
"Segera kerjakan, kenapa melamun. Apa mau memakan gaji buta kamu." Dengan ketus.
Leon bukannya sengaja, namun ingin melihat wajah kesal Xia yang mirip sekali dengan Almarhumah istrinya Mika Riana, bahkan jika papanya tau ada wanita semirip Mika apakah papanya akan melakukan hal-hal jahat kembali, tidak bisa. Ia harus memikirkan cara agar papanya tidak tau tentang keberadaan Xia di kantornya.
'Aku harus pastikan, jika Xia aman berkerja di kantor ini. Aku harus persiapkan beberapa orang lagi untuk mengawasi gerak gerik papa sambil mencari tau tentang Xia dari keluarga Arcelio.' Leon berencana.
Mika menatap sinis sambil mendesis.
"Ish ... bos ini, kenapa sedari tadi menatapku dengan penuh makna. Apa jangan-jangan dia jatuh cinta, ish ... stop Xia, apa yang sedang kamu khayalkan. Meski ya ... aku akui dia tampan sebab ada uang, beda kalau gak ada uang, sudah dompet tipis plus pelit." Bergumam namun tetap membersihkan ruangan tersebut yang jelas-jelas debu saja enggan untuk singgah.
Seusai mengerjakan pekerjaannya yang ternyata tiada henti, kini ia mulai menyesali mengambil keputusan waktu itu. Kenapa ia ceroboh dan tidak berpikir ribuan kali untuk tetap tinggal aman serta nyaman di kediaman Arcelio.
Wajahnya menjadi lesu dan Leon tidak suka wajah cantik itu berubah lesu.
"Hey ... Xia, segeralah pergi beristirahat." Perintah seperti mengusir bawahan.
Mika sadar jika dirinya bukan apa-apa di perusahaan ini, hari ini mulai berkerja namun hari ini adalah hari sialnya.
Ia mengangguk sebelum beranjak pergi dari ruangan tersebut, perasaan nya kini mulai gelisah tak karuan seperti bertemu kekasih lama yang terlupakan.
"Hoey." Teriakan Melly memekik telinga saat Mika melamun di salah satu sudut ruangan di gudang penyimpanan.
"Ada apa sih mbak ?" malas meladeni wanita yang berada di sampingnya yang sedang berdecak pinggang sambil bibirnya bergumam tidak jelas.
"Eh ... anak baru, jangan sok belagu ya. Apa kamu tau aku ini senior kamu, aku ini dari perusahaan besar Kharel yang ada di pusat kota bahkan pusat icon Indonesia !" ucapnya dengan nada sombong.
Mika tidak menanggapi bualan wanita itu, terserah mau berbicara apa yang jelas ia di tempat ini berkerja dengan sungguh-sungguh tanpa ikut campur masalah orang lain apalagi sampai kepo dengan urusan orang-orang yang suka berbicara besar.
__ADS_1
"Lantas??!!" menatap malas.
"Hey ... kenapa nada bicaramu sesombong itu Xia, ingat kamu ini hanya bawahan yang sedang beruntung mendapatkan pekerjaan di sini sebagai cleaning servis, kalau kamu aku bilang kan ke manager bakalan mampus kamu. Lagian kenapa kamu lancang bersih-bersih di ruangan tuan muda yang jelas-jelas itu bagian ku tadi pagi." Menunjuk-nunjuk wajah Mika.
Mika menghela nafas.
"Maaf ya mbak, bukannya aku bermaksud lancang. Tapi apa ya mbak hubungannya pekerjaan yang sedang aku lakukan dengan mbak, bukannya mbak itu office girl bukan tukang bersih-bersih ?" membalikkan keadaan dengan cepat.
Melly berdecih sebelum pergi.
Mika tersenyum manis, kali ini ia bisa melawan wanita itu tapi entah nanti dan besok-besok apakah bisa melawannya. Apalagi statusnya ia berkerja di sini karena beruntung tanpa ijasah pula.
"Ada benarnya sih ucapan mbak Melly tadi, aku hanya beruntung bisa berkerja di tempat ini apa jadinya jika aku melakukan kesalahan fatal, apakah aku masih bisa berkerja di tempat ini tempat yang membuatku merasa nyaman dan di lindungi." Mika bergegas melanjutkan pekerjaannya dari pada berurusan dengan orang-orang yang membuatnya kesal hari ini.
Leon fokus menatap layar laptopnya sambil mengerjakan beberapa pekerjaan yang perlu ia tangani langsung, walaupun menguras tenaga serta pikirannya namun kini secercah harapan jika Xia adalah Mika istrinya membuatnya tidak merasa lelah pekerjaannya. Apalagi keluarga Arcelio ternyata bisa di ajak berkerja sama meski belum pernah bertemu secara langsung, tapi kedepannya akan ada pertemuan secara pribadi sebab menyangkut hal privasi.
Nathan menemui Mika di salah satu taman dekat kantor dan secara kebetulan Leon tidak jauh dari tempat kedua insan itu saling bertemu bahkan memeluk satu sama lain layaknya sepasang suami istri yang sudah lama tidak bertemu.
Leon memukul stir kemudinya, ia tak suka melihat pemandangan yang menyakiti hatinya.
"Sial, aku pastikan kamu tidak bisa memeluk Xia lagi pria sok tampan." Dengan kesal ia berbicara.
Padahal kali pertama baginya bertemu dengan Xia hari ini, dan kejadian itu hanya kebetulan tapi setelah di tanyai jika ia bukanlah Mika istrinya yang sudah lama tiada ia baru sedikit ada kesadaran meski ia yakin bahwa Xia adalah Mika istrinya, ia berusaha mencari-cari bukti dari keluarga Arcelio melalui orang-orang kepercayaannya dan menyuruh mereka untuk berteman baik dengan bawahan keluarga Arcelio.
.
"Kak, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada kakak Xia." Nathan berbicara serius.
__ADS_1
Mika sempat mengerutkan kedua alisnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Nathan, jangan membuat kakak bertanya-tanya dan takut," ia selalu berterus terang sekali.
Nathan tersenyum.
"Tidak jadi." Sambil menggeleng sebelum ia melenggang pergi.
Mika menggaruk rambut di kepalanya, terasa aneh dan sepertinya ada yang sedang di sembunyikan oleh Nathan tapi entah apa. Lalu Mika juga beranjak pergi untuk mencari ojek atau angkutan umum lainnya untuk mengantarkan dirinya ke suatu tempat yang sempat ia lalui tadi pagi.
"Sial, sedari tadi laki-laki itu terus menatap gerak gerik ku. Apa jangan-jangan laki-laki tadi itu juga ada perasaan pada kakak Xia?" bertanya-tanya dalam hati.
Nathan memberikan kode untuk mengawasi kakaknya secara ketat tanpa di sadari oleh sang kakak.
"Kalian harus mencari tau, siapa laki-laki yang barusan di mobil mercy tadi. Aku tidak mau kakakku tersayang di lukai oleh laki-laki yang sedari tadi mengawasinya." Perintahnya dengan nada dingin dan mendominasi.
"Siap, tuan muda Nathan," segera berlalu pergi mengerjakan tugas yang diberikan oleh tuan mudanya barusan.
Jika misi berhasil akan ada banyak bonus awal dan akhir tahun serta hari-hari penting dan besar lainnya, jika tugas gagal siap-siap akan di kirim ke negara terpencil selama 1 bulan lamanya, sungguh kejam dan tidak berperi kemanusiaan mentang-mentang memiliki harta dan tahta yang melimpah ruah.
'Lagian, berani-beraninya dia mau mendekati kakak Xia. Tidak akan aku biarkan laki-laki itu mendekati kakak, apalagi kalau sampai kakak di dekati pria masa lalunya. Sungguh aku tidak rela, cukup aku saja yang melindungi dia dan berhak mendekati dia.' Nathan bertekad dalam hati dan berusaha untuk yang terbaik tapi tidak mengekang Mika.
Mika menatap kesana kemari, ia merasa di ikuti secara diam-diam.
'Siapa yang mengikuti ku sih, ko' jadi horor gini? di tambah lagi habis pulang kerja dan otw ke kosan.' Waspada.
Tukang ojek juga was-was sebab musibah bisa datang kapan saja tanpa di duga-duga.
__ADS_1
.
Promo ya, yuk kak mampir ke karya baru emak dengan judul Malam kelam yang terlupakan cek profil ya 🥰🥰