Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Kedatangan Alma


__ADS_3

"Witma sadarlah ini aku Arash, suamimu." Arash tidak henti-hentinya mengatakan itu dari tadi karena ia saat ini benar-benar merasa sangat khawatir melihat Witma dalam keadaan begini. "Witma lihat aku baik-baik ini aku Arash." Ia menahan kedua pundak Witma bermaksud supaya Witma menatap dirinya dan benar saja tidak lama setelah Witma membuka mata ia langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Abang, aku takut, sangat … sangat takut," gumam Witma lirih. "Mas Reka, datang dan ingin mem*kulku dengan sabuknya lagi." Suaranya bergetar karena menahan isak tangis yang sebentar lagi pasti pecah. "Dia, dia … dia mau menghukumku, abang tolong selamatkan aku." Ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Arash.


"Tidak ada siapa-siapa disini Witma selain kita, sekarang tolong lihat aku," pinta Arash kepada Witma yang masih saja betah bersembunyi di dadanya. "Aku ini Arash, suamimu …," ucapnya pelan supaya Witma tidak merasa takut lagi.


Perlahan Witma mulai menuruti apa yang Arash katakan ia mengangkat wajahnya sedikit demi melihat wajah Arash. "Abang," panggilnya serak.


"Iya, ini aku Arash." balas Arash yang langsung menimpali Witma. "Jangan mengingat apa-apa lagi tentang dia, aku mohon jika kamu tidak mau begini lagi," katanya memperingati Witma.


"Abang, maafkan aku … ." Witma malah meminta maaf kepada Arash. "Tolong abang bantu aku, untuk melupakan mas Re—"


"Sttt, jangan sebut lagi namanya," potong Arash cepat. "Cukup mulai sekarang, kamu hanya boleh mengingat aku, Arash suamimu yang tidak akan pernah memperlakukan kamu dengan kasar," lanjutnya.

__ADS_1


Witma menganguk dengan kuat sebagai tanda ia mengarti.


"Sekarang, lebih baik lanjut tidur lagi ya." Arash melihat jam di dinding yang menunjukkan p*kul 03:50. "Aku akan menemanimu di sini," ucapnya yang perlahan mulai membaringkan Witma. "Pejamkan matamu, dan jaga lupa baca doa dulu." Ia juga ikut berbaring di sebelah Witma setelah mengatakan itu semua. "Tidurlah istriku sayang, semoga besok pagi keadaanmu membaik seperti sedia kala." Kecupan di dahi Witma ia daratkan setelah itu berlanjut lagi mengecup kedua kelopak mata Witma yang terpejam. "Cintaku tidak akan pernah memudar, meski warna rambutmu yang hitam berubah menjadi putih," katanya sebelum ikut memejamkan mata.


*


*


Tepat pukul 05:25 pagi, Witma sudah terbangun dan saat ini ia sedang ada di dapur berniat ingin membuat sarapan untuk Arash dan Tami. Namun, saat ia sedang asik mengupas bawang merah sambil bersedandung kecil membaca sholawat Nabi tiba-tiba saja belitan tangan di pertunya membuat ia menjerit karena kaget. "Akhhhh!!"


"Abang, geli …," kata Witma sambil menjauhkan kepalanya, karena tiba-tiba saja ia merasa sensasi geli dan gelenyar yang di timbulkan membuat hawa panas menjelar ke seluruh tubuhnya. "Jangan begini nanti Tami melihat kita. Bang," ujarnya yang takut akan di lihat oleh sang adik saat ia di peluk Arash dari belakang seperti ini.


"Tami masih tidur jadi, kamu tidak usah takut," balas Arash.

__ADS_1


Namun, siapa sangka Alma yang datang kerumah Arash pagi-pagi buta sekali tanpa memberti tahu sang adik malah mendapat kejutan yang luar biasa, ia tidak menyangka Arash yang ia kenal begitu takut bersentuhan dengan seorang wanita tapi kali ia berhasil dibuat tercengang dengan apa yang terjadi saat ini. Ia juga semakin melotot sempurna di saat melihat Arash semakin memeluk sosok wanita yang ia tidak tahu itu siapa.


Perutnya yang sudah sedikit membesar tiba-tiba menjadi kram karena saking shoknya melihat kelakuan Arash, apa lagi saat mendengar kata-kata romantis yang terlontar begitu saja dari mulut Arash. Ia yang sudah tidak tahan akhirnya berterik sekeras-kerasnya memanggil nama Arash meskipun perutnya semakin terasa sangat sakit.


"Arash apa yang kamu lakukan?!" Alma memekik sambil memegang perutnya. "Bisa-bisanya kamu melakukan hal yang sangat menjijikkan seperti ini!"


Arash dan Witma yang kaget spontan menoleh. Saat itu juga mereka melihat Alma yang sudah berdiri dengan wajah merah padam.


"Kau wanita je la ng, berani-raninya menggoda adikku!" Alma menunjuk Witma dengan nafas naik turun. Ia ternyata belum menyadari kalau wanita yang ia sebut je la ng itu adalah Witma.


"Kak Alma, sejak ka—"


"Diam Arash, kamu selalu mengingatkan Kakak tentang dosa lalu kenapa, kamu sendiri malah melakukannya?" Alma menatap Arash dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Neraka menangis melihat kelakuanmu yang sangat tidak terpuji ini Arash. Sungguh Kakak sangat kecewa denganmu!"

__ADS_1


"Kakak, dengar dulu dia ini is—"


"Oh, rupanya dia Witma seorang janda yang selama ini kamu incar." Lagi-lagi Alma memotong kalimat Arash. "Mama dan Papa harus tahu ini semua, supaya mereka melihat kelakuan anaknya yang sok alim ini!" Suaranya begitu lantang.


__ADS_2