
"Tutup poin saja Arash," kata Ahmad tiba-tiba setelah ia duduk di sofa ruang tamu.
Arash yang mendengar itu mengernyit karena ia tidak tahu arah pembicaraan Ahmad yang tiba-tiba berkata begitu. "Apa ada sesuatu yang saya tidak tahu?"
"Jangan pura-pura Arash, setelah kamu melakukan itu kepada Anja kamu mau kabur dari tanggung jawab itu sama sekali tidak bisa dibiarkan," ucap Ahmad yang semakin saja membuat Arash kebingungan. "Apa yang telah kamu lakukan semalam dengan Anja sungguh sangat memalukan, padahal bertunangan saja belum tapi kamu sudah berani-raninya memeluk Anja seperti itu di tempat umum dan juga berani-raninya kamu membawa Anja ke hotel."
Arash yang mendengar itu semua kagetnya bukan main, ia yang merasa tidak melakukan itu menggeleng dengan kuat-kuat. "Saya memang menemani Anja untuk ke butik dan setelah itu kami berdua pergi ke toko bunga langganan Mama saya." Arash menjelaskan kepada Ahmad sedangkan Sari hanya diam saja dengan air mata yang bercucuran. "Saya lalu mengantar Anja pulang sampai ke depan gerbang rumah bapak, setelah itu saya pulang dan tidak pernah membawa Anja ke hotel." Ia menyangkal ketika di tuduh begitu oleh Ahmad. "Sekali lagi saya terangkan bahwa saya sama sekali tidak pernah memeluk Anja di tempat umum, apa lagi membawa dia ke hotel, maaf pak semua kalimat tuduhan bapak saya tidak terima karena saya benar-benar tidak pernah melakukan itu semua."
"Semua sudah jelas Arash, jika kamu ingin memiliki Anja seutuhnya cepatlah halalkan dia, jangan dengan cara begini kamu di depan terlihat alim dan seperti laki-laki idaman tapi di belakang kamu adalah laki-laki yang haus dengan paha dan belahan dada." Sari berkata begitu karena ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arash tadi yang panjang lebar. "Tega-teganya kamu melakukan hal yang dapat membuat putri kami merugi, kami pokoknya tidak terima jika Anja akan di cap menjadi wanita yang tidak benar oleh orang-orang terdekat kami, padahal selama ini Anja adalah wanita yang terkenal dengan akhlak, budi pekerti yang baik," lanjutnya berbicara panjang lebar.
__ADS_1
"Tante, saya berani bersumpah bahwa saya sama sekali tidak melakukan apapun dengan Anja, jika kalian masih tidak percaya coba tanya saja kepada Anja sendiri." Arash tidak tahu saja semua yang dikatakan Sari dan Ahmad itu atas suruhan putri mereka sendiri. "Saya mana mungkin berani melakukan itu semua, karena saya tahu mana yang salah dan mana yang benar." Ia berusaha terus untuk meyakinkan kedua orang tua Anja bahwa dirinya tidak pernah melakukan seperti yang dituduhkan oleh mereka.
"Mana ada maling yang mau ngaku, kalau ada maka penjara akan penuh." Ahmad berdiri dari duduknya. "Sekarang kita selesaikan ini dirumah orang tuamu, supaya lebih jelas karena Anja juga ada disana." Ia lalu membawa Sari dari sana setelah mengatakan itu semua.
Arash menghela nafas kasar, karena ia tahu Witma pasti saat ini telah mendengar percakapannya yang tadi dengan kedua orang tua Anja, karena posisi ruang tamu berdekatan dengan kamar mereka otomatis Witma pasti mendengarnya dengan sangat jelas.
"Apa kamu percaya dengan abang?" tanya Arash di sela-sela suara isak tangis Witma yang sudah mulai mereda.
"Aku percaya, meski abang berbohong aku akan tetap percaya," jawab Witma dengan suara paru.
__ADS_1
Arash menggeleng lemah mendengar jawaban Witma. "Sayang, abang berkata jujur jadi, berhenti menambahkan kalimat meski abang berbohong. Abang tidak suka mendengarnya," ujar Arash menatap lekat-lekat netra sang istri. "Percaya kepada abang jika abang dan Anja tidak pernah melakukan apa-apa, kalau kamu terus begini tidak percaya dan masih ragu lantas kepada siapa lagi abang harus meminta kekuatan untuk menghadapi ini semua?"
Witma merasa memang benar Arash tidak mungkin melakukan itu semua namun, kenapa ia menjadi ragu disaat mengingat ucapan kedua orang tua Anja.
"Abang tidak minta apa-apa darimu sayang, abang cuma mau kamu percaya dengan apa yang telah abang katakan tadi supaya abang bisa melewati ini semua dengan mudah karena sumber kekuatan abang ada pada dirimu." Arash menghapus sisa lelehan air mata Witma. "Sayang, secepatnya aku akan kembali dan menyelesaikan kesalahpahaman ini tugasmu hanya mendoakan abang supaya masalah ini tidak dibesar-besarkan." Ia lalu mengecup kening sang istri dengan penuh rasa sayang. "Abang pergi dulu ke rumah Mama, dan ingat pesan abang kunci pintu juga jangan dibuka jika itu bukan abang yang memintanya." Ia takut seseorang akan datang menyakiti Witma sewaktu-waktu maka dari itu ia tetap harus waspada dimanapun ia dan Witma berada.
"Kalau begitu abang pergi dulu Assalamualaikum," ucap Arash sebelum pergi ke rumah orang tuanya ia tidak lupa berpamitan kepada sang istri.
Witma mengangguk sambil meraih tangan Arash, ia kemudain mencium tangan sang suami lalu ia menjawab salam sambil berdoa didalam benaknya bahwa ini semua akan baik-baik saja. "Wa'alaikumussalam."
__ADS_1