
Setibanya Arash di rumahnya yang ada di puncak ia malah menemukan Witma sedang berbaring masih dengan menggunakan mukena di atas sofa ruang tamu, ia lalu mengulas senyum tipis entah apa yang saat ini sedang ia pikirkan di dalam otaknya. Ia lalu dengan langkah hati-hati mendekati Witma sambil berkata, "Pantesan dari tadi nggak ada yang menjawab salamku, ternyata orangnya sudah ada di alam bawah sadar." Arash kemudian bermaksud ingin melepaskan mukena yang di kenakan Witma karena ia melihat lelehan keringat membanjiri dahi sang istri.
Padahal di puncak saat ini cuacanya terasa sangat dingin namun Witma malah berkeringat seperti ini sehingga membuat Arash merasa sedikit heran dan pada saat tanganya sudah mulai terulur tiba-tiba saja suara serak Witma terdengar.
"Abang, kapan pulang?" tanya Witma sambil menguap beberapa kali.
Arash tersenyum sambil menjawab, "Baru saja dan kamu kenapa malah tidur di sini?" Arash bertanya karena ia heran melihat Witma yang tidur di atas sofa.
Witma melirik jam di dinding menunjukkan pukul 23.00 ia lalu menjawab pertanyaan Arash. "Aku ketiduran gara-gara nunggu abang yang pulangnya kelamaan." Witma lalu menguap lagi beberapa kali. "Kalau boleh tahu abang emangnya habis dari mana sampai jam segini?" tanyanya yang mau tahu Arash dari mana saja.
__ADS_1
"Rumah Mama, tadi aku disana bantuin Papa mengurus berkas yang sedang bermasalah sedikit." Arash rupanya tidak mau menjawab sang istri dengan jujur. "Ayo tidur di dalam kamar, sepertinya kamu masih ngantuk." Ia mengajak Witma untuk tidur di kamar karena ia merasa suhu dingin di ruang tamu sudah terasa sangat dingin membuat bulu kuduknya berdiri saking dinginnya.
"Mau aku gendong?" pertanyaan konyol keluar begitu saja dari mulut seorang Arash, laki-laki yang lebih banyak diamnya kini berubah menjadi laki-laki yang normal pada umumnya dimana ia merasa sesutu sudah berdiri tegak sempurna di bawah sana tatkala ia tidak sengaja melihat paha Witma yang putih mulus di tambah ingatannya waktu di mana Witma hampir di perk*sa oleh Baron terngiang-ngiang, lekuk tubuh sang istri kembali seperti video rekaman reka adegan ulang di putar di memori otaknya.
Witma yang sadar arah tatapan Arash, ia lalu dengan cepat menutup pahanya yang kelihatan. Ia memang seorang janda tapi melihat tatapan sang suami begini membuatnya merasa malu sendiri. Bukan apa-apa mungkin karena ia belum terbiasa di lihat oleh Arash seperti ini.
Arash yang merasa ingin membuktikan kepada Witma bahwa ia laki-lali normal yang memiliki hawa nafsu seperti laki-laki pada umumnya akhirnya memberanikan diri meminta haknya sebagi seorang suami. "Apa boleh aku meminta hakku sekarang?" Arash dengan malu-malu mengatakan itu kepada Witma. Jujur ia saat ini sudah mau memiliki Witma seutuhnya dengan cara menyatukan dua tubuh menjadi satu. "Kalau kamu belum siap tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang meminta hakmu," ujarnya ketika ia hanya melihat Witma menunduk tidak merespon ucapannya. Karena ia merasa bahwa Witma benar-benar belum siap.
Arash heran kenapa Witma bisa tahu kalau diriinya ada di toko bunga dengan Anja. "Dari mana kamu tahu?" tanya Arash yang penasaran.
__ADS_1
Witma lalu dengan tangan bergetar memperlihatkan Arash layar ponselnya yang menunjukkan Arash sedang berdiri di belakang Anja dengan Arash yang terlihat sedang memeluk Anja.
"Apa dia kekasih abang?" tanya Witma sekali lagi.
......................
Mampir ke raya temanku ya kakak² sembari menunggu Witma up
Judul : Aku Kekasih Suamiku
__ADS_1
Author :Mom Yara