
"Dia bukan siapa-siapa Witma, dia hanya datang akan sebagai penguji dalam rumah tangga kita," jawab Arash. Dan sepertinya ia harus berkata jujur sekarang kepada Witma tentang Anja supaya istrinya tidak salah paham. "Dia gadis yang Mama pilihkan untuk aku nikahi," katanya sambil mengusap wajahnya kasar beberapa kali. "Tapi kamu tenang saja, itu semua tidak akan pernah terjadi karena janjiku untukmu yang sehidup dan semati tidak akan pernah aku ingkari." Ia meraih tangan Witma dengan rasa yang kian menjadi-jadi dimana ia ingin membuktikan ucapannya kepada Witma.
"Abang, aku tidak mau kisah kelamku terulang lagi karena sudah cukup, aku merasakan yang namanya penderitaan," balas Witma menimpali Arash. "Jika abang berniat ingin memadu diriku maka, aku lebih memilih untuk abang ceraikan saja karena di madu tidak semanis madu yang lebah buat pada sarangnya jadi, jika ada niat abang begitu lebih baik aku mundur berhubung kita belum melakukan apa-apa," lanjutnya berbicara panjang lebar berharap Arash akan mengerti tentang apa yang ia ucapkan.
Bukan karena Witma lancang meminta cerai ke suaminya di saat usia pernikahan mereka baru berjalan 4 hari, namun rasa traumanya yang teramat dalam ketika dulu Reka memadunya dengan Lisa itu yang membuatnya terpaksa mengatakan itu semua. Karena ia tidak mau batin serta jiwa dan raganya tertekan seperti dulu.
"Tidak akan ada yang menduakanmu, karena aku lebih memilih dibenci oleh semua keluargaku ketimbang harus berpisah denganmu dan juga aku akan memilih untuk membawamu pergi jauh dari sini jika Mama mupun Papa tetap memaksaku menikahi Anja. Anja adalah nama wanita yang kamu lihat di foto itu." Arash mengatakan ini supaya Witma percaya kepadanya bahwa cintanya begitu besar dan tulus. "Sekarang tolong berikan aku hakku sebagai seorang suami supaya aku merasa sempurna di matamu." Ia menatap Witma dengan mata yang sendu.
Witma merasa kesulitan untuk menelan salivanya, karena mendengar Arash meminta haknya untuk yang kedua kalinya. Bukan ia tidak mau memberikan Arash haknya namun ia takut Arash akan kecewa karena ia bukan per*wan yang masih tersegel.
__ADS_1
"Apa kamu takut nanti aku kecewa?" Arash rupanya tahu apa yang ada di dalam benak Witma untuk saat ini. "Aku memilihmu, itu artinya semua yang ada pada dirimu aku menerimanya termasuk kelebihanmu dan juga kekuranganmu jadi buat apa kamu memikirkan hal yang bukan-bukan?"
"Bukankah kamu juga sudah tahu ketika mempelai pria mengucapkan kabul, itu berarti ia telah siap memikul tanggung jawab untuk menikahi perempuan tersebut. Ia menerima nikah dan kawinnya beserta segala kebaikan dan keburukan yang ada dalam diri calon istrinya itu. Dan dengan ijab kabul itu pernikahan dua insan menjadi sah di mata Allah SWT. Apa sampai sini kamu masih belum paham dan mengerti?"
Deretan macam pertanyaan yang terlontar dari mulut Arash membuat pendirian Witma yang sempat goyah kini kembali tersusun rapi lagi di dalam relung hatinya yang paling dalam. Dimana ia merasa Arash tidak akan mungkin mengingkari semua janji dan tidak akan mungkin meninggalkan dirinya juga tidak akan menduakan dirinya dengan wanita lain.
"Sekarang terserah padamu mau percaya atau tidak itu semua hakmu, karena tugasku hanya memberitahumu tentang semua ini." Arash yang merasa kecewa dengan sikap Witma yang begini langsung pergi begitu saja untuk masuk kedalam kamarnya membiarkan Witma yang masih merenungi setiap apa yang telah ia ucapkan tadi.
Arash terdiam karena ia merasa Witma mengatakan ini semua hanya karena keterpaksaan.
__ADS_1
"Abang, ayo kita wudhu dulu dan melakukan shalat sunnah dua rakaat, shalat ini disebut dengan … ."
"Shalat sunnah zifaf atau malam pengantin," kata Arash yang melanjutkan kalimat Witma. "Apa aku benar?"
Witma mengangguk sambil merasakan getaran di rahimnya di saat tangan Arash mulai nakal meraba pahanya. "Abang, kita shalat dulu." Witma menyingkirkan tangan Arash dengan pelan.
"Apa ini murni dari dalam lubuk hatimu, bukan karena dasar keterpaksaan?" Arash berbalik sesaat setelah bertanya begitu. "Jika belum siap tidak menga–"
"Aku sudah siap bang, supaya hati ini tidak meragukan lagi perasaan abang terhadapku," potong Witma cepat. "Dan juga supaya pernikahan kita ini menjadi sempurna," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Hati Arash rasanya berbunga-bunga ketika mendengar ucapan Witma. Rasa kecewanya yang tadi kini telah berubah dengan rasa bahagia yang selama ini ia impikan. "Apa kamu sudah benar-benar siap?" tanyanya sekali lagi hanya untuk memastikan saja.
Bukannya menjawab Witma malah melepaskan pelukannya dan langsung berlari menuju arah kamar mandi sehingga membuat senyum di bibir Arash terukir lebar.