Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Semakin Merasa Bersalah dan Menyesal


__ADS_3

"Bagaimana Witma apa kamu tidak keberatan dengan apa yang telah disampaikan Kak Furqon?" tanya Fatimah dari seberang telpon saat melihat Witma duduk di sebelah Arash yang sedang menyetir.


Witma sempat melirik Arash sebelum menjawab pertanyaan kakak iparnya itu. Karena ia merasa tidak enak membahas ini lagi di saat ia sedang berduaan begini di dalam mobil apalagi posisi Arash sedang mengemudi jadi, ia takut kalau konsentrasi Arash terganggu melihat ekspresi raut wajahnya sedikit murung setelah tadi mereka berdua membahas masalah dirinya yang dilamar oleh laki-laki yang dianggap misterius karena belum tahu identitasnya.


"Kak, nanti saja kalau aku sudah sampai di rumah baru bahas masalah ini lagi. Karena saat ini aku merasa sangat ngantuk." Akhirnya hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Witma. "Mungkin ini juga salah satu efek obat yang tadi aku minum, jadi nggak apa-apa kan, kalau aku tutup dulu telponnya nanti kita sambung lagi." Ia saat ini benar-benar merasa tidak enak hati tatkala Arash sama sekali tidak ikut merespon atau sekedar menyahut ucapan Fatimah.


Padahal ia tahu Arash akan selalu saja ikut menimpali apapun yang ia bahas dengan Fatimah namun kali ini Arash hanya diam saja itu yang semakin membuatnya merasa tidak enak hati. Mengingat juga kalau Arash selama ini sudah terlalu banyak membantunya mulai dari tempat tinggal hingga semua biaya rumah sakit pun di tanggung semua olehnya.


"Baiklah Witma, tadinya kakak hanya mau memastikan," kata Fatimah ketika melihat Witma yang selalu saja menoleh ke arah samping.


"Memastikan apa, kak?"


"Hm, apakah kamu setuju atau malah menolak lamaran laki-laki itu? Karena kakak takut kak Furqonmu telah keliru dalam memilihnya." Fatimah memang benar kalau ia sedikit takut dengan keputusan sang suami. "Tapi ya sudah, nanti kita bahas lagi ini. Assalamualaikum," ucapnya berpamitan mau menutup telponnya.


"Waalaikumsalam, salam buat kak Furqon dan dua keponakanku kak Fatimah," balas Witma sebelum menekan tombol merah.


Sesaat setelah sambungan itu berakhir. Tidak terdengar suara apa-apa lagi hanya ada keheningan di dalam mobil itu.


Sehingga tiba-tiba saja mendadak Witma jadi merasa canggung karena Arash sama sekali tidak mengatakan apapun saat tadi Fatimah berpamitan dan mengucapkan salam.


"Sepertinya Kak Arash benar-benar merasa kecewa atas apa yang menjadi keputusan Kak Furqon," gumamnya membatin.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah.


"Kamu masuk saja duluan, aku mau menjemput Tami dulu kasihan kalau dia sampai jalan kaki lagi seperti kemarin," kata Arash membuka suara setelah lama terdiam.


"Kenapa tadi nggak sekalian aja kak?"


Arash turun dari dalam mobil, lalu segera membuka pintu buat Witma sambil menjawab, "Kamu butuh istirahat yang banyak Witma, maka dari itu aku mengantarmu pulang dulu mengingat kamu baru saja pulih." Ia benar-benar laki-laki yang sangat mengkhawatirkan kesehatan Witma untuk saat ini. "Masuk dan langsung rebahan, jangan mengerjakan hal apapun karena nanti agak soren dikit ART yang bertugas membersihkan rumah ini akan datang," lanjutnya lagi. Rupanya ia tahu kalau Witma bukan cuma capek masalah mental ia juga capek karena raganya terus dipaksa untuk bekerja meskipun itu sekedar beres-beres saja di rumahnya


Witma tertegun ia merasa Arash memang laki-laki yang baik di luar maupun di dalam. "Apa aku telah terlambat menyadari ini semua? Telah menghianati laki-laki sebaik Arash demi mas Reka yang โ€ฆ ah sudahlah, tidak ada lagi yang harus aku sesali," batinnya.


"Malah bengong, masuk gih! Ini cuacanya juga sangat panas aku takut kamu malah pingsan lagi." Dengan cepat Arash melepas jasnya. "Maaf โ€ฆ," ucapnya pelan, sebelum memasangkan jasnya ke kepala Witma. "Bawa sekalian masuk jasku," pintanya kepada Witma. "Kalau begitu aku pergi dulu, nanti Tami malah merasa bosan karena menunggu terlalu lama," sambungnya sebelum ia masuk lagi kedalam mobil.


*


Ketika Witma baru saja akan merebahkan tubuhnya, suara notif masuk ke benda pipihnya itu membuat dirinya mengurungkan niatnya karena ia tahu satu notif pesan masuk itu pasti dari Dina.


Saat ia masih memegang ponselnya tiba-tiba ponselnya berdering tapi ini bukan dari Dina melainkan dari Tami. Tanpa berlama-lama ia mengangkatnya dengan cara menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum, Kak Witma mau pesan apa sebagai oleh-oleh mumpung Tami masih di warung langganan kita dulu itu," ucap Tami langsung tanpa di rem. "Jawab buruan, karena kak Arash sudah menunggu di dalam mobil terlalu lama," lanjutnya lagi nyerocos tanpa mau memberikan Witma ruang untuk menjawab.


"Dikarenakan sistem di Noveltoon sudah berubah, saya mohon selaku Author yang mendapatkan pendapatan hanya dari komen dan Like, saya berharap para pembaca memberikan saya dukungan dengan cara Like dan Komen. Saya tidak minta hadiah maupun Vote itu saja sudah cukup bagi saya ๐Ÿ™๐Ÿ™"


......................

__ADS_1


Sembari menunggu si Witma Up ayo kakak-kakak jangan lupa mampir ke karya temanku ya, di jamin tidak kalah serunya kok.


Ada di bawah sini๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡


Dengan judul: Gamon ( Gagal Move On )


Author: Navizaa



Blurb


Farel Stuart Alfredo harus merelakan wanita yang dicintainya secara diam-diam yaitu Salmafina bertunangan dengan kekasihnya.


Nada Maura Hermawan juga baru saja patah hati diputuskan oleh pria yang dipacarinya selama Lima tahun.


Keduanya bertemu di pesta pertunangan Salma dan berakhir di atas ranjang dengan sama-sama tidak menggunakan pakaian.


Sebulan kemudian Nada hamil dan Farel yang mengetahui hal itu langsung berinisiatif untuk bertanggung jawab.


"Ayo kita nikah, aku akan bertanggung jawab!" ucap Farel.


Nada masih tidak percaya jika dirinya hamil oleh pria asing yang baru ditemuinya dipesta sahabat baiknya itu.

__ADS_1


Akankah Nada dan Farel bisa mempertahankan pernikahan mereka yang begitu tiba-tiba karena adanya anak di antara mereka, padahal keduanya sama-sama memiliki cinta lain yang sulit dilupakan.


Apakah cinta akan hadir, ataukah mereka memilih berpisah setelah Nada melahirkan?


__ADS_2