
Di dalam mobil Witma tidak henti-hentinya menangis karena ia merasa kenapa hidupnya terus saja begini dimana ia selalu saja merasa menderita. "Ya Allah, kenapa jadi begini? Apa hamba sangat tidak pantas merasa bahagia?" Witma bertanya-tanya di dalam benaknya. "Ibu, kenapa setelah kepergian Ibu hidupku menjadi begini?" lanjutnya lagi bertanya.
Arash yang melihat Witma dari kaca mobilnya merasa sangat kasihan ia semakin membulatkan tekatnya untuk segera meminang Witma. "Sudahlah jangan menangis lagi Witma, itu semua tidak ada gunanya lebih baik kamu pikirkan saja hal yang bisa membuat kamu tidak sakit." Akhirnya setelah lama diam Arash membuka suara. "Dan tidak usah khawatir tentang tempat tinggal, kalian boleh tinggal di rumahku untuk sementara waktu." Arash saat ini memang tulus mau menolong Witma tanpa ada udang di balik batu.
Witma mengangkat wajahnya yang tadi menunduk saat mendengar perkataan Arash. Dengan air mata yang masih bercucuran ia memberanikan diri membalas kalimat Arash yang menurutkan nanti akan menimbulkan fitnah. "Tidak usah kak, aku dan Tami bisa cari kontrakan. Sekarang turunkan saja kamu di … ."
Tami menarik ujung jilbab Witma. "Kak kita saat ini sudah tidak punya uang, bagimana bisa kita cari kontrakan," bisik Tami pelan, karena ia takut Arash akan mendengarnya. "Kita terima saja tawaran kak Arash untuk kali ini saja, karena aku tidak mau tidur di pinggir jalan seperti mereka," sambungnya lagi sambil menunjuk deretan orang-orang yang kurang beruntung memiliki tempat tinggal.
__ADS_1
"Tidak Tami, Kakak akan berusaha mencari kontrakan yang muruh-murah. InsyaAllah uang Kakak cu—"
"Uang Kakak saat ini pas-pasan hanya cukup untuk kita makan satu kali sehari," potong Tami yang tahu jumlah sisa uang Witma setelah membayar kontrakan yang tadi. "Saat ini kita hanya perlu menerima bantuan kak Arash, karena saat ini hanya dia satu-satunya yang kita harapkan." Masih dengan berbisik Tami mengatakan itu berharap Witma mau memdengarkannya.
"Kak Arash tolong hentikan mobil kakak, kami turun disini saja," ucap Witma yang ternyata tidak goyah sama sekali dengan pendiriannya, meskipun Tami sudah mengatkan kalimat yang panjang lebar dari tadi. "Kak Arash, henti—"
"Ayo Tami kita turun," ajak Witma yang merasa Arash menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
"Iya, Tam ajak Witma masuk kamu sudah tahukan ini dimana?" Arash membuka sabuk pengamannya. "Dirumah ini tidak ada sipa-siapa jadi, kalian berdua tidak usah khawatir dan takut disini juga di jamin aman."
Deg, perasan Witma langsung tidak enak saat mendengar Arash. Dan ketika ia menoleh ke samping ia bisa melihat dengan jelas sebuah rumah yang tidak terlalu mewah dan seperinya rumah itu baru saja jadi.
"Ini rumah kak Arash, sekarang Kak Witma boleh turun." Tami melukis senyum di bibirnya. "Untuk sementara seperti kata kak Arash." Ia kemudian membuka pintu mobil.
"Turunlah, aku tidak akan tinggal disini bersama kalian. Jadi, kamu tidak usah takut para warga akan salah paham." Arash masih saja terus berusaha membuat Witma yakin supaya mau tinggal di rumahnya. "Mama dan Papa juga sedang berlibur di negara A tidak lupa juga Kak Alma ikut bersama mereka." Arash yang tahu saat ini Witma pasti takut tinggal dirumahnya, maka dari itu ia mengatakan itu semua.
__ADS_1