan bayi ini." Reka berbohong berharap Witma merasa iba.
Witma yang kasihan melihat bayi itu akhirnya menurunkan egonya, tangannya perlahan terulur untuk mengambil Lire yang menangis. "Hanya demi bayi ini," kata Witma dengan wajah datarnya.
*
*
"Bayi ini memang cantik Tami, dan namanya Lire tapi sayang dia tidak bisa melihat," jawab Witma.
Tami terkejut saat mendengarnya. "Jadi, Lire buta begitu maksud kakak?" Tami yang anaknya mudah penasaran bin kepo langsung bertanya lagi.
Witma kali ini menjawab Tami dengan anggukan kecil, detik itu juga air matanya menetes karena ia merasa kasihan dan iba melihat Lire. "Bayi ini tidak bersalah, yang salah itu kedua orang tuanya gara-gara mereka aku jadi bercerai dengan mas Reka." Ia membatin.
__ADS_1
Tami menunduk karena ia ingin memperhatikan wajah Lire dengan intens. "Tidak mirip dengan kak Reka, apalagi Lisa. Tapi tunggu dulu kenapa aku melihatnya seperti seseorang namun siapa ya? Perasaanku wajahnya tidak begitu asing." Tami terlihat sedang berusaha mengingat-mengingatnya.
"Sudah, bayi ini mirip dengan siapapun tidak masalah. Asal besok kalau ia besar tidak mengikuti jejak Lisa." Mulut Witma terasa berat saat menyebut nama wanita yang telah merusak rumah tangganya. "Kamu lebih baik tidur, bukankah besok pagi kamu masuk sekolah?"
"Nggak, Tami masuknya hari Selasa. Karena besok tanggal merah." Tami menimpali Witma. "Sekarang biarkan Tami menemani Kakak disini untuk menjaga Li—"
Tiba-tiba suara gedoran pintu membuat kalimat Tami terputus, saat itu juga Lire hampir saja terjatuh dari gendongan Witma untung saja Tami dengan cepat menangkap tubuh bayi itu. "Kak Witma, tenangkan diri Kakak, itu mungkin tetangga kita." Tami berusaha menenangkan Witma yang kini mulai terlihat ketakutan. "Tidak apa-apa Kak, Kakak duduk dulu." Tami menyuruh Witma untuk duduk, ia tahu saat ini sang kakak merasa ketakutan hanya karena mendengar suara gedoran pintu.
"Itu pasti Baron, aku takut Tami." Tubuh Witma gemetaran disertai keringat yang mulai merembes keluar dari sela-sela telapak tangannya. "Jangan dibuka Tami!" Ia melarang Tami membuka pintu.
"Kak tenangkan diri Kakak, diluar suara orang banyak tidak mungkin itu Baron." Tami berjalan membuka pintu, karena ia ingin membuktikan kepada Witma. Namun, saat Tami membuka pintu ia ternyata malah melihat Lisa sudah berdiri di depan pintu dengan beberapa warga.
"Ini mereka berdua yang telah menculik bayi saya bapak-bapak!" ujar Lisa dengan suara lantang. Ia kemudian langsung merebut Lire dari tangan Tami. "Usir saja mereka dari sini."
Tami yang kesal karena dituduh penculik menampar pipi Lisa. Plak … . "Jangan menuduh tanpa bukti, jangan percaya bapak-bapak bayi ini dititip sama suaminya sendiri karena dia." Tami menunjuk wajah Lisa. "Wanita tidak benar, meninggalkan bayinya demi kesenangannya sendiri."
Lisa yang memang pandai memerankan semua karakter. Dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. "Pembohong, saya pergi bekerja dan pulang-pulang tidak menemukan bayi saya dan kata suami saya bayi kami tiba-tiba menghilang. Tapi untung saja ada cctv maka dari itu kami tahu penculiknya," ucap Lisa panjang lebar berbohong. "Pokoknya bapak-bapak usir saja dua wanita ini bila perlu seret kekantor polisi," sambungnya lagi.
"Ini semua tidak benar, dia teleh berbohong!" pekik Tami.
__ADS_1