Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Andri Marah kepada Arash


__ADS_3

Tanpa mengucapkan sepatah kata Andri mengangkat tangannya lalu menampar pipi Arash dengan sangat keras sehingga bekas telapak tangannya terukir sempurna di pipi mulus Arash. "Siapa yang telah mengajarimu menjadi laki-laki sebrengsek ini Arash?!" tanya Andri dengan suara melengking, akan tetapi tiba-tiba saja telapak tangannya terasa panas setelah ia berhasil men*mpar Arash. "Sekarang tanggung jawab, jangan jadi pengecut begini!" ujarnya membentak Arash.


"Tidak Pa, karena aku merasa tidak pernah melakukan apa yang telah mereka tuduhkan," kata Arash yang tidak membenarkan ucapan sang papa. Di saat ia disuruh bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah ia lakukan sama sekali.


"Jangan menguji kesabaran Papa Arash!" bentak Andri sambil menatap putranya sinis. "Kamu telah mencoreng nama baik keluarga kita Arash, dengan tingkahmu yang tidak pantas ditiru itu membawa anak gadis orang ke hotel dan menidurinya sungguh sangat menjijikkan dan keterlaluan." Ia melempar beberapa foto ke wajah Arash saking marahnya. "Lihat ini semua adalah bukti yang nyata, apa kamu sekarang mau mengelak setelah melihat semua foto ini?"


Arash berjongkok untuk memungut semua foto itu dan mulai melihatnya satu-persatu. "Ternyata Papa sangatlah mudah untuk di tipu." Tiba-tiba Arash berkata begitu di saat mengetahui foto itu semua hasil editan. "Lihatlah foto ini, ini semua hanya editan aku memiliki tanda lahir di punggung dan di pangkal paha." Ia lalu membuka bajunya di depan Andri demi membuktikan itu semua. Ia lalu menunjukkan punggungnya yang benar memiliki tanda lahir yang berwarna hitam pekat yang ukurannya seperti koin. "Dan Papa bisa lihat sendiri di foto itu sama sekali tidak memiliki tanda lahir jadi, semuanya sudah jelas bahwa itu bukan aku."


"Mau itu asli atau editan, pokoknya kamu harus tanggung jawab karena papa tidak mau nama keluarga kita menjadi buruk di mata masyarakat." Andri rupanya masih bersikukuh untuk menyuruh Arash bertanggung jawab meski putranya sudah mengatakan itu tadi.

__ADS_1


"Meski mulut Papa berbusa menyuruhku untuk bertanggung jawab, aku tetap tidak mau dan akan tetap teguh dengan pendirianku," balas Arash menimpali Andri. "Aku yakin kejujuran tidak akan pernah kalah dengan sebuah kebohongan," sambungnya.


Andri yang merasa geram dengan perkataan Arash ia ingin melayangkan tamp*ran lagi ke wajah Arash tapi untung saja Alma datang membuat Andri mengurungkan niatnya.


"Pa, Mama menyuruh Papa untuk membawa bocah tengik ini ke ruang tamu karena disana banyak orang yang sudah berkumpul," kata Alma sambil melihat bekas tangan di pipi sang adik.


"Apa yang dimaksud Papa dengan acara sakral?" tanya Arash kepada sang kakak.


"Kamu yang lebih tahu daripada kakak, lalu kenapa kamu malah bertanya begitu kepada kakak?" Alma malah balik bertanya, bukannya menjawab pertanyan adiknya. "Sekarang lebih baik kamu menggunakan jas ini saja." Ia melempar satu set setelan ke atas ranjang. "Jangan lama-lama penghulunya sudah lama menunggu," lanjutnya.

__ADS_1


Arash yang mendengar itu menggeleng kuat-kuat. "Tidak aku tidak akan pernah mau menikah dengan Anja, wanita itu bukan wanita baik seperti apa yang Kakak dan Mama pikirkan." Arash menatap sang kakak dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Ia memang laki-laki namun di saat keadaannya begini entah mengapa ia menjadi bersedih. Rupanya saat ini ia sedang membayangkan wajah Witma yang akan kecewa jika ia dan Anja jadi menikah. "Pokoknya aku tidak mau Kak, lebih baik aku kehilangan segalanya di bandingkan dengan kehilangan istriku."


"Dikasih makan apa kamu sama janda itu Arash, sehingga kamu sangat mencintainya?" Alma bertanya dengan tatapan sinis. "Apa jangan-jangan kamu sudah di kasih jatah, makannya kamu makin klepek-klepek sama janda satu itu?"


"Cukup Kak, Witma bukan janda lagi dia sekarang istriku yang sudah sah secara agama dan negara. Jadi, tolong Kakak catat ini bahwa Witma adalah istri aku." Arash rupanya sekarang sudah tidak bisa membiarkan Alma mengejek istrinya terus-terusan. "Meski Kakak, Mama dan Papa membencinya aku sama sekali tidak peduli akan hal itu, yang terpenting sekarang aku dan Witma sudah bersatu dalam ikatan pernikahan."


Alma menghela nafas. "Dukun janda itu rupanya sudah mampu menutup mata hatimu Arash, makanya kamu sudah mulai menentang Mama dan Papa seperti sekarang ini." Alma tersenyum getir. "Kakak tidak pernah menyangka gara-gara wanita itu, kamu menjadi menganggap Kakakmu sendiri bagaikan musuh. Sungguh Kakak tidak pernah menyangka akan hal ini." Bulir bening lolos jatuh begitu saja di kedua matanya. "Kakak sangat kecewa denganmu Arash, kamu bukanlah Arash yang dulu Kakak kenal sekarang kamu lebih mirip dengan orang asing yang telah masuk kedalam keluarga ini." Air matanya semakin mengalir deras.


"Bukan salahku, ini semua salah Kakak sendiri yang tidak bisa menerima wanita pilihanku," kata Arash sebelum keluar dari dalam kamarnya melalui jendela. Karena saat ini ia merasa lebih baik pergi dari sana dari pada menikah dengan Anja.

__ADS_1


__ADS_2