Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Bertemu di Cafe


__ADS_3

Tiit … tiit … tiit, suara klakson mobil parkir di halaman rumah Witma. "Siapa yang datang? Apa mungkin itu temannya Ibu?" Witma bertanya-tanya di dalam benaknya.


Tok … tok … tok, seorang mengetuk pintu.


"Iya tunggu sebentar," ucap Witma dari dalam. ia lalu berjalan menuju pintu namun setelah membuka pintu, alangkah terkejutnya melihat siapa yang berdiri di depan pintu, seorang pria berumur sekitar 45 tahun namun masih terlihat gagah. yang selama ini Witma hindari karena Witma sangat membencinya. Keduanya mematung masih saling memandang.


"Anda mencari siapa? Ibu saya sedang tidak ada di rumah." Untuk yang pertama kalinya Witma berbicara ketus. Ia lalu ingin kembali menutup pintu tapi pria itu menahannya.


"Witma, aku dengar kamu sudah menjadi janda," kata laki-laki yang bernama Baron itu. "Apa sekarang Abang boleh, melamarmu meskipun kamu janda itu tidak masalah.


Witma tidak mau membalas ucapan Baron ia hanya bisa diam saja. Karena ia tahu bagaimana sifat asli Baron yang ternyata selama ini masih menginginkannya untuk menjadi istri. Gerimis Pun mulai membasahi bumi tapi Witma tampak enggan menyuruh Baron untuk sekedar duduk di kursi rotan yang ada di dekat pintu.


"Witma, Abang janji akan membahagiakan kamu," ucap Baron juragan terkaya di desa yang selama ini tergila-gila dengan Witma.


"Pak Baron, buang keinginan Bapak jauh-jauh. Karena saya tidak tertarik menjadi istri Bapak mau sampai kapanpun itu." Witma sebenarnya takut-takut saat mengatakan itu. "Saya menjadi janda baru beberapa hari, sekarang Bapak datang-datang mau mengajak saya menikah." Witma terlihat tenang meski di dalam benaknya ia berdoa supaya Ratih cepat pulang. "Lebih baik Bapak simpan saja niat baik itu."


"Witma, mau sampai kapan pun Abang akan selalu menunggumu sampai kamu benar-benar siap untuk menjadi istri Abang." Baron ternyata tidak menerima penolakan Witma.


"Bapak lebih baik pulang, saya takut nanti terjadi fitnah. Karena saat ini kita hanya berdua di sini." Witma mengusir Baron secara halus. "Saya mau masak dulu, Assalamualaikum." Witma dengan cepat masuk lalu mengunci pintu tanpa menunggu jawaban Baron.


*


*


Hari berlalu begitu cepat kini sudah dua bulan Witma menjalani status sebagai seorang janda yang tidak memiliki anak. Dan sejak itu juga Witma tidak pernah bertemu lagi dengan Reka.


"Selamat pagi, Bu," ucap Witma menyapa Ratih yang sedang duduk.


Ratih tersenyum karna sekarang Witma sudah kembali ceria meskipun masih sering melamun. "Mau kemana putri Ibu yang cantik ini pagi-pagi sudah rapi begini?" tanyanya.


"Ibu lupa ini kan, hari pertama Witma akan bekerja Bu," jawab Witma.

__ADS_1


"Iya ampun, Ibu ternyata sudah pikun, kalau begitu kamu sarapan dulu baru berangkat." Ratih dengan cepat beranjak. Lalu menggandeng tangan Witma menuntunnya ke dapur.


Seperti biasa Witma akan bertanya tentang apa yang dimasak oleh Ratih. "Ibu masak apa hari ini?"


Ratih menatap Witma lalu ia menjawab, "Ibu masak rendang sapi kesukaan Witma, kalau mau bawa sebagai bekal juga tidak apa-apa," tawar Ratih.


"Tidak usah Bu, hari ini kan, pertama kali Witma bekerja."


Ratih mengangguk tanda mengiyakan Witma.


Beberapa menit setelah selesai sarapan Witma berpamitan untuk berangkat kerja. "Witma berangkat dulu ya Bu," pamitnya. Sambil mencium tangan Ratih. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, kamu hati-hati di jalan." seru Ratih yang melihat Witma sudah pergi.


*


*


Hari sudah menjelang siang, Witma sedang istirahat duduk di taman kecil sebelah cafe. Salah satu dari pelayan cafe itu mendekatinya.


Witma tersenyum sambil mengambil air minum itu. "Terima kasih."


"Kamu pelayan baru di cafe ini, Btw namaku Dina kalau nama kamu siapa?" tanyanya langsung tanpa basa basi.


"Iya, aku pelayan baru disini Dina, dan perkenalkan namaku Witma," jawab Witma ramah.


"Mulai hari ini dan seterusnya kita akan menjadi teman, kamu tidak keberatan kan?" Dina menatap Witma ketika ia bertanya begitu.


Witma berkata, "Aku tidak keberatan," ujarnya dengan senang hati ia menerima Dina sebagai temannya, karena selama ini ia juga tidak memiliki teman. "Oke kita temenan, mulai sekarang," Sambungnya lagi.


*

__ADS_1


Sore menjelang malam tapi Witma masih saja bekerja dan belum bisa pulang karna saat ini pengunjung cafe sedang ramai.


Terlihat mobil mewah berhenti tepat di depan cafe. "Mas kamu gak salah, ini kan cafenya kecil," ujarnya.


"Kalau kamu gak mau turun, diam saja di sini!" jawab Reka ketus.


"Kalau saja aku tak butuh harta dan calon Papa untuk anakku ini aku tak sudi menjadi pengemis cinta begini Reka," gumam Lisa di dalam hatinya. Iya ternyata Lisa tidak jadi keguguran waktu itu.


"Kenapa masih melamun? Ayo turun!" seru Reka.


"Ya, Mas tunggu dulu sebentar." Lisa terlihat kesulitan untuk turun Karena perutnya yang sudah sangat besar.


Reka dan Lisa masuk bersama ke dalam caffe, mereka memilih tempat duduk paling ujung dan tak lama seorang pelayan wanita menghampiri mereka langsung untuk bertanya apa yang mau mereka pesan.


Saat sedang asik memilih menu tanpa sengaja Lisa melihat Witma yang sedang mengantar minuman ke salah satu pengunjung lain. Ia lalu membatin, "Ternyata wanita mandul itu, bekerja di sini sekarang."


Reka tiba-tiba saja berdiri. "Aku mau ke toilet sebentar, kamu tunggu di sini."


"Ya sudah, tapi Mas mau pesan apa dulu?"


"Terserah kamu saja Lisa." Reka sekarang sudah mulai berubah ia tidak seperti dulu yang selalu menyanjung-nyanjung Lisa. Ia juga kini lebih terlihat biasa saja pada Lisa.


"Baiklah." Lisa kemudian memesan beberapa makanan dan minuman. Sambil terus memikirkan bagaimana caranya supaya Witma dipecat dari cafe tersebut. "Ini saja Mbk, tapi saya mau di layani sama yang membawa mapan itu." Nunjuknya ke arah Witma.


"Baik Nyonya, pesanan Anda akan segera di antar." Pelayan itu pergi setelah mengatakan itu.


**


Saat Witma akan mengantar minuman ke salah satu pengunjung cafe ia malah tidak sengaja menabrak seorang. Craang ... gelas yang di bawahnya tumpah mengenai jas pria itu tanpa melihat siapa yang ditabrak Witma dengan cepat memungut pecahan gelas yang pecah itu. "Maaf tuan, saya yang salah karena tidak hati-hati." Witma membungkuk Kemudian ia berlari mengambil tisu tanpa sadar laki-laki yang tadi adalah Reka.


Witma kembali dengan membawa tisu di tangannya yang gemetaran. "Sekali lagi saya minta maaf Tuan." Witma benar-benar merasa bersalah. Saat tangannya akan menyentuh jas Reka yang basah karena tumpahan jus tadi. Suara Reka membuatnya mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Tidak usah, singkirkan tanganmu!" bentak Reka.


Deng .... "Suara itu seperti tidak asing," batin Witma. Ia perlahan menatap siapa laki-laki itu, dan bersuara, "Mas Reka," panggilnya pelan.


__ADS_2