Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Akan Bangkrut


__ADS_3

"Om rupanya enak-enakan pergi liburan bersama istri dan anak om itu," kata Lisa saat melakukan video call dengan Andri. "Sedangkan aku tidak bisa kemana-mana karena sibuk mengurus bayi h*ram om ini!" Ia berbicara ketus saat mengatakan itu semua.


"Jaga mulutmu Lisa! Kamu tidak punya hak untuk mengatakan itu semua mau aku pergi berlibur atau tidak itu sama sekali bukan urusanmu," ucap Andri menimpali Lisa. Ia merasa Lisa semakin kesini semakin berani kepadanya dengan cara melakukan video call begini di saat dia sedang ada di kamar mandi. Padahal posisinya saat ini ada di kamar hotel berduaan dengan istrinya. "Dan berhenti memanggil bayi itu dengan bayi h@ram!" bentak Andri berani berbicara lantang karena saat ini istrinya sedang tidur siang.


"Marah? Dia ini kan, memang bayi h@ram om." Saat berbicara begitu Lisa terlihat seperti sedang mengejek Andri. "Kurang baik apa coba aku? Mau merawat bayi h@ram ini untuk om jadi, om jangan kebanyakan ngegas deh." Ia rupanya sengaja berkata begitu cuma mau melihat Andri kesal.


"Cukup Lisa, bukankah dia sudah kamu beri nama yang begitu indah dan bagus? Jadi, tolong panggilah dia dengan namanya itu." Andri rupanya masih sedikit mempunyai hati nurani makanya ia berkata begitu. Karena ia juga tiba-tiba menjadi merasa kasihan saat melihat Lire yang disorot Lisa sedang tertidur pulas di dalam box bayi. "Kamu sekarang maunya apa? Tidak usah kebanyakan basa basi tutup poin saja."


Lisa bertepuk tangan dengan sangat keras sehingga membuat Lire terkejut dan langsung menangis kejar. "Bagus inilah pertanyaan yang aku tunggu dari tadi." Ia mengabaikan Lire yang menangis semakin kencang begitu saja. "Singkat saja aku mau uang om."


"Kamu benar-benar mata duitan Lisa! Sekarang angkat dan gendong Lire jangan membiarkan bayiku menangis!" seru Andri tapi ia malah di abaikan Lisa.


"Jangan lupa uangku om harus ada ma—

__ADS_1


Reka tiba-tiba saja masuk membuat kalimatnya terputus ia juga langsung memutuskan panggilan Andri.


"Kenapa bayi ini tidak pernah membiarkan


aku tidur siang dengan nyenyak, Lisa?" tanya Reka sambil menguap beberapa kali.


Lisa yang gugup mengangkat Lire. "Maaf mas, Lire sepertinya mau di gendong." Ia menimang-nimang Lire sambil bersenandung kecil. "Udah gih mas tidur lagi, Lire juga udah kembali enteng nih nggak nangis lagi," katanya menyuruh Reka tidur lagi.


Reka semakin mendekati Lisa sambil berbisik, "Aku sedang membutuhkan uang yang banyak, karena sepertinya pabrikmu akan bagkrut." Ia tiba-tiba saja berkata begitu sehingga membuat Lisa hampir saja melupakan Lire dari gendongannya. "Maka sebelum itu terjadi, aku memberitahumu terlebih dahulu kalau aku membutuhkan uang yang jumlahnya tidak sedikit," sambungnya lagi.


"Iya, itu semua uang pabrik yang aku kasih buat ibu bukannya kamu sendiri yang memintanya untuk memberikannya kepadanya?"


"Aku memang meminta mas untuk memberikan ibu tapi kenapa gaji para pekerja juga yang mas berikan!" teriak Lisa tanpa memikirkan Lire. "Kalau begini ceritanya, aku yakin sebentar lagi rumah inipun akan dijual supaya pabrik tidak jadi bangkrut."

__ADS_1


"Terserah kamu saja Lisa, yang terpenting aku sudah memberitahumu. Dan aku malam ini nggak pulang mau menginap saja di rumah Ibu." Setelah mengatakan itu Reka pergi. Tanpa mau berdiskusi terlebih dahulu atas masalah pabrik.


*


*


"Ada masalah apa sih sayang? Cerita dong sama aku," kata Lusi bertanya sambil duduk di p@ha Reka. "Jangan cemberut begini, sini kasih tahu aku saja supaya aku bisa mencari jalan keluarnya."


Reka yang dalam keadaan setengah sadar karena terlalu banyak meminum minuman beralkohol menjadi sedikit rada-rada oleng sehingga jawabannya tidak nyambung. "Aku sebenarnya mau rujuk tapi wanita si@lan itu tidak mau!" Ia tertawa sambil memejamkan mata sesaat setelah mengatakan itu. "B*doh, dia memilih laki-laki itu padahal saat ini aku sudah sukses punya banyak duit apapun yang dia mau pasti akan aku kabulkan dan turuti."


Lusi yang mendengar itu beberapa kali mencubit tangan Reka dengan sangat keras saking kesalnya tapi anehnya Reka sama sekali tidak menipis ataupun sekedar meringis. Padahal tangan Reka sampai berwarna merah kebiru-biruan oleh perbuatannya. "Menikah sama aku, maka hidup mas akan berubah! Ngapain malah mau balikan sama mantan istri atau rujuk itu namanya menj!l@t ludah yang sudah jatuh itu sungguh sangat menjijikan."


..................

__ADS_1



__ADS_2