
"Leon ... sejak kapan lo ngikutin gue?" mundur ke belakang.
"Kenapa terkejut istri gue yang cantik" mendekati Mika perlahan.
"Siapa yang terkejut, enggak. Bahkan biasa-biasa saja ko" elaknya.
Tidak ada kata terindah selain sikap terus terang, apalagi sikap takut kehilangan. LDR itu gak gampang, tapi susah. Di sini bilang a di sana bilang b, itu yang membuat kepercayaan pudar secara perlahan.
"Masa sih ?" terus mendekat dan mika terus mundur sampai dirinya terpentok ke dinding.
Sumpah, kisah ini seperti novel-novel remaja dan beberapa drama Korea dan China yang pernah ia tonton tak lupa Thailand dan yang lainnya, adegan ini. Oh, jadi seperti ini rasanya terpojok sampai dinding saat di goda, wajah mika tersipu.
"Wajah lo memerah mika, ada apa ? lo tersipu atau jangan-jangan lo suka gue pojok kan begini?" membisikkan kata-kata itu pada mika.
"Masa sih." Jadi salah tingkah.
Leon suka melihat sahabat sekaligus istrinya tersipu, kecantikannya terpancar luar biasa sekali.
'Kapan sih mika kita buat dedek?' bertanya dalam hati sambil menatap lama mata mika.
"Beneran, nih ... di sini tempat tersipu nya," mencubit pipi mika.
Mika langsung mengusap bekas cubitan Leon.
"Jangan aneh-aneh deh Leon, gue mau istirahat dan lo pilihlah kamar lo sendiri, jangan dekat-dekat gue." Bergegas pergi sambil berlari.
"HEY ... MIKA RIANA, KAMARNYA CUMA SATU DOANG," berteriak sekencang-kencangnya.
Mika yang berada di tengah-tengah anak tangga langsung menghentikan langkahnya.
"What, cuma satu" menghadap Leon.
Leon mengangguk.
"Iya, cuma satu dan yang berada di sebelahnya adalah gudang penyimpanan." Ucap Leon membuat otot-otot mika lemas seketika.
Baru juga kabur sudah di tangkap kembali.
'Gak ada batu bata lagi, pakai apa coba pembatasnya ?' berpikir jernih.
Leon tidak akan mau tidur di lantai ataupun sofa, memang ya tulang orang kaya sama orang gak ada beda. Bedanya orang kaya akan sakit-sakitan, tapi kalau orang gak punya gak berefek apa-apa tuh. Kecuali badan benar-benar kurang fit.
Leon sudah mengekori mika yang melamun di anak tangga.
"Mika, ayo." Menarik tangan mika.
Mika terpaksa mengikuti Leon, perjalanan begitu lama membuatnya lelah. Akan tetapi jika tidak melakukan kegiatan di rumah baru, bukannya tidak enak dengan tetangga sebelah meski tempat ini berada di pemukiman rapi tapi tidak elit, sebab permintaan Leon.
Leon tau betul jika mika istrinya tidak terlalu suka dengan kemewahan, bukan berarti gak mau. Kalau bisa tidak menyusahkan pihak lain.
Saat istirahat.
"Leon." Mika menatapnya.
"Ada apa Mika?" sambil mengerjakan sesuatu di ponselnya.
"Ngapain sih lo pakai acara ngikutin gue?"
__ADS_1
"Gak suka gue ikutin, bukannya seharusnya seneng di ikutin suami sendiri !" masih fokus pada ponsel nya.
"Padahal gue niatnya dari awal pengen ngerasain LDR Leon." Gerutunya.
Leon menatap mika dengan kecewa, segitu tidak pantaskah diri ini untuk singgah dan bersanding lama.
Mika menatap perubahan raut wajah Leon, wajahnya terlihat sedih.
'Ini, gak boleh terjadi. Gue harus bertoleransi dan membuka perasaan, gue gak mau persahabatan dari kecil sampai sekarang nikah hancur sia-sia karena ego gue.'
Mika sudah bertekad akan merubah perlahan-lahan semuanya, itu pasti dan tidak akan ia ingkari dalam hidupnya.
Leon beranjak.
Mika menggenggam pergelangan tangan Leon.
"Leon, Lo mau kemana ?" sedikit ada gengsi.
"Cari angin,mau ikut?" balik bertanya dan menawarkan.
Mika mengangguk.
Ia menatap posisi tangan yang sudah berubah yang awalnya mika memegang pergelangan tangan Leon, kini gantian Leon yang menggenggam tangan Mika erat-erat.
"Kemana?"
Hanya kedipan satu mata yang Leon berikan.
Mika berdecak kesal, kenapa orang ini suka bikin kejutan dan jail.
Sesampainya di taman.
Semua listrik padam dan kini tinggal satu set meja lengkap dengan lilin, dinner.
Mika menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Lo suka."
Ia mengangguk, terharu.
Baru kali ini ia merasakan makan malam yang romantis, kenapa rasanya seperti bulan madu.
'Malam ini gue harus berhasil, gue mau miliki mika seutuhnya.' Batin Leon bahagia.
Mika tidak merasakan ada keanehan dari Leon, biasa-biasa saja seperti kemarin-kemarin.
"Lo mau gue suapi?" Leon menyodorkan garpunya.
Di negara lain, adat istiadat dan tata cara makan pun ada peraturannya. Tidak seenaknya jidat makan tinggal makan, tidak. Itu bisa jadi masalah besar untuk diri sendiri, bahkan ada negara yang menerapkan makan harus ada sisa dan lain-lainnya.
Ia mengangguk dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Gluk
Leon menelan salivanya, ia sudah tidak tahan lagi. Setiap pergerakan mika membuatnya panas dingin begini, lidah dan bibirnya sangat cantik dan merah merona bukan menor.
"Mika sini." Menarik tangan mika tergesa-gesa.
__ADS_1
Meski sekarang berada di area rumah mereka tapi di tarik-tarik begini rasanya sungguh aneh, padahal makan baru saja selesai dan suapan Leon juga baru masuk perut.
"Ada apa sih, lo aneh Leon," protesnya.
Leon tidak menanggapi ocehan mika, ia hanya ingin mika jadi miliknya.
"Mi-- ka-- ah-- tolong gue." Suaranya berat.
Ada apa dengan Leon.
'Kenapa nih bocah, perasaan saat makan gak apa-apa. Tapi setelah minum air putih sebagai penutupnya jadi aneh?'
Leon terus meronta.
"Ya ampun, Lo habis minum apa Leon?" tanya mika keheranan.
"Gue gak minum apa-apa, terakhir air putih tadi!" menahan segala has rat yang sudah berada di ubun-ubun.
"Pakai air dingin, ayo ke kamar mandi!" berusaha menarik Leon agar ia nurut dan mau ke kamar mandi.
Leon mengangguk pasrah, ia tidak ada niatan untuk minum itu atau bahkan memberikan itu pada mika. Yang ia mau has rat murni keluar dari diri, bukan bantuan ini. Leon masuk ke dalam bak mandi yang berisikan air dingin.
"Ah-- hah-- hah--" Leon terus mengatur nafas.
Setidaknya jika mika berada di luar kamar mandi titik has ratnya tidak muncul
"Obat sialan, siapa yang meletakkan obat." Mengumpat sambil memukul air di bak mandi.
Pyak
Pyak
Berkali-kali Leon pukul air itu, semua tumpah di lantai tapi Leon berusaha meraih shower dan menyalakan air dingin untuk membasmi has ratnya.
Mika yang berada di luar kamar mandi, cemas sambil menggigit ujung kukunya.
"Gimana keadaan Leon, Leon benar-benar aneh tingkahnya. Kenapa tadi ia minta tolong begitu aneh, ada suara berat tapi ..." terus berpikir.
Tapi tidak kunjung menemukannya jawabannya.
Satu setengah jam berlalu, mika sampai tertidur di tempat tidur sebab menunggu Leon yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
Tok
Tok
"Leon, apa Lo masih hidup?" mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Leon tertidur langsung bangun, bukannya mendapatkan ke khawatiran tapi justru sebaliknya.
"MASIH HIDUP." Teriaknya ketus.
"Eh ... orang ini,"
BERSAMBUNG.
Lagi gak mood nulis kalau pendukungnya pada kabur, yuk kak klik favorit nya lagi dan bilang ke teman-temannya.
__ADS_1
Terimakasih 🥰🥰🥰