
"Kak tolong dengarkan penjelasanku dulu," kata Arash sambil menyembunyikan Witma di belakangnya.
Karena Alma ingin menjambak rambut Witma saking kesal dan marahnya saat mengetahui sang adik berduaan dan bermesraan dengan Witma.
"Apa yang ingin kamu jelaskan Arash, kamu ingin menjelaskan tentang kamu yang sudah ber zi na dengan janda gatel ini!" Alma menunjuk Witma meskipun Witma masih tetap bersembunyi di belakang Arash. "Kamu berkedok sebagai laki-laki yang paham agama, tapi ternyata kelakuanmu di belakang begini ber zi na dengan seorang janda!" Terlihat jelas di raut wajah Alma, wanita yang hamil baru 6 Bulan itu begitu marah sehingga wajahnya yang putih bersih menjadi memerah. "Kamu ternyata munafik Arash!" Detik itu juga pecah sudah suara tangisnya ketika ia merasa bahwa Arash sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
"Ibadahmu ternyata selama ini tidak berguna Arash, ibadahmu juga menjadi sia-sia karena kelakuanmu seperti ini." Alma membiarkan air matanya jatuh, karena saat ini ia benar-benar tidak menyangka seorang Arash melakukan ini semua. "Kakak benar-benar kecewa kepadamu Arash hanya demi wanita je la ng ini, kamu tega merusak harga dirimu." Dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak ketika ia melihat Arash yang selalu ia banggakan menjadi begini.
"Kak, ini salah paham Witma ini sudah sah menjadi istriku!" tegas Arash yang tidak terima ketika istrinya dikatakan je la ng oleh kakaknya sendiri. "Coba, Kakak dengarkan semua penjelasan aku dulu supaya Kakak tidak mengambil kesimpulan sendiri." Ia berusaha bersifat tenang dalam menghadapi kakaknya yang sedang hamil.
"Istri katamu Arash, coba jelaskan juga sejak kapan kalian berstatus menjadi suami istri?" Alma bertanya dengan suaranya yang serak karena ia saat ini sedang menangis. "Apa salah Papa dan Mama hamba Ya Allah? Sehingga Engkau membuat Adik hamba menjadi orang yang tidak takut dengan dosa seperti ini."
"Cukup!" Ini yang pertama kalinya Arash berani membentak kakaknya. "Ini, Kakak lihat dengan baik-baik." Ia menunjukkan jarinya dan juga jari Witma yang sama-sama menggunakan cincin yang sama persis. "Ini cincin pernikahan kami, apa setelah melihat ini Kakak masih tega menuduhku dengan istriku melakukan hal yang bukan-bukan?" Ia merasakan tubuh Witma berguncang kuat di belakangnya saat ia bertanya begitu. "Kami sudah menikah dan pernikahan kami sudah sah secara agama dan negara. Jadi, tolong Kakak berhenti untuk mengatakan aku berbuat dosa dengan cara ber zi na." Ia kemudian membawa Witma pergi dari sana setelah mengatakan itu, karena ia takut kejadian yang tadi malam terjadi lagi dimana trauma Witma kambuh.
Alma membeku membiarkan Arash pergi begitu saja tanpa mencegahnya sedikitpun, karena ia saat ini sedang sibuk dengan isi pikirannya sendiri.
__ADS_1
***
Setelah beberapa menit akhirnya Arash keluar lagi menemui sang kakak yang masih saja menangis dan di tangannya membawa segelas air. "Minum dulu Kak, supaya amarah di hati Kakak menjadi sedikit berkurang," ujar Arash yang menyodorkan segelas air ke atas meja.
"Tidak perlu Arash, Kakak tidak haus!" ketus Alma sambil mengelap sisa lelehan air matanya menggunakan jari telunjuknya.
"Ini buku nikah kami kalau Kakak masih tidak percaya," kata Arash yang menyerahkan dua buku nikah ke Alma.
Alma tidak mau mengambil ataupun sekedar melihat buku nikah yang Arash serahkan kepada dirinya untuk ia lihat. "Itu juga tidak perlu! Kamu simpan saja Arash seperti kamu menyimpan janda gatal itu!" Lagi-lagi Alma berkata ketus kepada Arash. "Apa yang akan Mama dan Papa katakan ketika mereka tahu putra kesayangan mereka ini menikah secara diam-diam dengan Witma, seorang janda yang diceraikan karena mandul," katanya yang kemudian terdengar suara tawanya terkekeh-kekeh kecil sepertinya saat ini ia sedang mencemooh Arash yang menikah dengan Witma.
"Astagfirullahaladzim, bisa-bisanya Kakak beranggapan begitu," sahut Arash menimpali Alma. Ia tidak habis pikir kenapa kakaknya sampai berpikiran buruk begitu tentang istrinya. "Bukankah Kakak sudah tahu sendiri bagaimana rasa cintaku ini terhadap Witma, lalu kenapa Kakak sekarang malah menuduh Witma yang menggunakan pelet untuk memikatku?" Ia beberapa kali beristigfar supaya ia tidak terpancing dengan kata-kata sang kakak. "Ingat Kak, menuduh tanpa bukti sama artinya dengan memfitnah dan Kakak juga sudah tahu fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," katanya yang kemudian membacakan sang kakak 'QS. Al-Baqarah Ayat 191.'
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِۚ فَاِنْ قٰتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْۗ كَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ
191. "Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir."
__ADS_1
(Sumber : Google).
"Ini bukan fitnah Arash, ini kenyataan makanya kamu berani menikah diam-diam di belakang dengan dia!" Alma rupanya masih tetap teguh dengan pendiriannya yang mengira Witma menggunakan pelet untuk mendapatkan adiknya Arash, meski tadi ia sudah dibacakan surah Al-Baqarah Ayat 191. "Pokoknya kamu harus di ruqyah Arash, biar kamu kembali ke jalan yang benar tidak melenceng seperti ini."
Arash menggeleng-geleng sambil terus mengucapkan istigfar di dalam benaknya. "Kak, saat ini Kakak sedang hamil jadi, jaga sedikit ucapan Kakak karena aku takut semua kalimat yang Kakak lontarkan ini akan kembali pada diri Kakak sendiri." Arash mencoba mengingatkan sang kakak. "Dan aku minta Kakak jangan memberitahu Mama dan Papa dulu tentang masalah ini, karena aku takut penyakit jantung Papa akan kumat begitupun penyakit asma Mama kemungkinan besar akan kambuh juga jika mendengar ini semua, pasti Kakak tidak ingin ini semua terjadi 'kan maka dari itu cukup hanya kita berdua saja yang tahu kalau Witma sekarang istriku," katanya panjang lebar.
Alma terdiam sambil mengelus perutnya memikirkan perkataan Arash yang ada benarnya juga.
"Bagaimana, apa Kakak setuju?"
Alma menghela nafas panjang sebelum menghembuskannya dengan kasar. "Baiklah, tapi sampai kapan kamu akan menyembunyikan ini semua dari mereka?"
Arash bernafas lega mendengar jawaban kakaknya tidak berselang lama ia kemudian berkata, "Secepatnya Kak, aku pasti akan memberitahu Mama dan Papa. Doakan saja supaya istriku cepat hamil."
Alma melotot mendengarnya. "Apa!" Ia begitu kaget. "kamu mau menunggu si Witma itu hamil baru akan memberitahu mereka? Jangan ngaco kamu Arash, Witma itu mandul dan juga sebentar lagi kamu akan dijodohkan dengan anak temannya Papa."
__ADS_1