Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Tami Merasa Dongkol


__ADS_3

"Muai sekarang kita akan tinggal di rumah yang kecil ini apa sayang tidak keberatan?" tanya Arash disaat ia dan Witma sedang berbaring di atas ranjang setelah tadi selesai menunaikan ibadah sholat isya.


"Tidak, kemanapun abang membawaku pergi aku akan selalu ikut dan mulut ini tidak akan pernah protes," jawab Witma sambil terus meraba pipi sang suami karena posisinya saat ini menjadikan dada bidang Arash sebgai bantal. "Apa pipi abang masih terasa sakit?" Tangannya kini terulur menyelusuri rahang Arash yang sudah mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.


Arash yang di tanya menggeleng. "Bekas tamparan Papa tidaklah terasa sakit, yang sakit itu disini." Ia menepuk pelan dadanya. "Karena keluargaku sendiri tidak ada satupun yang percaya kepada abang sungguh rasa sakitnya berlipat-lipat, hanya kamu istriku yang paling abang sayang yang percaya kepada abang bahwa tidak pernah melakukan semua itu kepada Anja," kata Arash yang membuat Witma merasa sedih karena mendengarnya berkata demikian. "Abang minta jangan pernah tinggalkan abang dalam keadaan apapun itu." Ia mengelus punggung Witma dengan perasaan yang semakin menyayangi wanita yang bersetatus sebagai istrinya.


"Abang, jika mama dan papa datang kesini dan mambawa abang pergi untuk meminta abang tetap mempertanggung jawabkan semuanya meski abang tidak bersalah apa yang akan abang lakukan?" Witma bertanya begitu karena ia benar-benar takut jika ia harus di pisahkan dengan Arash oleh Rose dan Andri secara paksa.


"Itu tidak akan terjadi, karena tidak akan ada yang menemukan kita disini," jawab Arash yang tahu pasti Witma sangat takut tentang hal itu. "Aku sengaja memilih tempat yang seperti ini, jauh dari permukiman dan juga jauh dari ibu kota supaya Kak Alma, Mama dan Papa tidak bisa menemukan keberadaan kita jadi, berhenti memikirkan akan hal itu karena kenyamanan dan kebahagianmu itu adalah tugas utama abang."


Tidak terasa air mata Witma menetes mendengar deretan kalimat sang suami, ia menangis karena merasa terharu di saat ia menyadari bahwa cinta Arash memanglah sangat tulus. Ia jadi semkain merasa bersalah karena ia sempat meragukan cinta dan kesetiaan Arash terhadap dirinya.


Arash yang merasakan tetesan air yang jatuh di dadanya berkata, "Kenapa malah menangis, apa kata-kata abang melukai hatimu?" Seperti biasa Arsah akan bertanya dengan suara yang lemah lembut kepada istrinya.


"Ini adalah air mata bahagia bang, karena aku telah berhasil menemukan laki-laki yang tulus dalam mencintaiku tanpa memandang fisik, kisah kelam masalaluku dan juga statusku yang hanya seorang janda," jawabnya lirih.


"Jika begitu, janganlah memiliki niat secuilpun untuk meninggalkan abang." Arash meraih jemari-jemari Witma dan menciumnya beberapa kali. "Tidurlah, karena besok pagi adalah hari dimana kita akan berangkat kerja dan abang akan memperkenalkanmu sebagai istri abang di cafe."

__ADS_1


Witma menggeleng saat mendengar itu. "Tidak abang, biarkan saja pernikahan kita ini menjadi rahasia dulu, karena aku tidak mau sahabatku Dina akan menjadi membenciku gara-gara mengetahui kita sudah menikah." Ternyata Witma sudah tahu kalau pemilik cafe itu adalah sang suami. Karena beberapa hari yang lalu Arash sendiri yang memberitahunya. "Apa abang mau berjanji untuk merahasiakan pernikahan kita ini dulu?"


Tidak ada yang bisa Arash lakukan selain menyetujui permintaan Witma. "Baiklah, abang akan merahasiakan pernikahan ini dan sekarang ayo kita tidur." Arash mulai memjamkan mata berharap besok pagi tidak akan ada lagi masalah yang akan menghampirinya.


***


Setelah mereka bertiga selesai sarapan mereka langsung berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman yang ukurannya hanya cukup muat dua mobil saja.


"Tam, nanti sepulang kamu sekolah teman kakak yang namanya Demian akan menjemputmu, dia yang akan mengajarimu cara mengendarai motor matic yang benar," kata Arash yang baru masuk kedalam mobilnya. "Tenang saja, kakak sudah membicarakan ini kepada kakak kamu Witma jadi, kamu tidak usah khawatir tentang dia yang tidak setuju." Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya. "Gimana sayang, kamu setuju 'kan?" Ia meminta persetujuan lagi dari Witma meskipun semalam ia dan Witma sudah membahas hal ini.


Witma yang merasa gugup di panggil sayang di depan Tami begini hanya bisa mengangguk tanda merespon sang suami.


"Tami juga setuju kak, supaya bisa pergi sekolah sendirian tidak merepotkan kakak lagi," jawab Tami dengan wajah ceria, namun siapa sangka di dalam benaknya ia menaruh rasa cemburu yang teramat besar kepada Witma di saat mendengar Arash memanggil sang istri dengan kata sayang. "Tami juga tidak enak selalu jadi orang ketiga seperti ini, Tami merasa jadi kayak nyamuk banget." Ia sengaja mengatakan itu di tengah hatinya yang merasa sangat dongkol.


Witma yang menyadari itu merasa adiknya beberapa hari ini agak sedikit berbeda. Ia beberapa kali melirik ke belakang untuk melihat Tami namun Tami yang di lihat hanya berpura-pura membaca buku. "Tam, apa ada masalah? Kalau ada sini cerita ke kakak." Witma bertanya begitu kepada sang adik.


"Masalahnya Kakak sudah merebut kak Arash dariku seharusnya aku yang menjadi istrinya bukan Kakak yang bersetatus janda," gurutu Tami di dalam benaknya.

__ADS_1


"Tam, kamu dengar kakak 'kan?" Witma bertanya sekali lagi karena ia merasa Tami tidak mendengarnya.


"Hm, tidak ada Kak," jawab Tami singat setelah itu ia kembali lagi menunduk membaca buku.


***


"Abang, turunkan aku disini saja," pinta Witma sehingga Arash mengerem secara mendadak. "Disini saja, karena aku takut nanti ada yang melihatku yang turun dari mobil abang," sambungnya lagi.


"Sayang, abang tinggal bilang kalau kamu nebeng sama abang," ucap Arash yang tidak mau kalau sang istri akan jalan kaki ke cafe.


Witma yang mendengar itu menggeleng tanda tidak setuju. "Abang, aku tidak setuju karena di cafe kita tidak pernah saling kenal masa tiba-tiba udah satu mobil saja," kata Witma memberitahu Arash.


Arash yang tidak mau kalau Witma sampai merajuk mengiyakan permintaan sang istri. "Oke, tapi tunggu ojolnya datang baru abang akan membiarkanmu turun."


Witma mengerutkan alis mendenger Arash. "Ojol buat apa?" tanya Witma heran.


"Abang tidak mau kalau sayang sampai kecapekan makanya abang pesan ojol buat nganterin kamu sampai di depan cafe." Arash menjawab itu sambil mendaratkan kecupan ke pipi Witma.

__ADS_1


"Abang cafe ada di depan sana." Witma menunjuk cafe yang jaraknya sekitar 30 meter dari dalam mobil. "Aku bisa jalan sendiri kenapa abang harus pesan ojol segala?"


"Jaraknya masih terlalu jauh, abang tidak mau kalau sampai bidadari abang ini mengeluarkan keringat karena terlalu capek berjalan kaki." Arash rupanya tidak pernah main-main dengan apa yang ia ucapkan. "Pokoknya tunggu ojolnya datang baru abang akan membuka pintu mobilnya."


__ADS_2