
"Usir saja mereka!" seru Lisa dan dengan gerakan cepat mengambil Lire dari gendongan Witma. "Mereka pindah kesini gara-gara kasus yang sama di usir oleh warga karena sering menculik bayi," lanjutnya lagi meyakinkan para warga meskipun dengan kebohongannya.
"Ini semua fitnah, kamu benar-benar wanita ular setelah berhasil merebut suami Kakakku dan menghancurkan rumah tangganya sekarang kamu malah mau menyebar hoax. Dasar pelakor!" balas Tami menunjuk wajah Lisa. Karena saat ini ia tahu Witma pasti sangat ketakutan dilihat dari keringat yang mulai membasahi dahinya. "Seharusnya dia yang bapak-bapak usir bukan ka—"
"Lebih baik kita usir saja mereka," potong salah satu warga. Dan di sahut oleh para warga dengan kata setuju ternyata para warga lebih percaya sama Lisa dibandingkan dengan Tami dan juga Witma. "Sekarang kita seret mereka!" ajaknya dengan suara lantang.
__ADS_1
Namun, saat mereka akan menyeret Witma juga Tami tiba-tiba saja suara Arash terdengar begitu marah di saat melihat Witma hanya diam saja sambil melongo memperhatikan para warga yang akan menyeretnya.
"Hentikan! Dan apa yang sedang bapak-bapak lakukan?" Arash melihat satu persatu wajah warga yang mau menyeret wanita yang saat ini ia selalu doakan di setiap sujudnya. "Bisa-bisanya bapak-bapak percaya tanpa bukti." Arash kini bergantian menatap Lisa. "Dan kamu tolong jelaskan ini semua pada warga supaya mereka tidak salah paham."
Warga yang bertubuh gempal mendekati Arash. "Kami cuma tidak mau kalau di desa kami ini ada penculik bayi, dan tadi apa katamu tidak punya bukti ini buktinya mereka membawa bayi ibu ini kabur kesini." Ia terlihat begitu ngotot saat menjawab Arash. "Jika mereka tidak mau kami seret, bawa saja keduanya pergi dari sini sebelum kami memanggil para warga yang lain," sambungnya lagi.
__ADS_1
Arash yang merasa Witma dan Tami tidak akan aman tinggal di kontrakan itu memutuskan untuk membawa mereka, mengingat pesan Furqon kalau dia menitipkan kedua adiknya itu. "Baiklah, saya akan membawa mereka pergi dari sini jika bapak-bapak lebih percaya wanita ini." Arash kemudian berjalan masuk ke dalam kontrakan itu.
"Kak Arash, kita baru saja pindah kesini tapi kenapa sekarang malah jadi begini?" Tami bicara begitu saat Arash melewatinya begitu saja. "Kak Arash, sewa kontrakan ini tidak murah lho, dan juga uang Kak Witma sudah tidak ada untuk menyewa kontrakan lain." Meskipun usia Tami masih terbilang sangat muda tapi pikirannya jauh lebih dewasa dibandingkan dengan Witma. Maka dari itu ia yang lebih banyak bicara membela dirinya dan juga membela sang kakak yang hanya bisa diam saja.
"Sudah Tam, jangan pikirkan itu biar aku nanti yang mengurus semuanya. Kamu kemas kembali saja pakaian yang tadi sempat kamu keluarkan itu." Kini giliran Arash yang meyakinkan Tami supaya mau mengemas kembali pakaiannya. "Setelah itu bawa satu-persatu ke dalam mobil."
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu pelakor! Dasar tidak punya malu. Awas saja hukum karma telah menantimu bersiap-siap saja." Tami menakuti Lisa.