Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Pulang


__ADS_3

Setelah Reka menjatuhkan talak Witma merasa dunianya seakan hancur, ia kini hanya bisa pasrah dan pada saat itu juga ia langsung saja pergi dari rumah Lisa tanpa membawa apapun. Ia juga sama sekali tidak melawan ataupun marah-marah setelah kalimat talak keluar dari mulut Reka.


Kini ia berjalan sambil menyeret kakinya yang terasa lemas menuju sebuah rumah kecil yang terletak jauh dari pemukiman tempat dimana ia dibesarkan, sambil bercucuran air mata ia terus melangkah.


Tok … tok … tok … tok, tepat di depan pintu ia berdiri, rambut penuh acak-acakan wajah yang begitu kusam pakaian yang kusut menandakan dia sedang tidak baik-baik saja. "Assalamualaikum, Bu buka pintu … ini aku Witma," ucapnya lirih.


Terlihat seorang wanita paruh baya berjalan untuk membuka pintu. Kreeattt … pintu yang kelihatan rapuh terbuka. Ratih terlihat bingung kenapa putrinya bisa datang larut malam begini, dengan penampilan yang sangat berantakan. "Waalaikumsalam," jawab Ratih. "Apa yang terjadi dan mana Reka, suamimu?" tanya Ratih langsung.


Witma langsung memeluk ibunya dengan air mata yang terus mengalir, wanita paruh baya itu masih belum mengerti karena tidak biasanya Witma datang dalam keadaan begini.


"Ibu … Witma sudah gagal menjadi seorang istri."


Ratih dengan cepat menyuruh Witma masuk sebelum membalas. "Mari masuk dulu Nak, kita bisa bicara di dalam."


Witma melepaskan pelukannya mengikuti Ratih untuk masuk ke dalam rumah yang kecil dan begitu sempit.


"Sebenarnya apa yang terjadi ibu belum mengerti maksudmu datang ke sini sudah larut malam begini?"


Briana menarik nafas sebelum mengatakan yang sebenarnya. "Mas Reka … sudah menceraikan aku, Bu." Witma menunduk. Rasanya ia ingin menceritakan kalau dirinya telah dimadu.

__ADS_1


Ratih sangat terkejut mendengarnya, karena yang selama ini ia tahu rumah tangga Reka dan Witma baik-baik saja.


"Kenapa Reka setega itu kepada mu, Nak?"


"Apa Ibu juga mau memarahi Witma?" Suara Witma serak dan bergetar saat bertanya begitu.


Ibu Ratih menggeleng. "Witma putri Ibu yang Ibu sayangi, mana mungkin Ibu tega memarahimu, Nak."


Saat itu juga Witma langsung saja bersujud di kaki Ratih. "Maafkan Witma Bu, Ibu pasti sangat kecewa padaku."


Ratih memegang bahu Witma menuntunnya untuk kembali duduk. "Sudah lah Nak, ini mungkin yang terbaik untukmu, terima dengan lapang dada. Bukankah maut, rezeki, dan jodoh tidak ada yang tahu?"


Ratih mencoba menenangkan sambil terus mengusap air mata Witma. "Tenangkan pikiranmu, ini semua sudah terjadi jangan sia-siakan air matamu hanya demi laki-laki yang membuangku seperti sampah," kata Ratih yang sebenarnya sudah tahu kalau ternyata Reka menduakan putrinya.


Witma terdiam, mendengar ucapan Ratih yang ada benarnya juga. "Ibu sebenarnya Mas Reka, meni—"


"Lebih baik Witma membersihkan diri dulu, Ibu tunggu di sini," potong Ratih cepat yang sudah tahu apa yang akan Witma katakan.


Dengan lemah Witma berdiri melangkah gontai menuju kamar mandi, setelah mendengar ucapan Ratih. "Kalau begitu Witma mandi dulu, Bu."

__ADS_1


Ratih terus saja memandang bahu putrinya sambil diam-diam mengusap air matanya. "Ibu dan Ayah membesarkanmu dengan susah payah, sekarang melihatmu begini ibu jadi ikut terluka," gumam Ratih lirih.


Ratih masih duduk di kursi rotan, menunggu Witma. Hingga beberapa menit akhirnya Witma keluar penampilannya tidak seburuk tadi namun raut wajahnya masih terlihat sangat murung.


"Tidak ada seorang Ibu yang tidak sakit hatinya, karena mendengar putri yang dirawat dengan penuh kasih sayang pulang dengan keadaan yang begitu memprihatinkan," gumam Ratih di dalam benaknya saat melihat Witma tersenyum ke arahnya.


"Makan dulu, Ibu sudah menyiapkan makanan yang paling Witma suka," ucap Ratih.


Witma tampaknya tidak berselera makan, meski di hadapannya ada sayur bening, ikan nila pepes lengkap dengan sambal. Biasanya dia akan makan tanpa disuruh tapi kali ini Witma tidak melirik nya sedikit pun. "Witma sudah kenyang, Ibu saja yang makan."


Tidak menyerah Ratih mengambil sendok ingin menyuapi Witma. "Buka mulutmu, biar Ibu yang menyuapimu." Namun Witma menolaknya lagi.


"Ibu, Witma tidak lapar." Witma menolak secara halus. "Hati Witma sakit Bu, tidak pernah terlintas di benak ku sedikit pun akan menjadi seorang janda," lirihnya.


Sambil menepuk-nepuk bahu putinya, Ratih sesekali ikut mengusap air mata.


Kini malam sudah semakin larut namun Ratih masih setia menemani Witma yang terus saja melamun."Witma begadang tidak baik untuk tubuh." Setelah mengatakan itu Ratih beranjak dari tempat duduknya. Namun, Witma memegang tangannya.


"Malam ini Witma mau tidur di kamar ibu saja," ujar Witma.

__ADS_1


Dan malam yang sunyi dan sepi ini menjadi saksi bisu bagaimana keadaan Witma yang begitu hancur.


__ADS_2