Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Pentingnya menyemangati


__ADS_3

"Ehem ... permisi." Leon tersenyum sambil membawa nampannya.


"Eh iya, maaf. Sekali lagi saya minta maaf," ucap pria itu sebelum ia berlalu pergi.


"???"


"Gue belum ngapa-ngapain, kenapa dia lari kebirit-birit sih?" Leon bingung.


Mika menaikkan kedua bahunya.


Padahal tadi dia niatnya mau negor tapi tidak jadi, keburu targetnya kocar-kacir.


"Tuh, mungkin gara-gara nama lo kepajang di pengumuman kampus."


"WHAT ... maksudnya ?" tambah bingung.


Nasib-nasib punya IQ gak seberapa ya begini nih, nangkep apa-apa jadinya loading.


"Nih baca, ternyata ada orang yang diam-diam upload kita tadi di grub!" Mika santai tanpa beban.


Terserah orang mau bilang apa, lagi pula sudah menikah bukannya tidak apa-apa masuk dalam kuliah. Nikah lewat agama belum negara dan berganti status di tanda kependudukan Indonesia.


"Lo gak lihat di pengumuman ?"


Leon menggeleng.


"Nih curut, lo sebenarnya niat gak sih kuliah Leon. Kalau gak niat, mendingan sono lo pulang aja dan nerusin usaha papa sana." Usir Mika.


Leon terdiam.


'Ada bebernya omongan Mika, gue sepertinya gak ada guna apa-apa di sini. Cuma jadi beban doang, tapi ...'


Leon berusaha berpikir jernih, maksud dari kata-kata yang barusan keluar dari mulut Mika pasti ada maknanya.


"Enggak, gue mau jadi seperti lo Mika. Punya pendirian teguh dan kuat." Menyemangati dirinya sendiri.


"Sippp," jempol mika di sodorkan ke Leon.


"Nih baru sahabat gue, punya semangat dan tujuan. Lagi pula ya Leon, lo itu hidup beruntung banget. Gak pernah merasakan kekurangan kasih sayang, kecuali ibu," Mika mendadak rindu dengan sosok ibunya.


Sedangkan Leon, diam.


"Eh, Mika kita kesana yuk." Leon tiba-tiba menarik lembut tangan mika dan mengajaknya ke suatu tempat.


Hanya dengan cara ini ia bisa membantu membagi-bagikan Mika yang sering terluka hatinya, meski ia selalu tampil tersenyum dan ceria khas dari wajahnya. Namun hanya orang-orang terdekat nya yang tau dan paham akan semua itu.


"Mau kemana sih? makanan gue belum habis nih." Keburu-buru.


Mika berlarian kecil saat Leon melangkah besar saat berjalan.


"Ada pertunjukan kecil di sana, yuk lihat," bahagia rasanya bisa sebebas ini menggenggam tangannya.


Masa-masa ini tidak akan pernah ia lupakan, saat waktu berjalan dari detik perdetik Leon tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia cium punggung tangan milik Mika.


Cup


Cup


Kecupan kecil Leon berikan.


"Leon." Wajahnya memerah.

__ADS_1


Mika berusaha menutupi semua, agar Leon tidak curiga.


"Wajahmu memerah, kenapa masih kamu tutupi Mika. Kamu terlihat cantik dengan wajah kemerah-merahan ini," di usap lah wajah Mika.


Bukannya mereda justru tambah merah merona.


"Wajah gue bukannya seperti orang baru berlari Leon, pasti merah banget ya?"


Pakai tanya lagi, sudah di jelaskan.


"Enggak merah, cuma bersemu saja. Tapi cantik !" kagumnya.


Deg


Deg


'Ya ampun ... jantung nih satu ngapain sih berdetak kenceng banget.' Leon melipir sedikit menjauh dari Mika.


Mika menatap tajam.


"Kenapa, ada masalah ?"


"Enggak!" canggung.


"Pasti ada kan." Sambil menunjuk Leon.


Leon menggeleng.


Tuing


Tuing


Notifikasi grub kelas jika Dosen segera masuk ke kelas.


Padahal niatnya mau bolos tapi tidak jadi, Mika terlalu rajin demi cita-cita nya.


"Eh, bukannya sudah selesai?"


"Belum Leon, jangan mengada-ada deh!" mika sampai geleng-geleng kepala.


.


Di rumah.


Mika sesampainya di rumah langsung melakukan rutinitasnya sebagai seorang istri, selain memasak untuk makan malam ia bersih-bersih, menyalakan alat untuk membersihkan lantai secara otomatis, mencuci pakaian dan lainnya.


"Istri gue hebat, gak salah gue semakin cinta sama lo Mika."


"Haduh, gue suka sih dengan kata-kata lo Leon. Tapi,lain kali di filter dong jangan berlebihan, gue gak suka. Mendingan lo bantuin gue secara langsung, bukan muji doang kerjaan setiap hari lo," sindirnya langsung kena jantung.


Jleb.


"Ini, juga mau bantu dengan tindakan." Cemberut tapi yang ia sentuh malah kemoceng.


"Eh, mau ngapain?" tanya Mika.


"Mau bantu bersih-bersih !"


"Letakkan kembali kemoceng itu, cepat. Yang ada nanti bukannya beres malah berantakan sana sini.'' Gerutu Mika.


Leon mengembalikannya.

__ADS_1


'Aneh sekali wanita ini, tadi suruh bantu. Setelah mau di bantu di suruh mengembalikan dan marah-marah, gimana sih?'


Leon hendak keluar dari rumah.


"Mau kemana?"


"Mau beli kopi!" Menatap Mika.


"Kopi di rumah banyak stoknya, ngapain beli lagi sih." Heran sekali Mika terhadap Leon.


Jika di ajak belanja ini itu nomor satu, intinya boros number one.


Leon menghela nafas berat, seberat hidupnya menghadapi istrinya.


"Nih gak jadi beli, terus gue mau tanya. Saat gue nanti bikin kopi lo nyuruh gue apa? atau ada larangan apa?'' to the poin.


Mika cengengesan.


"Enggak ada!" sambil menggeleng kepalanya.


"Beneran nih, gak ada." Ia pastikan kembali jika Mika tidak akan bikin ulah dengan gerutunya.


"Iya yakin gak bakalan, untuk saat ini. Tapi, lihat saja nanti," tertawa ringan.


"Sama aja namanya, sini kamu duduk dulu dan liatin aja gue bikin kopi, oke cantik ..." menyuruh Mika duduk di salah satu kursi yang ada di meja minimalis dengan kursi yang juga minimalis tapi pas.


"Tapi ... itu ...," menunjuk ke arah beberapa pekerjaan yang belum selesai dan tidak akan ada habisnya jika masalah rumah bersih-bersih, akan terus ada dan ada setiap harinya.


"Hus ... itu nanti saja, pelan-pelan gak usah terburu-buru." Tidak ingin membuat mood Mika buruk.


Melakukan pekerjaan rumah tidaklah gampang, apalagi jika sudah memiliki seorang anak. Ini sudah di bersihkan, ternyata masih ada yang itu. Belum lagi jika ada orang yang berkunjung, pasti ada saja masalah yang datang. Bilang rumah begini di belakang orangnya, terkadang bahas anak yang kurang ke urus dan lainnya, serba salah deh pokonya.


"Thank you Leon," memeluk Leon.


"Sama-sama, eh Mika."


"Ada apa?"


"Empuk!"


"Apanya."


"Atasan kamu, gue suka. Tambah gede berisi," ucapan Leon semakin merancau kemana-mana.


"Jangan ngaco deh, cepat bikin kopinya." mendorong pelan tubuh Leon.


"Iya, tapi nanti malam gimana?" menunjuk ke bawah.


"Gak tau, yang gue mau sekarang kopi. Ngantuk nih, biar sekalian gue istirahat sebentar!"


"Siap, istriku." Penuh dengan keceriaan.


Semua sudah siap.


"Kita ngopi di sini ya." Ajaknya ke Mika.


"Oke," tersenyum.


Leon menyulap dapur yang tadinya tidak pas untuk jadi tongkrongan anak muda kini menjadi luar biasa wah.


"Ide lo ada-ada saja sih Leon, gak keluar rumah tapi berada di cafe."

__ADS_1


"Iya dong, Leon ..." Bangga dengan karyanya.


Leon memang tidak pandai mengelola bisnis papa nya,tapi jika soal beginian dan dekorasi ia jagonya.


__ADS_2