
Arash memelototi sang kakak saat berkata begitu ia tidak menyangka kalau Alma tidak bisa menjaga lisannya.
"Siapa yang spesial?" Rose langsung bertanya sambil menatap Arash dan Alma secara bergantian. "Kok kalian diam saja, apa ada yang mama tidak tahu?"
Arash yang takut Rose curiga dengan cepat berdehem beberapa kali untuk mengatur nafasnya supaya ketika ia berbicara tidak gugup, karena ketika ia berbohong maka suaranya akan menjadi terbata-bata. Setelah beberapa detik ia lalu berkata, "Kak Alma cuma bercanda Ma, yang dia pikir spesial itu adalah rumahku." Arash mengedipkan sebelah matanya saat Alma menatapnya. "Iya kan, Kak?" Ia lagi-lagi mengedipkan sebelah matanya.
Alma pura-pura tidak mendengar dan juga tidak menjawab sang adik. Ia malah melengos lalu pergi begitu saja membiarkan Rose dan Arash menatap kepergiannya.
"Kakak kamu kenapa?" Rose malah menanyakan tentang Alma yang pergi begitu saja.
"Mungkin dia lagi datang bulan Ma, makanya bawaanya begitu," jawab Arash asal-asalan.
"Sembarangan saja kamu, kakak kamu itu lagi hamil mana bisa dia datang bulan," sergah Rose dengan cepat menimpali Arash. "Kalau moodnya yang mudah berubah-ubah baru mama percaya karena itu bawaan cabang bayi, lah ini kamu malah bilang kalau kakakmu datang bulan ngada-ngada saja."
Arash hanya bisa nyengir kuda. "Aku lupa Ma, maafin ya." Ia semakin mendekat ke arah Rose.
__ADS_1
"Itu tandanya kamu sudah tua, makanya cepat-cepat cari pasangan gih. Sebelum kakak kamu brojol." Rose mengatakan itu berharap Arash akan memikirkan ucapannya. "Gimana apa kamu sudah punya pasangan?"
"Bebas dari pertanyaan yang satu malah sekarang, disuguhkan dengan pertanyan yang lain aku harus menjawab apa sekarang." Arash membatin.
"Kalau kamu diam, berarti kamu belum punya, maka dari itu mama malam ini akan memberikanmu kejutan yang spesial." Saat Rose berkata begitu ia tiba-tiba teringat dengan ucapan Alma. "Tadi, yang spesial di rumah kamu itu si–"
"Aku mau menyusul Kak Alma dulu Ma, karena ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadanya," potong Arash sambil berlalu pergi. Ia tidak mau berlama-lama membahas masalah spesial karena bisa-bisa ia akan menjadi membuka mulut jika kelaman di tanya terus-menerus.
"Ternyata putra dan putriku kelakuan mereka sama saja." Rose bergumam sambil tersenyum. Ia merasa senang karena nanti malam ia akan mengenalkan Arash dengan anak teman arisannya. Dimana wanita itu begitu cantik dan menutup auratnya dengan sempurna.
*
*
"Ngapain senyam-senyum sendiri?" Tiba-tiba Alma sudah masuk saja ke dalam kamar Arash sambil menenteng paper bag di tangannya. "Pakai ini kata Mama supaya baju kita semua kembaran karena malam ini, adalah malam yang spesial."
__ADS_1
Arash berbalik sambil berkata, "Kak Alma, biasakan kalau masuk ketuk pintu dulu dan ucapkan salam." Ia memperingati sang kakak.
"Nih, ambil kakak nggak bisa berlama-lama disini nanti calon keponakanmu ikut ketularan jadi tukang bohong seperti kamu, ish, amit-amit jangan sampai." Alma menaruh paper bag itu di atas nakas. "Pakai sekarang juga, karena sebentar lagi tamu Mama pasti datang," ujarnya dengan mimik wajah yang datar.
Arash tahu saat ini kakaknya masih dongkol gara-gara kejadian tadi pagi, namun ia lebih memilih untuk tidak membahas masalah itu, mengingat saat ini mereka berada di rumah Rose. "Baiklah, Kak Alma boleh keluar," pinta Arash saat melihat sang kakak masih berdiri di dekat nakasnya.
"Kamu malu, Karena nanti kakak bisa lihat badan kamu yang penuh merah bekas ikan ****** itu?" tanya Alma sambil berdekap tangan di atas perutnya yang sedikit membuncit.
"Istighfar Kak, ingat setan akan tertawa melihat sifat Kakak yang suudzon begini." Arash masih tetap menanggapi Alma dengan baik karena ia mengingat kata Rose kalau ibu hamil moodnya suka berubah-ubah. "Silahkan Kakak tetap disini saja, aku tidak akan melarang Kakak." Ia kemudian melepaskan baju koko yang ia kenakan tadi, dan dengan cepat menggantinya. "Kakak bisa lihat sendiri tidak ada bekas ikan ****** disini."
"Ya, karena janda gatel itu masih belum berani menyentuhmu sebab dia sadar diri bahwa dia bekas orang sedangkan kamu masih perjaka ting-ting," seloroh Alma.
Arash hanya bisa diam saja ketika Alma berkata begitu. Karena ia tidak mau berdebat lagi dengan sang kakak.
"Mengalah bukan berarti kita kalah," gumamnya membatin.
__ADS_1
...----------------...