
"Anggap saja seperti rumah sendiri dan jangan malu-malu untuk masak apa saja yang ada di dalam kulkas," ucap Arash memberitahu Witma. Sedangkan Tami saat ini sudah masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya. "Pokoknya kamu jangan memikirkan hal yang tidak akan mungkin terjadi, masuk dan beristirahatlah kamu juga boleh memilih kamar yang mana saja seperti kataku yang tadi dimana kamu anggap sendiri seperti rumahmu."
Entah terbuat dari apa hati Arash sehingga ia memperlakukan Witma sebaik ini padahal Witma sudah hampir membuatnya b*nuh diri waktu itu gara-gara ia ditinggal menikah. "Jangan kebanyakan mikir, masuk dan langsung tidur ini sudah hampir jam 10 malam." Arash meraih sesuatu dari sakunya. "Ini kunci motor metik, kamu boleh memakainya untuk mengantar Tami sekolah karena sekolahnya jauh dari sini maka kamu tidak perlu menolaknya dan satu lagi kamu boleh memakainya untuk pergi bekerja." Ia lalu meraih tangan Witma dan meletakkan kunci itu langsung. "Aku pulang ke rumah Mama dulu. Assalamualaikum," pamitnya. Karena ia tahu Witma pasti akan menolak kunci itu juga. Maka dari itu sebelum Witma mengatakannya ia memilih lebih baik pergi saja dari saja.
"Kak Arash, tunggu …," kata Witma, sehingga membuat Arash menghentikan langkahnya. "Terima kasih atas semuanya aku akan membalas semua kebaikan kakak ini." Witma ternyata hanya mengucapkan terima kasih. "Hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Ia yang tahu kebiasaan Arash makanya berkata begitu. "Kak Arash boleh pergi. Wa'alaikumussalam," lanjutnya lagi menjawab salam Arasah yang tadi.
Arash yang mendengar itu semua merasa hatinya saat ini sedang di taburi bunga-bunga sehingga seulas senyum tipis terbit di bibirnya, ia merasa kalau Witma masih seperti dulu dimana selalu saja mengkhawatirkan dirinya. Ia lalu menjawab Witma dengan anggukan kecil setelah itu pergi membawa bunga yang tumbuh subur di dalam hatinya setelah lama layu dan hampir saja mati.
Witma memengag d*d*nya, entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang di saat ia mengatakan itu tadi. "Apakah rasa yang dulu akan kembali hadir? Kenapa baru sekarang aku menyadari kalau kak Arash laki-laki baik yang selama ini aku khianati demi mas Reka?" Witma membatin tatkala mobil Arash sudah pergi. "Astagfirullah, ngomong apa aku." Witma menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya sambil terus beristighfar. Ia juga langsung melangkahkan kakinya untuk masuk menyusul Tami.
*
"Kak Arash sangat baik sama kita," kata Tami saat melihat Witma akan masuk ke dalam kamar yang akan mereka tempati untuk tidur.
"Semoga Allah senang tiasa membalas kebaikannya." Witma menimpali Tami karena saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikan Arash selain menyerahkannya kepada Sang pemilik jiwa dan raga yang Maha kaya, Maha mengetahui segelanya. Maka dari itu ia hanya bisa mendoakan Arash dengan hal yang baik-baik saja. "Semoga juga, kak Arash dengan cepat di pertemukan dengan wanita yang soleh sholeha, yang mengerti agama sama seperti dirinya." Sesaat setelah mengatakan itu entah mengapa hatinya tiba-tiba saja merasa sesak.
Tami yang dari tadi memperhatikan Witma merasa sang kakak sepertinya terlihat berbeda saat mengatakan itu semua. "Hm … apa Kak Witma masih menaruh sedikit rasa untuk kak Arash?" tanya Tami dengan sedikit takut-takut karena ia merasa Witma sepertinya juga memiliki rasa seperti Arash yang masih mencintai sang kakak sampai detik ini.
__ADS_1
"Entahlah Tami, Kakak sendiri masih bingung karena hati ini kenapa menjadi bisa terbagi lagi menjadi begini. Di satu sisi ada nama mas Reka yang masih terukir dan di sisi lain ada nama kak Arash." Tentu saja Witma menjawab di dalam benaknya. Karena tidak mungkin ia mengarakan itu semua kepada Tami.
"Kak Waitma," panggil Tami saat melihat Witma hanya diam saja. "Maaf aku sudah bertanya lancang seperti tadi." Tami merasa bersalah karena telah menanyakan prihal tadi.
"Kita tidur saja Tam, maaf Kakak tidak bisa menjawab pertanyaanmu yang tadi," balas Witma memjawab sang adik.
*
*
Pagi harinya saat Tami akan berangkat sekolah ia malah mendengar suara Witma yang sedang muntah-muntah di kamar mandi. "Itu seperti suara Kak Witma, apa jangan-jangan Kak Witma sakit?" Tami terlihak panik karena ia tahu jika Witma sakit pasti dirinya otomatis tidak bisa pergi sekolah. "Ya Allah, semoga saja Kak Witma baik-baik saja." Ia pun bergegas menghampiri Witma ke salah satu kamar mandi yang ada di dekat dapur dengan cara berlari saking takutnya tarjadi hal yang tidak di inginkan kepada Witma.
Witma hanya menjawab dengan menggeleng karena saat ini ia merasa sangat lemas seolah tidak memiliki tenaga.
"Kita kerumah sakit sekarang, tapi sipa yang akan membawa motornya?" Tami sekarang kebingungan. "Kak Dina, tapi kata kak Arash tidak ada yang boleh tahu tentang rumahnya. Jadi, aku harus melakukan apa?" Tami bukannya menolong Witma ia malah mondar mandir sambil menggigit kukunya.
Hingga tidak berselang lama terdengar suara Arash. "Witma, Ya Allah, kamu kenapa?" Ia tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Tami entah kapan ia datang. Ia juga terlihat tidak kalah paniknya di bandigkan dengan Tami. "Ayo kita bawa kerumah sa—"
__ADS_1
"Tidak usah kak, aku hanya masuk angin." Witma memotong perkataan Arash. "Sepertinya dengan cara beristirahat sebentar saja aku akan kembali sehat seperti sedia kala," lanjutnya lagi
"Tidak bisa, Tami tolong bantu aku untuk membawanya masuk kedalam mobil." Arash ternyata tidak menuruti permintaan Witma. "Ayo Tami! Sebelum sesuatu yang kita takutkan terjadi kepada Witma." Arash dengan lincah sudah berdiri di depan Witma ia berniat ingin menggendongnya. Namun, Witma dengan cepat menahan tangannya. "Jangan keras kepala Witma, aku tidak mau terjadi sesutatu dengamu."
"Aku hanya masuk angin, kak jangan berlebihan begitu." Witma sedikit mendorong dada Arash supaya mundur sedikit agar ia bisa berjalan keluar dari kamar mandi.
Arash menghela nafas. "Ternyata sifatmu masih seperti dulu Witma." Ia merasa sedikit kecewa dengan Witma yang bertingkah seperti ini. Niatnya yang baik tapi malah mendapatkan perlakukan Witma yang begini.
"Kak, apa kata ak Arash tadi benar kita harus keru—"
"Jangan merepotkan kak Arash lagi Tam! Sudah cukup dia membantu kita dengan cara memberikan kita tumpangan untuk kita tinggal sementara!" Witma tiba-tiba saja membentak Tami meski keadaannya saat ini sedang sakit.
(Hai kakak-kakak jangan lupa mampir ke karya temanku ya, ini ceritanya nggak kalah serunya kok😊).
Judul: BELLA'S SCRIPT
Author/Napen: naya_handa
__ADS_1
Ada disini👇