Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Witma Sadar


__ADS_3

Arash bernafas lega karena Rose tidak jadi ke rumahnya. "Alhamdulillah, Mama tidak jadi datang kerumah," gumam Arash pelan sambil mengelus dadanya. "Maafkan aku Ma, aku terpaksa menyembunyikan ini semua dari Mama dulu karena aku tahu Mama tidak akan pernah setuju kalau aku menikah dengan Witma." Rasa bersalah memang ada di hatinya karena baru kali ini ia menyembunyikan masalah besar seperti ini. Kepada kedua orang tuanya termasuk keluarga besarnya dan tidak bisa dipungkiri ia memang mengaku bersalah dalam hal ini. "Aku akan menunggu waktu yang tepat, dan akan menceritakan semuanya kepada Mama dan Papa." Ia mulai duduk termenung mengingat perdebatannya beberapa minggu yang lalu dengan kedua orang tuanya saat ia memberitahu niat baiknya untuk melamar Witma.


πŸ‚πŸπŸ‚πŸ


"Ma, Pa. Aku berniat ingin melamar Witma apa Mama dan Papa setuju?" tanya Arash kepada kedua orang tuanya. Saat mereka sedang asik menonton tv. "Asal usul Witma pasti Mama dan Papa sudah tahu dan seperti apa statusnya saat ini, maka dari itu aku tidak perlu menjelaskannya panjang lebar lagi," sambungnya langsung tutup poin saat mengatakan itu semua tanpa jeda.


Rose yang sedang mengupas buah mangga untuk Andri spontan menyayat jarinya karena ia kaget bukan main. "Apa Mama tidak salah dengar Arash? Kamu mau menikah dengan Witma janda yang masih di bawah umur itu? Tidak, Mama dan Papa tidak akan pernah setuju." Rose menggeleng kuat sambil mengambil beberapa lembar tisu untuk menyeka darahnya yang sedikit, karena tergores oleh pisau yang tadi. "Kamu masih bujang dan perjaka Arash banyak yang mau sama kamu jadi, buat apa kamu ingin menikahi Witma yang nyata-nyata sudah bekas orang." Ia sepertinya benar-benar tidak setuju kalau Arash ingin menikahi Witma.


"Iya, nih. Apa-Apaan kamu Ar, ingin menikah dengan seorang janda. Apa kata keluarga besar kita nanti coba?" sahut Andri membalas ucapan Rose sambil bertanya.


"Ma, Pa. Status bukan menjadi halangan untuk aku menuju kebahagian, Witma memang seorang janda tapi bagiku itu semua tidak jadi masalah." Arash menimpali ucapan kedua orang tuanya. "Aku yakin, keluarga besar kita juga pasti akan menerima keputusanku ini. Karena menikah dengan seorang janda itu sama sekali bukan aib." Ia akan terus berusaha meyakinkan kedua orang tuanya sampai mereka setuju. "Ma, aku tidak meminta apa-apa dari Mama juga Papa, aku hanya ingin meminta restu saja atas niat baikku ini."


Rose berdiri dari duduknya. "Tidak Arash, mau sampai kapanpun Mama tidak akan pernah setuju. Di luaran sana masih banyak gadis yang masih tersegel rapi kamu tinggal pilih biar Mama pinangkan untukmu," ujar Rose berharap pendirian Arash goyah. "Kamu tinggal pilih Arash mau wanita yang berkarir atau wanita yang biasa saja tapi dijamin dia dari keluarga terpandang," lanjutnya yang masih berdiri.


"Mending kamu tidak usah menikah Arash," kata Andri yang ikut beranjak dari duduknya. "Jika bersama Witma, karena Papa juga tidak akan pernah merestui hubungan kalian." Ia lalu pergi dari sana karena merasa kecewa dengan keputusan apa yang putranya inginkan.


"Tolong hargai keputusan aku untuk kali ini saja Ma, karena Witma adalah cinta pertamaku dari dulu sampai sekarang." Arash ingin mencoba berbicara dari hati ke hati berharap Rose bisa menerima keputusannya ini. "Meskipun Witma seorang janda, tapi dia wanita yang sangat baik Ma. Aku yakin Mama akan sangat mudah membuka hati dan langsung bisa sayang kepadanya jika nanti dia menjadi istriku."

__ADS_1


"Silahkan pilih dia dan segera coret namamu dari kartu keluarga kita Arash." Rose pergi menyusul Andri setelah kalimat itu keluar dari mulutnya.


Pada saat itu juga Arash merasa sangat kecewa, ia tidak menyangka kalau ternyata kedua orang tuanya membeda- bedakan status dan juga kasta. "Ya Allah, kenapa niat baik seperti ini harus terhalang restu," gumamnya lirih.


πŸπŸ‚πŸπŸ‚


Hingga tepukan di pundaknya membuat lamunanya menjadi buyar.


"Ngapain di luar?" tanya Furqon yang tadi menepuk pundak Arash beberapa kali dengan pelan.


"Kak Furqon, ngagetin saja aku baru saja pulang dari mushola. Gimana apa semua sudah beres?"


Arash hanya membalas dengan cara menyengir, sehingga deretan gigi putihnya kelihatan.


"Aku sampai lupa memberitahumu kalau Witma sudah sadar dari tadi, kamu coba deh masuk untuk menjelaskannya sedikit saja tentang apa yang telah terjadi," ujar Furqon serius tidak seperti yang tadi terkesan bercanda.


"Benarkah? Kalau begitu aku masuk dulu kak," kata Arash berpamitan untuk masuk ingin menemui Witma.

__ADS_1


***


"Apa sebenarnya maksud semua ini, kak?" Witma sudah langsung saja melontarkan pertanyaan ke Arash ketika baru saja melihat bayangan Arash di pintu.


Bukannya menjawab Arash malah mengucap salam dengan suara lembut dan tak lupa ia juga menanyakan keadaan Witma saat ini. "Assalamualaikum, istriku. Kamu tidak apa-apa 'kan?"


Witma sampai lupa kalau saat ini Arash sudah sah menjadi suaminya, ia kemudian menunduk sambil menjawab salam. "Wa'alaikumussalam, aku tidak apa-apa kak, akan tetapi saat ini aku butuh penjelasan." Saat ini ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan senang atau bersedih karena tiba-tiba saja wajah ceria Dina menari-nari di pelupuk matanya. Mengingat sahabatnya itu sangat tergila-gila dengan Arash.


"Aku hanya menyelesaikan permasalahan yang selama ini mengusik relung hatiku Witma dengan cara menikahimu, walaupun aku sempat menyembunyikan identitasku tapi percayalah aku tidak memiliki niat jahat. Justru aku melakukan ini karena rasa sayang ini semakin lama semakin menjadi-jadi hingga tumpukan rindu tidak bisa lagi aku ungkapkan dengan sebuah kata-kata." Arash mengatakan itu karena ia tulus mencintai Witma karena Allah. "Jangan hanya gara-gara ini kamu akan membenci suamimu ini Witma." Ia menunjuk dirinya sendiri.


"Tidak usah memikirkan hal yang tidak penting Witma, karena itu tidak ada gunanya. Yang terpenting saat ini kita sudah sah menjadi suami istri meski dengan caraku yang sedikit salah." Ternyata Arash mengakui kalau caranya memang salah meskipun demi kebaikan. "Aku ikhlas kalau kamu mau marah-marah sama aku, asalkan kamu jangan berniat pergi dari hidupku."


Witma yang tadi memang ada niat marah-marah dengan Arash mengurungkan niatnya karena ia merasa sedikit kasihan dengan suaminya, saat melihat mata Arash sudah mulai berkaca-kaca. "Apa kedua orang tua kak Arash tidak meβ€”"


"Sttt … tidak usah memikirkan itu, saat ini yang harus kamu pikirkan tentang bagaimana caranya kamu melupakan Reka demi aku," potong Arash.


......................

__ADS_1



__ADS_2