
"Tidak apa-apa Kak Alma sudah pergi," kata Arash yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Abang, aku takut …," gumam Witma lirih.
"Tidak akan ada yang terjadi, kamu tenang saja oke." Arash lalu menggenggam tangan Witma. "Jangan pikirkan ucapan dan perkataan Kak Alma yang tadi, aku sebagai adiknya harus bertanggung jawab atas kalimat-kalimatnya yang tadi, maka dari itu aku ingin meminta maaf kepadamu atas nama Kak Alma," ucapnya. Ia kemudian mencium tangan Witma beberapa kali untuk meyakinkan wanita itu bahwa ia benar-benar tulus mencintainya dan tulus meminta maaf atas nama sang kakak.
Witma menggeleng lemah. "Semua yang dikatakan kak Alma memang benar, bang kalau aku ini janda yang gatal dan janda yang mandul." Witma menunduk karena jujur ia tidak sanggup berlama-lama menatap kedua netra Arash. "Aku juga memang pantas disebut je la–"
"Ssst, aku mohon … jangan pernah katakan itu lagi, karena kamu bukan wanita seperti itu," ucap Arash dengan cepat memotong kalimat istrinya itu. "Aku cuma mau kamu tolong maafkan Kak Alma itu sudah cukup, tanpa kamu ulangi lagi kata-katanya yang tadi sungguh telingaku sangat tidak senang mendengarnya." Ia tahu saat ini Witma pasti akan selalu memikirkan ucapan sang kakak. "Dengar baik-baik Witma, meski semua orang di dunia ini menganggapmu buruk, menganggapmu wanita yang tidak benar aku suamimu ini." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Akan tetap mengatakan kamulah wanita yang paling sempurna di mataku, wanita yang paling baik di antara semua wanita-wanita yang pernah aku kenal." Setelah mengatakan itu ia membawa Witma masuk ke dalam pelukannya. Bermaksud untuk memberikan Witma sumber kekuatan untuk bisa melewati ujian seperti ini.
"Bukankah kamu sudah sering melewati badai, lalu buat apa kamu harus mundur hanya karena gerimis?" tanya Arash secara tiba-tiba saat ia mengingat bagaimana Witma berjuang supaya Reka tidak menceraikannya dulu, ternyata apa yang telah terjadi dengan Witma semuanya ia sudah tahu.
"Tidak bang, aku tidak mundur hanya karena gerimis, andai saja mentalku belum cukup pulih untuk melawan semua ini lagi," jawab Witma pelan.
"Badai hadir tidak untuk menghancurkan kehidupan kita, melainkan untuk membasuh dan membersihkan kita. Selalu ada hal positif yang bisa kita petik dari terpaan badai sekalipun," kata-kata Arash membuat hati Witma berdesir.
__ADS_1
Karena Witma manjadi mengingat kata-kata ayahnya yang selau saja mengatakan itu sewaktu ayahnya masih hidup.
"Itulah mengapa saat badai menghantam, kita harus kuat karena bagaimanapun juga, itu akan berlalu setelah itu, akan ada pelangi indah yang menanti kita yang bertahan dalam badai. Maka yakinlah badai pasti berlalu kita juga akan melewati ini semua bersama-sama." Arash mengelus pipi Witma. "Aku akan memastikan kamu akan hidup bahagia tidak sengsara seperti dulu, pegang janjiku ini."
"Abang tetap ada disisiku seperti ini saja, itu sudah cukup membuatku bahagia," ucap Witma sambil mengangkat wajahnya ingin melihat wajah Arash.
*
*
"Dia cuma setuju untuk datang kesini nanti malam, dan untuk yang Mama rencanakan itu tanya saja sama Arash langsung," jawab Alma sambil mengaduk-ngaduk adonan kue yang akan mereka buat.
"Emang kamu bilang sama Arash kalau malam ini ada acara makan malam?"
Alma memjawab dengan hanya mengangkat bahunya saja, karena saat ini ia masih memikirkan bagimana caranya memberi tahu kedua orang tuanya tentang Arash yang sudah menikah.
__ADS_1
"Kamu kenapa Al, Mama perhatiin sejak kamu pulang dari rumah Arash kamu kelihatannya melamun mulu, apa jangan-jangan kamu kesambet setan yang ada di rumah itu?"
"Aish, Mama apa-apan sih, Alma cuma ngantuk gara-gara semalam kurang tidur." Alma yang tidak mau di kira kesampet setan malah berbohong kepada Rose tetang dirinya yang kurang tidur. Karena tidak mungkin ia akan mengatakan kalau sedang melamun memikirkan Arash yang sudah diam-diam menikah dengan Witma. "Mama lanjutin sendiri ya, soalnya Alma mau bobok dulu ngantuk," katanya sambil membersihkan tangannya di wastafel.
"Ini masih banyak Al, gimana sih kamu masa mau ninggalin mama sendi–" Kalimat Rose terputus karena mendengar suara Arash mengucap salam. Lalu ia dan Alma menjawab salam Arash bersamaan.
"Wah, lagi pada ngapain tumben Kak Alma ikut turun tangan untuk memasak ke dapur," ucap Arash sambil tersenyum menatap mama dan kakaknya. "Emang ada acara apa, makanya masak sebanyak ini?"
"Cuma acara makan malam," jawab Rose dengan cepat. Karena Alma hanya diam saja. "Maka dari itu, kamu nggak usah pulang malam ini kerumah kamu."
"Dia nggak akan mau, karena ada yang spesial di rumahnya," celetuk Alma menimpali Rose.
...****************
__ADS_1
...