
Ternyata Arash tidak mudah ditipu ia rupanya tidak mau percaya dengan Alma. "Sampaikan saja salamku kepada Mama bahwa aku tidak akan datang ke rumah sakit. Karena aku tidak mau dijebak untuk yang kedua kalinya," kata Arash yang tahu jika Rose memiliki niat lain. "Kakak pulang saja, dan Kakak juga boleh memberitahu kepada Mama, Papa kalau aku sudah menikah dengan Witma." Ia yang tidak mau menyembunyikan apa-apa lagi dengan lantang berbicara begitu kepada Alma. "Aku juga lebih memilih Witma dibandingkan dengan harta yang Papa janjikan waktu itu."
Ternyata Andri pernah berjanji untuk memberikan harta kepada kedua anaknya.
"Tapi karena aku menentang keinginan Papa maka otomatis harta itu semua untuk Kak Alma, demi apapun aku tidak keberatan karena yang terpenting bagiku hidup dengan wanita pilihanmu itu sudah dari cukup, harta bisa dicari belakangan sedangkan wanita yang berhati tulus seperti Witma sangatlah langka. Maka dari itu aku tegaskan sekali lagi aku lebih memilih Witma dibandingkan harta." Arash tanpa ragu-ragu mengatakan itu semua sehingga membuat Alma melongo tidak percaya. "Sekarang Kakak boleh pergi dari sini karena cafe ini hasil jerih payahku sendiri jadi, Papa tidak memiliki hak untuk mengambilnya dariku."
"Kamu sudah keterlaluan Arash!" Alma memekik dan hampir saja menamp*r adiknya. "Memilih wanita je la ng itu dibandingkan dengan keluarga kamu sendiri! Oke mulai sekarang kamu bukan bagian dari keluarga kami lagi!" Suara Alma menggema di ruangan itu sehingga beberapa pelayan dapat mendengar perdebatan mereka. "Kau bukan Adikku lagi!" lanjutnya lagi sebelum ia pergi.
"Bukan aku yang memutuskan tali persaudaraan ini, tapi Kakak sendiri!" seru Arash berharap Alma mendengarnya. "Kalau aku tidak akan pernah memutuskan tali kekeluargaan kita sampai kapanpun, Kakak harus ingat itu!" Ia beberapa kali beristighfar di dalam benaknya beberapa kali karena ia hampir saja hilang kendali.
__ADS_1
"Ya Allah, ampunilah hamba yang telah berbicara lantang kepada Kakak hamba," gumam Arash membatin sambil memegang dadanya.
****
Beberapa bulan kemudian.
Saat Witma akan membalas semua perkataan Arash, tiba-tiba saja perutnya terasa seperti di aduk-aduk. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata ia berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua makanan yang tadi sempat ia telan.
Bukannya panik Arash malah tersenyum sambil berkata, "Alhamdulillah, sebenar lagi Arash junior akan segera hadir." Ia mengatakan itu karena ia yakin tebakannya kali tidak akan melet.
__ADS_1
"Abang …," panggil Witma dengan suara lirih.
"Iya sayang," sahut Arash sambil berjalan untuk menghampiri sang istri.
Akhir dari segalanya ternyata Arash memilih untuk hidup sederhana di rumah minimalis itu. Dan rela meninggalkan keluarganya demi hidup dengan Witma wanita pilihanya.
...****************...
TAMAT
__ADS_1