Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Di Kontrakan


__ADS_3

"Kita sudah sampai!" Suara Dina membuat Witma yang sedang malum sontak saja kaget sehingga mencengkram tangan Dina begitu erat. "Awh, sakit!" Ia meringis kesakitan karena Witma begitu kuat mencengkram tangannya.


"Maaf, Din. Aku kaget." Witma dengan cepat melepas cengkraman tangannya.


"Apa yang kamu lamunin sih, sampai-sampai suaraku yang merdu nan berirama ini membuatmu sampai kaget?" tanya Dina dengan suara yang ia buat seperti meniru anak kecil. Ia melakukan ini supaya Witma merasa terhibur setelah tadi ia membuatnya kaget.


"Nggak ada aku cuma khawatir, karena kenapa Tami dan ojol itu belum sampai? Padahal tadi mereka ada di depan kita." Witma turun dari atas motor setelah itu ia berjalan sedikit ke tepi jalan raya. Ia ingin memastikan kalau ojol itu tidak salah jalan. "Apa ojol itu tidak tahu jalan ini?" Witma mondar mandir di saja seperti setrika wajahnya juga terlihat semakin cemas tatkala gerimis mulai mengenai telapak tangannya.


"Sudah Damar tidak mungkin salah jalan, karena dia anak sini. Mungkin saja mereka tadi berhenti isi bensin botolan di pinggir jalan," kata Dina menimpali Witma. "Lebih baik kita masuk, sepertinya gerimisnya sebentar lagi akan menjadi hujan." Dina membawakan koper milik Witma dengan cara menyeretnya. "Kita tunggu mereka di dalam, ayolah. Jangan terus-terusan berpikiran buruk tentang Damar aku kenal seperti apa anak itu," sambungnya.


"Baiklah, kita tunggu mereka di dalam saja." Akhirnya Witma mau masuk setelah lama berpikir. Ia juga tidak lupa membawa tas yang juga berisi beberapa pakaiannya di sana. "Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." Witma membuat langkah Dina terganti. "Kamu kenal dengan ojol itu dari mana? Sampai begitu yakin kalau dia tidak bakal macam-macam dengan Tami?"


"Aku kenal sama dia ketika aku baru menginjakkan kaki disini, dia lah orang yang telah menolongku ketika aku saat itu hampir saja pingsan karena kelaparan. Posisiku waktu itu tidak punya duit karena tasku di jambret tapi untung saja ada dia saat itu baru pulang ngojol." Dina menghela nafas, ia sekarang menjadi mengingat waktu dimana ia hampir saja di lecehkan juga oleh preman. Namun, itu tidak ia ceritakan mengingat Witma yang masih taruma.


"Sebanyak orang yang lewat waktu itu, hanya Damar yang berhenti dan menawarkan aku tumpangan maka dari itu, mengapa aku begitu percaya dengan bocah tengik yang sudah aku anggap sebagai adik itu." Dina bicara panjang lebar berharap Witma tidak menaruh curiga ataupun takut lagi dengan Damar dan berpikiran tidak-tidak. "Aku harap setelah mendengar ceritaku yang tadi kamu percaya Wit, kalau Damar anak baik-baik."


"Ya Allah, ternyata memang benar ojol itu baik. Maaf ya, karena aku terlalu curiga dengannya," balas Witma, ia kini merasa sedikit bersalah karena terus-terusan mencurigai Damar. "Kalau begitu kita masuk, melihat-lihat ke dalam kontrakan ini," ajak Witma.

__ADS_1


Namun, saat mereka akan melangkah masuk tiba-tiba suara kelson motor membuat mereka berdua kaget bukan main, sampai-sampai mereka berdua saling berpelukan sambil membaca istighfar di dalam benak mereka masing-masing.


"Damar! Kita kaget tau!" pekik Dina.


Sedangkan Damar tertawa saat mendengar suara Dina. "Maaf ya, kak Dina. Aku sengaja kok," seloroh Damar.


"Kurang asem, awas kamu ya." Dina melemas koper yang ia bawa karena ingin menghampiri Damar.


Damar yang merasa Dina akan menjambak rambutnya seperti biasa kalau ia berhasil membuat Dina kesal dengan cepat menyuruh Tami turun. Dan dengan gerakan cepat ia ikut turun setelah itu berlari hingga terjadilah adegan saling kejar mengejar.


Tami dan Witma membuka mulut mereka lebar-lebar karena shock, mereka tidak menyangka Dina dan Damar rupanya sedekat itu.


*


*


"Tau nih, kak Dina. Rambut aku jadi rontok karena bekas jambakannya tadi." Damar menjawab sambil mengambil air botol itu.

__ADS_1


"Siapa suruh kamu ngagetin aku aja, dikira jantung ini dibuat dari semen tiga roda yang tahan banting apa." Dina menimpali Damar. "Lain kali nggak usah kayak gitu lagi, kalau sampai itu terjadi rambutmu yang licin seperti prosoran itu aku buat botak, apa kamu mau?"


"Nggak ada ya, kak Dina. Nanti ketampananku berkurang."


Witma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, "Sudah, kalian berdua berdamai saja."


"Kita sudah berdamai tadi. Iya kan, Damar?" Dina mengedipkan sebelah matanya. "Jawab dong, nanti aku kutuk kamu jadi batu karena doa orang terzalimi itu cepat terkabul." Dina kemudian meminum air botol tadi.


"Andai saja kutukan kakak jadi nyata, aku lebih memilih menjadi batu supaya sedikit berguna," ucapan Damar pembuat Dina menyemburkan minuman yang tadi. "Ya ampun kak, ini muka malah di sembur mana bau jigong kakak udah nempel lagi."


Detik itu juga Dina dan Witma tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar Damar berkata bau jigong.


(Hai kakak-kakak jangan lupa mampir ke karya temanku ya, ini ceritanya nggak kalah serunya kok😊).


Judul: Wanita Satu Malam


Author/Napen: nana shin

__ADS_1


Ada disini👇



__ADS_2