
Suara kicuan burung membangunkan Dina. "Hm, sudah jam berapa ini?" Dina meraba sebelahnya dimana Witma masih tertidur lelap. "Mentang-mentang lagi datang bulan, tidur sampai siang begini," gumam Dina. Ia kemudian bergegas keluar menuju dapur niatnya mau membantu Ratih memasak.
Dan benar saja setiba di dapur ia sudah melihat Ratih yang sedang memasak. "Apa boleh Dina membantu tante masak?" tanya Dina.
"Panggil Ibu Nak, anggap saja saya ini Ibumu jangan sungkan," kata Rarih. "Dan buat kamu yang mau membantu Ibu silahkan saja," ujar Ratih.
"Ternyata di dunia ini masih ada orang baik," kata Dina membalas Ratih.
"Nak, Dina jika kamu tidak menemukan orang baik, maka jadilah salah satu orang baik itu." Ratih seperti biasa akan tersenyum saat mengatakan itu.
"Witma sangat beruntung, masih memiliki Ibu yang begitu sayang padanya," ucap Dina.
*
Sesaat setelah Witma dan Dina berangkat ke cafe, Baron datang lagi ia berniat mau mengajak Witma jalan-jalan. Tapi baru saja ia akan turun dari mobilnya ia malah melihat Ratih sedang duduk di teras.
"Assalamualaikum, Bu. Apa Witma ada?" tanya Baron sopan.
Ratih yang terkenal ramah selalu tersenyum kepada siapapun termasuk Baron, meski ia tahu Baron dulu pernah mengejar-ngejar Witma. "Wa'alaikumussalam, Baron ada apa mencari Witma?" Ratih bertanya balik.
"Tidak ada Bu, Baron cuma mau menanyakan sesuatu hal," ucap Baron berbohong. "Bisa Ibu kasih tau Witma sekarang dimana?"
Ratih tertawa mendengar Baron memanggilnya Ibu. "Baron, umur kita tidak jauh beda. Kenapa kamu malah memanggilku Ibu?" Ratih semakin terkekeh geli.
"Supaya kedengaran sopan saja." Baron pura-pura memperbaiki rambutnya. "Witma dima—"
"Pergi bekerja," potong Ratih. "Baron, kalau memang benar kamu ada urusan sama Witma, kamu bisa pergi saja ke cafe di pinggir jalan di sana Witma bekerja," sambungnya.
Setelah mendengar itu Baron langsung pergi tanpa mengucapkan salam ataupun berpamitan.
__ADS_1
*
*
Baron ternyata sudah sampai di Cafe dimana tempat Witma bekerja.
"Bapak mau pesan apa?" tanya salah satu pelayan wanita.
"Apa disini ada pelayan yang bernama Witma?" Baron bertanya balik.
"Mohon maaf Pak, semua pekerja disini di identitasnya di privasi," jawab pelayan itu.
"Saya calon suami dari Witma, bisa panggilkan saya sebentar," kata Baron yang malah mengaku-ngaku calon suami Witma.
Pelayan itu tampak tidak percaya, tapi setelah Baron memberikannya beberapa lembar uang ia jadi mengangguk sambil berkata, "Kalau begitu tunggu sebentar ya, Pak," ucapnya.
*
"Witma ada yang cari lu, tuh."
Witma menyerngit heran karena baru kali ini ada yang mencarinya. "Siapa?" tanyanya.
"Mana gue tau, katanya sih, calon suami lu."
Witma semakin di buat bingung, setelah mendengar ucapan teman kerjanya itu. "Calon suami," gumam Witma lirih yang didengar oleh Dina. "Aku pergi kesana dulu, mau lihat itu siapa."
"Aku boleh ikut nggak?" Dina yang takut terjadi sesuatu kepada Witma ingin ikut menemui Baron, laki-laki yang mengaku calon istri Witma.
"Kamu tunggu di sini saja, nggak lama kok cuma sebentar," ujar Witma sambil berlalu pergi meninggalkan Dina dan juga pelayan yang tadi.
__ADS_1
*
Witma melihat siapa yang duduk sendiri, seketika tangannya bergetar. Ia tidak menyangka Baron mencarinya sampai ke cafe.
"Assalamualikaum, ada urusan apa Anda mencari saya?" Witma bertanya langsung sambil mendekat ke arah Baron.
"Walikumussalam. Witma, duduk dulu Abamg mau bicara sebentar," ucap Baron tersenyum.
"Saya nggak punya waktu Pak, nanti bos saya bisa marah." Witma malah menjadi takut melihat Baron tersenyum kepadanya.
Baron mengeluarkan kartu black card ke atas meja. "Berhenti bekerja Witma, ini kartu kamu bisa pakai sepuasmu, dan bila nanti kamu sudah siap kasih tahu Abang supaya datang buat melamarmu," ucapan Baron malah membuat Witma semakin gemetaran.
"Pak Baron, saya tidak membutuhkan ini, ambil kartu ini dan segera pergi dari sini." Witma hanya melirik sepintas. "Pak Baron, lebih cocok menjadi Bapak saya bukan suami," kata Witma yang berharap Baron sadar.
"Witma, untuk kali ini saja tidak usah menolak pemberian Abang." Baron masih bersikukuh dengan pendiriannya untuk memberikan Witma kartu black card itu. "Dan untuk soal usia, bukankah cinta tidak memandang usia jadi, buat apa kamu mengatakan itu. Jika kamu mau sama Abang berterus teranglah, jangan menyimpan rasa itu sendiri di dalam hatimu." Baron malah berkata begitu.
Witma menggeleng sambil beristighfar di dalam benaknya, ia tidak menyangka Baron masih mengejar-ngejar dirinya sampai sekarang meskipun statusnya janda. "Saya pergi dulu Pak, pekerjaan saya di belakang masih banyak. Assalamualaikum." Witma pergi setelah mengucapkan salam.
Baron berpikir Witma masih malu-malu untuk menerimanya, maka dari itu ia merasa harus lebih sering menemui Witma supaya hati Witma luluh.
*
"Siapa?" tanya Dina yang tiba-tiba ada di belakang Witma.
"Astagfirullah, kamu Din, ngagetin aja." Witma langsung mengelus dad*nya karena ia kaget.
"Sorry, Witma. Aku cuma penasaran siapa laki-laki itu." Dina nyengir kuda. "Tadi aku juga sempat lihat dia mengeluarkan kamu kartu black card, kenapa nggak diterima?"
Witma menggeleng. "Itu bukan hak aku, Din." Witma menjawab singkat.
__ADS_1
"Jangan-jangan laki-laki itu calon ayah kamu?" pertanyaan Dina membuat Witma. Kembali lagi beristighfar. "Iya, kan. Kalau benar suruh saja ibu menikah dengannya," seloroh Dina.
"Jangan semakin membuat kepalaku pusing, Din. Lebih baik kita bersih-bersih sebelum para pelanggan datang." Witma menggandeng tangan Dina. "Dan jangan pernah mengatakan hal yang seperti tadi, karena mau sampai kapanpun Ibu tidak akan pernah mau menikah lagi." Witma tidak mau mengatakan kalau Baron sebenarnya ingin melamar dirinya sendiri.