
Kebetulan hari ini Witma libur bekerja, makanya ia mengisi paginya dengan memasak di dapur. Namun, tak lama terdengar Ratih memanggil Witma dari arah teras.
"Witma, ada Bapak Badrun yang datang mencarimu!" seru Ratih.
"Bapak, tumben kesini," gumam Witma yang kemudian dengan cepat mencuci tangannya, ia lalu bergegas keluar menuju teras untuk melihat Badrun.
*
"Tunggu Pak, Witma masih memasak di dapur," kata Ratih yang sudah mempersilahkan Badrun duduk.
Badrun mengangguk tanda mengerti. "Bu, Ratih saya kesini cuma mau menyambung silaturahmi. Supaya tidak ikut terputus bersama kisah cinta anak kita," ucap Badrun. "Saya juga merasa bersalah atas perlakuan Reka kepada Witma, maka dari itu saya selaku orang tuanya Reka ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya." Raut wajah Badrun memancarkan kesedihan.
Ratih yang tadi tersenyum, kini mimik wajahnya berubah mendengar nama Reka disebut. Karena tiba-tiba saja bayangan Witma yang menangis di malam itu membuat dada Ratih kini kembali merasa sakit. "Semua sudah berlalu Pak Badrun, sepertinya Witma sudah memaafkan atas semua perlakuan Reka padanya. Jadi, tolong jangan ungkit-ungkit itu lagi. Selama ini juga sudah cukup Witma menderita dan sengsara saat berada di sisi Reka." Semua ucapan Ratih tidak ada yang meleset sama sekali.
Badrun yang mendengar itu semakin merasa bersalah. "Maafkan anak saya, Reka sekali lagi Bu Ratih." Badrun tulus saat mengatakannya.
Ratih hanya manusia biasa, yang bisa marah dan benci kepada seseorang memilih diam saat Badrun menyuruhnya memaafkan Reka.
"Ini memang terdengar sulit, saya tahu Bu Ratih tidak akan mungkin dengan cepat memaafkan Re—"
"Seandainya salah satu putri Bapak diperlakukan sebagaimana Reka memperlakukan Witma, apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Ratih.
Relung hati Badrun kian semakin merasa sangat bersalah, ucapan Ratih seolah-olah terasa seperti tamparan. Ia hanya bisa menunduk sambil merenungi setiap kalimat yang Ratih lontarkan tadi.
__ADS_1
"Kata maaf memang sangat mudah bila diucapkan, namun sangat terasa sulit bila kata memaafkan keluar dari mulut orang yang sudah tersaki—"
"Witma telah memaafkan Mas Reka, Bu. Karena menaruh benci dan dendam hanya akan membuat hidup kita tidak tenang," potong Witma yang ternyata mendengar semua percakapan Badrun dan Ratih dari tadi.
*
*
Witma duduk termenung, sambil mengingat ucapan Badrun yang mengatakan kalau Reka memintanya untuk datang ke sebuah taman di dekat cafe tempat kerjanya. "Ya Allah, apalagi yang Mas Reka ingin dariku?" Witma bertanya-tanya di dalam benaknya sendiri.
Jauh didalam lubuk hati Witma yang paling dalam, ternyata ia masih memiliki rasa yang sama ke Reka. Namun, karena ia mengingat pesan Ratih yang mengatakan. 'Laki-laki yang sering main tangan, mau sampai kapanpun tidak akan pernah berubah. Jadi, Ibu harap Witma bisa memikirkan ucapan Ibu ini.'
"Ya Allah, mulai sekarang hamba sudah pasrah dengan apa yang telah Engkau takdirkan dan yang telah Engkau gariskan untuk hamba," lirih Witma yang tidak sadar kalau Ratih ternyata dari tadi berdiri di ambang pintu. "Engkau maha mengetahui, maha mendengar, Engkau juga bisa melihat apa saja yang telah hamba lewati selama ini, maka hamba cukup berserah diri kepadamu Ya Allah."
Witma meringkuk memeluk lututnya sambil membenamkan wajahnya di sela-selanya, tidak lama suara isak tangisnya mulai terdengar ia mencoba menggigit bibir supaya suaranya tidak terdengar. Namun, usahanya hanya sia-sia malah sekarang isak tangisnya semakin terdengar sangat memilukan. "Ya Allah, beginikah rasanya terlalu berharap kepada manusia. Ternyata benar berharap kepada sesama manusia hanya akan membuat kita menyesal."
Ratih yang ingin masuk mengurungkan niatnya, karena ia merasa lebih baik membiarkan Witma sendiri dulu dalam keadaan begini. Oleh sebab itu, ia perlahan pergi dari sana memberikan Witma mengeluarkan air mata yang entah sudah berapa lama ditahan.
*
*
Pada sore hari akhirnya Witma memutuskan untuk tidak pergi menemui Reka seperti yang Badrun minta. Karena ia tidak mau membuat Ratih, sang Ibu menjadi kecewa lagi karena ia telah berjanji untuk melupakan Reka dan juga berjanji untuk tidak lagi berurusan dengan keluarga Reka.
__ADS_1
Witma yang sedang berbaring dikejutkan oleh suara Tami yang tertawa cekikikan di luar. Dan benar saja tidak lama kepala Tami mengintip di balik gorden kamarnya.
"Kak, ada yang cariin kakak," ucap Tami tanpa mengucap salam ataupun mengetuk pintu.
"Astagfirullahaladzim, lain kali ucap salam dulu Tam," kata Witma sambil bangun ingin menghampiri Tami. "Kebiasaan, padahal kamu sudah besar lho ,Tam."
Tami nyengir kuda. "Maaf kak, soalnya saking senangnya Tami sampai lupa," ujar Tami.
Tami adalah adik Witma yang baru saja kelas satu SMA. Tami bisa melanjutkan sekolahnya karena mendapat bantuan beasiswa. Dikarenakan Tami salah satu siswa yang cerdas makanya ia salah satu siswa yang mendapat beasiswa.
"Tadi, katamu ada yang cariin kakak, kira-kira siapa itu?" Witma bertanya saat melihat Tami masih saja mengintip di gorden.
"Kakak bisa lihat sendiri," jawab Tami.
Witma yang merasa pasti yang mencarinya adalah Baron, mendadak tidak mau keluar dari kamarnya. "Ya, sudah kamu bilang saja sama orang itu, kalau hari ini kakak tidak mau diganggu."
Wajah Tami yang tadi ceria seketika berubah menjadi cemberut. Mendengar perkataan Witma. "Ish, kakak ini padahal di luar itu ada kak Arash. Katanya ada suatu hal yang mau disampaikan."
Deg, jantung Witma berdetak lebih kencang ketika mendengar nama Arash. "Kak Arash, mau apa dia dat—"
"Tuh, kakak sih lama banget. Suara motor kak Arash sudah pergi," potong Tami yang mengenal suara motor Arash.
Witma melongo mendengar Tami. "Kamu kenapa bisa kenal dengan suara motor kak Arash?"
__ADS_1
"Kak Arash kan, ngajar di sekolah Tami. Jadi, Tami sampai hapal betul suara motornya," ujar Tami menjawab Witma.