
Hari berlalu begitu cepat tidak terasa hari dimana Witma akan memikah dengan laki-laki yang tidak ia kenal itu tinggal beberapa hari lagi.
🍃🍃
"Udah ada jawaban dari bos via telpon?" tanya Dina saat sedang duduk berdua dengan Witma di taman samping cafe waktu jam istirahat.
Iya, ternyata Witma kembali lagi bekerja di cafe setalah ia berpikir kalau memang benar mencari pekerjaan tidaklah gampang. "Alhamdulillah, udah barusan mendapat balasan pesan dari beliu bukan dari via telpon," jawabnya tersenyum. Akan tetapi di dalam benaknya saat ini ia merasa was-was karena telah membohongi Dina tentang dirinya yang cuti kerja gara-gara ingin liburan sekali saja ke Bali tempat rumah sang kakak berada.
"Pasti aku akan kangen sama kamu Wit, kalau begini ceritanya." Dina sedikit terlihat bersedih karena ia merasa baru saja senang Witma masuk kerja satu bulan setengah sekarang harus kembali lagi berpisah karena cuti. "Kalau pulang nanti jangan lupa kabarin aku," sambungnya.
Witma beberapa kali menepuk pundak Dina. "Aku hanya pergi satu Minggu Dina, tidak pergi untuk selamanya," ucapnya supaya Dina tidak terlalu berlebihan dalam hal ini. "Dan juga pasti orang pertama yang aku hubungi itu kamu ketika aku pulang liburan nanti. Jadi, kamu tenang saja." Ia sebenarnya ingin berterus terang kepada Dina akan tetapi, mengingat kata sang kakak harus merahasiakan ini dulu dari siapa pun maka ia harus menuruti itu semua. Ini juga demi dirinya sendiri supaya acara nanti berjalan dengan lancar tanpa ada halangan.
__ADS_1
Mengingat Reka ternyata kerap kali menelpon Furqon meminta persetujuan untuk rujuk dengannya, namun sang kakak tidak pernah menjawab keputusannya karena Furqon tahu laki-laki yang sering kali main tangan tidak akan pernah mau berubah sampai kapan pun karena itu semua sudah jati diri Reka yang pemarah juga kasar.
"Ada berita heboh juga," kata Dina tiba-tiba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Berita apa? Dan kenapa raut wajahmu langsung berubah?" tanya Witma yang penasaran dengan berita yang di makdud Dina di tambah ekspresinya juga jadi berbah yang tadi sedikit murung kini bertambah murung lagi.
"Bos kita katanya mau keluar Negeri untuk beberapa hari juga, aku sedih karena tidak akan bisa melihat dia datang kesini meski itu 3 kali dalam seminggu," jawab Dina dengan suara pelan takut ada pelayan lain yang mendengarnya. "Andai saja aku mempunyai nyali yang cukup besar, pasti aku sudah mengungkapkan isi hati ini kepada bos kita," lanjutnya yang malah curhat kepada Witma.
"Ya Tuhan, kemena saja kamu Wit, selama ini sampai nama bos sendiri tidak tahu?" Dina menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran. "Bisa-bisanya kamu tidak tahu nama bos kita yang gantengnya kelewatan itu, sampai-sampai aku dibuat kelepek-kelepek oleh ketampanannya itu." Ia memuji bosnya di depan Witma secara terang-terangan.
"Tinggal jawab saja Din, supaya aku tidak penasaran." Witma mencolek lengan Dina.
__ADS_1
Dina menoleh sedikit. "Namanya saja sangat cakep persis orangnya. Sini aku bisikin kamu supaya tidak ada yang mendengarnya karena ini rahasia kita berdua." Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Witma. "Sudah siap mendengar nama calon imamku?"
"Dina, aku cuma menanyakan nama bos kita, kamu kenapa malah main bisik-bisikan segala dan juga kanapa harus ada kata rahasia segala?" Witma merasa Dina benar-benar orang yang kocok nama bos mereka segala pakai acara begini.
"Sorry, sorry … aku cuma bercanda. Nama bos kita Ara—"
"Ada yang mencari kamu Wit," ucap salah satu pelayan cafe teman mereka bekerja memotong kalimat Dina. "Jangan tanya aku tentang siapa yang memcari kamu itu karena aku tidak tahu," sambungnya karena ia tahu Witma selalu bertanya begitu jika ada yang mencarinya.
"Belum saja aku buka suara, kamu sudah berpikiran begitu saja," balas Witma menimpali sebelum ia berdiri dari duduknya untuk menghampiri orang yang mencarinya itu. "Ayo Din, temani aku menemui siapa yang mencari aku itu." Ia malah mengajak Dina untuk menemaninya.
......................
__ADS_1