
Setelah mendengar tuduhan Witma, mulai hari itu juga Arash diam-diam menyelidiki dengan cara melihat rekaman cctv di setiap sudut rumahnya. Ia ingin meyakinkan Witma kalau Ratih keracunan makanan bukan di rumahnya sebab ia tidak mau kalau sampai Witma menjadi membencinya hanya gara-gara masalah yang tidak pasti.
Ia pun mulai mengecek rekaman cctv itu satu-persatu, mulai dari sebelum acara pengajian akan dimulai sampai acara itu berakhir dan sampai sejauh ini ia sama sekali tidak menemukan kejanggalan apapun di dalam rekaman tersebut. "Semua yang ada di sana memakan dan meminum hidangan yang tersaji jadi, tidak mungkin kan, ibu Ratih keracunan di acara pengajian tersebut." Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku harus memberikan rekaman ini kepada Witma supaya dia percaya, karena aku tidak mau kalau sampai ia terus-terusan berpikir tentang masalah ini." Ia lalu menyimpan semua rekaman itu ke flashdisk. Namun, saat dirinya akan menekan send suara ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar.
Tok … tok … tok.
"Arash, makan dulu Mama sama Papa sudah menunggu di ruang makan." Ternyata yang mengetuk pintu itu adalah kakaknya Arash.
Arash yang mendengar suara kakaknya dengan cepat beranjak ingin membuka pintu. "Iya, sebentar dulu," sahutnya.
"Ini udah 10 menit lho, Ar. Kita menunggu kamu di bawah," ujar Alma. Ternyata saat ini ia masih betah berdiri di depan pintu Arash yang masih tertutup. "Arash, ayolah Kakak sudah sangat kelaparan!"
Arash berjalan ke arah pintu dan tidak lama pintu kamarnya terbuka. "Iya, Arash akan makan. Nggak mungkin juga kan, Arash tidak makan," selorohnya saat ia melihat ekspresi Alma.
"Nggak lucu!" desis Alma.
"Ish, Kakak ini. Masak begitu saja ngambek." Arash mencubit hidung Alma dengan gemas. Ternyata meskipun Alma, kakaknya tapi ketika mereka berjalan berdua Arash lah yang lebih terlihat cocok menjadi kakak.
Alma berdecak pinggang. "Jangan sentuh-sentuh, kita bukan muhrim." Ia menepis tangan Arash dengan pelan karena sebenarnya ia dan Arash memang sering bercanda dengan cara saling mengusili seperti saat ini.
Seketika Arash tertawa mendengar ucapan Alma, karena ia merasa candaan Alma sangatlah lucu. "Baiklah, hanya kakak Fathir saja yang boleh semuanya sekarang. Kalau Arash sudah tidak boleh, iya, kan?"
__ADS_1
Alma langsung berbalik sambil mengibaskan rambut panjangnya. "Mas Fathir lagi pergi ke luar kota jadi, jangan di sebut terus namanya. Nanti Kakak semakin rindu." Setelah mengatakan itu ia kemudian pergi menuju ke ruang makan.
"Masih mending LDR-an, lah aku sudah dekat namun masih ragu untuk mengungkapkan perasaan ini," gumamnya pelan. Dan tidak berselang lama ia segera menyusul Alma.
*
"Gimana apa kamu sudah ada calon?" tanya papanya Arash.
Saat Arash mendengar pertanyaan itu ia langsung saja menggelang kuat.
"Nggak usah cari calon Ar, teman arisan Mama banyak kok, anak gadis mereka kamu tinggal pilih saja sesuai kriteria yang kamu mau," kata Mamanya Arash yang bernama Ambar menimpali. "Anak teman-teman Mama semuanya berprestasi lho. Ar, mereka juga semua rata-rata masih jomblo," lanjutnya.
"Arash belum mau menikah dulu Ma, karena saat ini Arash masih mau sendiri dulu." Alasan yang selalu saja menjadi jurus andalannya dimana ia menolak secara halus tawaran Ambar. "Arash, mau keluar sebentar, kalau Mama sama Papa mau menginap tidur saja di kamar atas," ucapnya. Ia lalu meraih tangan Ambar untuk bersalaman dan tidak lupa juga ia bersalaman kepada papanya. "Assalamualaikum, Arash pamit dulu."
*
Furqon begitu terkejut setelah mendengar penuturan Arash sedangkan Witma hanya bisa menunduk sendu, karena meskipun Arash menunjukkan rekaman cctv di rumahnya tapi entah mengapa fealingnya selalu saja merasa ada yang masih janggal.
"Witma ini semua adalah takdir, lalu kenapa kamu bisa berpikiran begitu?" Furqon melirik Witma yang masih menunduk. "Jangan sampai tuduhanmu itu menimbulkan fitnah."
Witma meremas ujung bajunya, ia tidak menyangka kalau Arash akan datang membawa rekaman cctv untuk membuktikan kalau dugaannya itu salah. "Maaf kan, Witma kak Arash seharusnya aku tidak mengatakan itu semua," katanya, dan pada akhirnya ia meminta maaf pada Arash meskipun ia masih seblum sepenuhnya yakin dengan isi rekaman cctv tersebut.
__ADS_1
"Iya, Wit. Aku akan selalu memaafkan semua kesalahanmu. Tanpa terkecuali," balas Arash sambil tersenyum ke arah Witma. "Sekarang aku bisa bernafas lega, karena sudah berhasil membuat kamu percaya dengan adanya bukti rekaman cctv ini," lanjutnya.
*
*
Di tempat lain.
Om Andri memanggil … .
Lisa terlihat enggan untuk mengangkatnya namun karena rasa penasarannya tentang kabar apa yang akan Andri bawakakan untuknya maka dari itu ia dengan segera menggeser tombol hijau pada beda pipihnya. "Halo, apa Om sudah melakukan apa yang aku minta?"
"Sudah Lisa, maka sesuai perjanjian kita kamu jangan pernah menghubungi aku lagi. Mulai detik dan saat ini juga."
Lisa menyunggingkan senyum mendengar kabar yang sangat menyenangkan ini baginya. "Kerja Om memang luar biasa." Ia memuji Andri. "Dan jangan lupa juga kalau sebentar lagi anak Om akan lahir," lanjutnya membuat Andri mengumpat kesal di seberang sana.
"Pabrik yang kamu minta sudah aku berikan Lisa jadi, sekarang kamu mau apa lagi?" tanya Andri dengan nada yang sedikit membentak.
"Uang bulanan, aku butuh itu untuk membesarkan anakmu ini," pinta Lisa dengan tidak tahu dirinya. "Apa Om mendengarku?"
Andri yang tidak punya pilihan lain mengiyakan Lisa sebelum ia menutup telponnya secara sepihak.
__ADS_1
"Beginikan, aku tidak perlu capek-capek buat nge*nt*. Berkat bayi ini aku sekarang bisa hidup seperti yang aku inginkan sejak dulu." Lisa terkekeh tapi tidak lama tiba-tiba saja perutnya terasa sangat sakit bersamaan dengan itu air ketubannya juga merembes keluar dari pangkal pahanya.
Ia lalu dengan cepat memanggil Reka dengan suara yang melengking. "Mas Reka! Tolong aku ... sepertinya anak kita sudah mau lahir!" teriaknya sambil terus berusaha berjalan ke arah pintu.