Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Permintaan sulit papa Seno


__ADS_3

Leon merasakan dilema dan tidak berdaya setelah melihat video yang baru saja di perlihatkan oleh papanya. Video yang memperlihatkan keceriaan anak istrinya yang di ambil saat mereka sedang asyik-asyiknya memakan es krim sampai comot di pipi mereka. Tapi ... sayangnya di bawah video itu ada caption sebuah ancaman terhadap anak berserta istrinya.


"Bagaimana Leon, apa kamu sudah berubah pikiran Leon?" tanyanya sekaligus ancaman bagi Leon.


Dari dalam hatinya ia tidak mau sebenarnya melakukan hal-hal yang di luar kendalinya, apalagi sampai menyakiti mereka bertiga rasa-rasanya ia tidak sanggup untuk kembali hidup dan bangkit lagi.


"Leon ... tidak bisa, lebih baik Leon papa usir dari rumah dan tidak diakui oleh papa sebagai anak dari pada aku harus berkorban bahkan meningkatkan istri dan anak-anak !" menolak secara mentah-mentah.


"Tidak bisa, pilihan kamu sekarang cuma itu. Anak istri kamu selamat atau menjalankan bisnis Papa. Jika kamu memilih anak istri kamu kenapa-kenapa maka kamu harus mau menuruti kemauan papa, memang menafkahi anak penting tapi menafkahi calon mantan istri tidak penting." Laki-laki kolot model Seno ini memang pantas di laknat.


Bagaimana bisa ia memiliki pemikiran yang begitu serakah ingin menguasai kebahagiaan seorang anak dengan pasangan hidupnya.


Leon tersenyum devil.


"Leon akan tetap pada pendiriannya Leon memilih anak-anak dan istri Leon, untuk apa kekayaan jika hidup di buat sengsara papa. Terserah papa mau menghukum Leon dengan apapun asalkan Mika dan anak-anak dalam keadaan baik-baik saja," pada akhirnya Leon menunjukkan lagi dan lagi tentang kelemahannya.


"Bagus ... bagus ... Leon, akhirnya kamu memihak pada papa."


Seno berjalan mendekati sang putra yang ternyata sudah tumbuh sedewasa ini.


"Papa punya relasi bisnis dengan salah seorang pengusaha yang memiliki anak gadis yang masih cantik jelita, papa mau kamu menemui dia malam ini." Menatap wajah putranya yang tampan rupawan.


Mata Leon membelalak sebab terkejut dengan perkataan papanya, maksudnya mau menjodohkan dengan anak dari salah satu relasi bisnisnya, benar-benar di luar nalar pikiran.


"Leon tidak bisa pa," membuang mukanya.


Seno membalikkan tatapan mata Leon yang penuh kebencian terhadap dirinya.


"Kenapa tidak bisa, hanya bertemu bukan berarti langsung menikah bukan. Papa sudah jadwalkan pertemuan kalian, jangan coba-coba kabur Leon. Karena ... semua percuma saja jika kamu kabur berarti kamu harus siap-siap Mika lebih dulu yang di buat celaka." Ancamnya tidak main-main.


'Bagus juga ternyata punya anak yang sedikit tidak berguna seperti Leon yang tidak punya keahlian bela diri sama sekali jadi aman jika mau mengancamnya, Leon ... Leon ... kamu ini anak papa satu-satunya jadi harus nurut sama papa yang sudah berkerja keras selama puluhan tahun untuk mendirikan perusahaan turun temurun meski harus mengorbankan perasaan dan waktu.'

__ADS_1


Leon mengepalkan tangannya.


"Baik Pa,"


"Bagus ... anak papa harus menjadi penerus dan memiliki keturunan yang bagus dari bibit yang bagus juga." Secara tidak langsung menghina Mika yang notabene nya terlahir dari kalangan biasa-biasa saja dan ibunya ....


.


Mika menatap nanar kedua anak-anaknya sambil menahan air matanya yang luruh kapan saja tanpa menunggu perintah darinya. Malam ini rasa rindu dan ingin berjumpa dengan Leon sudah sampai di ubun-ubun, setidaknya ia ingin melihat jika Leon ada di rumah mertuanya itu dengan keadaan sehat tanpa cidera.


"Sebenarnya daddy kalian ada dimana sih nak, kenapa semua mendadak terjadi. Di tambah lagi kakek kalian yang bernama papa Seno itu tidak pernah lagi menemui mama untuk menjelaskan suatu hal." Sangat kecewa sekali dengan sikap mertuanya.


Andai dunia di balikkan Mika tidak akan pernah merubah hatinya yang baik menjadi jahat dalam beberapa waktu.


Memang dirinya seperti ini apa adanya mau bagaimana lagi, dirinya baru saja membuka ponsel dan laptopnya guna melihat pendapatnya dan pemasukannya minggu ini.


"Aneh ... kenapa pendapatan semakin menurun bahkan pihak beberapa pabrik yang biasanya menyuplai pemasukan kini banyak yang mengundurkan secara sepihak padahal sudah tanda tangan kontrak bahkan tak segan-segan memberikan sejumlah uang kompensasi ke gudang milikku?" bertanya-tanya dalam hati.


Mika bergegas keluar dari kamarnya dan kebetulan hari ini Mika menginap di rumah ayahnya untuk menyelidiki apa benar semua kejadian demi kejadian ada kaitannya dengan permintaan sang papa mertua.


"Nak mau kemana malam-malam begini?" tanya Atom pada putrinya yang bergegas keluar dari kamarnya secara terburu-buru padahal anak-anak berada di kamar tanpa pengawasannya.


"Yah ... Mika titip anak-anak sebentar apa bisa?" Mika sedikit panik.


"Ada apa sih nak, tumben kamu terburu-buru begini. Apa ada masalah dengan gudang dan toko atau yang lainnya!" beranjak dari kursinya menuju ke kamar Mika.


"Tidak ada masalah ayah di gudang dan toko." Cicitnya berbohong padahal ada masalah.


Namun sebisa mungkin ayah tidak perlu di beri tau cukup dirinya saja yang tau, Leon menghilang dan entah bagaimana nasibnya apakah ia makan dengan baik atau tidak. Sebagai ibu sekaligus merangkap menjadi ayah untuk sementara waktu biarkan saja diri ini yang membereskan masalah di gudang dan toko.


"Lantas kamu mau pergi kemana nak?"

__ADS_1


"Mika ... mau ke rumah papa Seno Yah, apakah boleh," menurunkan pandangannya.


Atom tidak tega melihat keadaan sang putri.


"Tapi .... nak, ayah hawatir kamu tidak mendapatkan jawaban apa-apa." Atom memberikan peringatan.


"Mika mau mencobanya ayah, doakan Mika mendapatkan jawabannya ayah," mencium punggung tangan ayahnya.


Leon baru saja keluar dari rumah mengenakan setelan jas berwarna senada dengan sepatunya, kesan pertamanya adalah tampan dan sempurna selain itu terlahir dari keluarga berada dan jelas keturunannya.


Mika mengintip dari salah satu pohon tak jauh dari pagar rumah Leon.


Deg.


Dadanya berdenyut ngilu saat melihat pemandangan yang begitu ia rindu-rindukan dari kemarin setelah insiden di rumah mereka berdua.


"Leon ... apa itu benar Leon." Menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Mika bahagia sekali ia hendak melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah tersebut namun langkah kakinya terhenti seketika saat papa mertuanya menatap ke seluruh penjuru rumahnya termasuk pohon tempat Mika menyembunyikan dirinya.


Ia terpaksa bersembunyi lagi sebelum dirinya ketahuan.


"Sebenarnya mereka mau pergi kemana sih?" bertanya-tanya.


Mobil itu sudah melesak menjauh dari kediaman Kharel.


Mika berjalan gontai masuk ke dalam rumah ayahnya dengan perasaan campur aduk tidak karu-karuan.


Atom yang mendengar pintu rumah di dorong kini ia bergegas keluar dari kamar putrinya.


"Nak." Atom mendekati Mika.

__ADS_1


Mika memeluk ayahnya tanpa tangis hanya memeluk erat saja.


__ADS_2