Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Bayi yang Tidak Sempurna


__ADS_3

"Gimana apa Lisa sudah melahirkan?" tanya Endang saat baru datang ke rumah sakit.


"Ibu, Reka tidak menyangka kalau ternyata Ibu dan Lisa bersekongkol untuk membohongiku." Reka berdiri dari duduknya setelah mengatakan itu. "Ternyata aku laki-laki yang memang b*doh!" lanjutnya.


"Kamu kenapa sih, Reka? Ibu sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan." Endang berpura-pura tidak tahu padahal tadi ia sempat dihubungi oleh Lisa dan sudah memberitahu semuanya. "Duduk dulu, kita bicara dari hati ke hati," ucapnya pelan.


"Ibu tidak usah menyembunyikan ini lagi dariku, karena aku sudah tahu semuanya!" Wajah Reka terlihat merah padam. "Katakan! Bayi siapa yang tidak sempurna di dalam itu?!" Nada suara Reka saat bertanya kepada Endang begitu lantang. "Katakan Bu! Bayi itu cacat dan yang pasti itu bukan darah daging Reka!"


Deg, Endang begitu terkejut mendengarnya karena tadi Lisa hanya memberitahunya tentang Reka yang datang marah-marah karena mengetahui fakta kalau ternyata anak yang dikandung Lisa bukan darah dagingnya. "Apa-apaan kamu, kenapa pikiranmu sekarang berubah menjadi begini?" Raut wajah Endang seketika menjadi berubah. "Dan apa maksudmu tentang cucu Ibu cacat?"


Reka tersenyum getir ia merasa kalau Endang dan Lisa ternyata telah membodohinya. "Berhenti mengatakan bayi cacat itu anak Reka, Bu. Bukankah Ibu ternyata sudah tahu kalau sebenarnya aku mandul!" Ia tidak habis pikir ternyata Endang, ibunya sendiri tega melakukan ini pada dirinya.


"Cukup Reka! Ibu melakukan ini semua hanya demi kamu. Supaya kamu bisa hidup serba berkecukupan dan tidak terus-terusan bergantung kepada Ibu dan Bapak." Akhirnya Endang mengungkapkan apa maksud serta tujuannya melakukan ini semua. "Kamu cukup menerima Lisa apa adanya dan juga menerima bayi itu sebagai anak kalian, meskipun bayi itu bukan darah dagingmu." Suara Endang bergetar saat mengatakan itu. "Bukankah selama ini juga, Lisa sama sekali tidak pernah mempermasalahkan kalau kamu itu mandul," sambungnya lagi.


Reka yang kesal meninju dinding tembok beberapa kali sehingga tangannya sedikit berwarna kebiruan, karena memar saking kerasnya tangan Reka menghantam tembok tersebut. "Tidak!! Aku tidak akan menerima bayi cacat itu, dan akan segera menceraikan Lisa secepatnya."


"Jangan b*doh kamu Reka, apa kamu mau kembali menjadi laki-laki yang tidak berguna dan hanya akan menghabiskan uang Ibu!" seru Endang, saat ini ia sama sekali tidak peduli kalau mereka sedang ada di rumah sakit. "Kalau kamu sampai berani menceritakan Lisa, pada saat dan detik itu juga kamu bukan putra Ibu lagi!"


"Ibu lebih memilih Lisa, daripada aku putra Ibu sendiri." Reka menunjuk dirinya sendiri. "Ternyata aku selama ini benar-benar salah telah menilai Ibu … ." Reka menghela nafas. "Dimana Ibu lebih memilih harta, dibandingkan dengan Reka," katanya yang kini kembali duduk sambil menunduk. "Entah apa yang saat ini ada di dalam pikiranmu Ibu, sehingga tega mengatakan itu semua kepadaku," lirihnya.

__ADS_1


*


*


Hari sudah berangsur-angsur senja. Sang surya pun perlahan-lahan beringsut


menuju ke peraduannya. Terlihat tampak seorang bayi mungil yang terus saja menangis di dalam gendongan seorang suster. "Nyonya, sepertinya bayi Anda haus makanya dia terus saja menangis," ujar suster yang terus saja menatap bayi itu.


"Sudah, biarkan saja dia menangis aku tidak peduli!" ketus Lisa sambil berbalik membelakangi suster itu.


Suster yang bernama Santi itu tidak habis pikir kenapa Lisa begitu tega mengatakan itu kepada darah dagingnya sendiri. "Nyonya, di mana hati nuri Anda? Tidakkah Anda kasihan bayi mungil ini sedang kelaparan." Santi penepuk pelan ****** bayi itu berharap tangisnya menjadi sedikit mereda namun apa yang terjadi tangis bayi mungil itu semakin menjadi-jadi.


"Tapi nyonya, asi lebih baik dari pada su–" Kalimat Santi terputus gara-gara Lisa memotongnya terlebih dahulu.


"Banyak omong sekali kamu, letakkan saja di dalam box setelah itu kamu boleh pergi! Sebentar lagi ibu mertuaku datang dia yang akan menggendongnya," kata Lisa karena saat ini ia benar-benar merasa sangat menyesal karena telah melahirkan bayi yang tidak sempurna.


Santi menggeleng, entah mengapa ia merasa kasihan pada bayi yang tidak berdosa itu. "Tidak usah nyonya, saya akan menggendongnya sampai mertua Anda datang," ujar Santi sambil berjalan menjauh dari ranjang Lisa, ia ingin membuatkan susu untuk bayi yang belum memiliki nama itu. Namun, baru saja ia sampai di ambang pintu tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki yang sudah tua namun masih terlihat berkarisma.


"Apa benar ini ruangan Lisa, Sus?" tanyanya langsung tanpa basa basi.

__ADS_1


Santi melihat bayi yang ada di dalam gendongannya bergantian dengan menatap laki-laki tua di depannya saat ini, seketika ia kaget karena ia merasa bayi dan laki-laki tua itu terlihat agak sedikit ada kemiripan. Anehnya juga pada saat itu suara tangis si bayi mungil sudah tidak terdengar lagi.


"Sus …," panggil laki-laki itu karena melihat Santi hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya.


Setelah cukup lama terdiam, akhirnya santi menjawab dengan gugup. "I-iya. Pak," sahut Santi sambil menunjuk bed di mana Lisa saat ini masih berbaring dengan posisi membelakangi mereka.


Sedangkan Lisa yang merasa sudah tidak mendengar suara tangisan bayinya di indra pendengarannya dengan cepat berbalik ia ingin memastikan kalau Santi sudah pergi membawa bayinya atau masih di sana. Dan saat ia menoleh ke arah pintu betapa shocknya ketika ia melihat Andri berdiri di sana sedang berbicara dengan Santi.


"Om Andri!" pekiknya langsung memanggil Andri dengan suara lantang ia lupa kalau saat ini perutnya masih sakit karena ia melahirkan secara SC.


Santi dan Andri menoleh secara bersamaan. Mereka berdua bisa melihat dengan jelas ekspresi Lisa yang saat ini tidak terlihat ramah.


"Bawa bayi cacat mu itu, Om! Aku tidak sudi merawat dan membesarkannya!" Lagi-lagi suara Lisa melengking. Sehingga membuat bayinya kembali menangis karena kaget mendengar suaranya.


"Tolong bawa bayi ini dulu, Sus. Biarkan kami bicara berdua dulu." Andri yang tidak mau aibnya sampai terbongkar menyuruh Santi pergi. Mengingat Santi adalah salah satu suster yang selalu di percaya istrinya saat datang ke ruamh sakit ini.


Santi berusaha keras mengingat siapa Andri, karena ia merasa pernah melihatnya datang ke rumah sakit ini beberapa minggu yang lalu. Beberapa detik berlalu dan pada akhirnya Ia mengingat kalau Andri ternyata salah satu orang tua pasien yang pernah ia rawat. "Pak Andri? Papanya Nona Alma?"


Andri meraih sesuatu dari dalam sakunya ia kemudian memberikannya kepada Santi. "Ini ada sedikit uang, saya harap ini bisa menutup mulutmu supaya tidak membocorkan rahasia ini kepada anak serta istri saya. Mengingat saat ini putri saya Alma sedang ngidam."

__ADS_1


__ADS_2