Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Mulai menata diri


__ADS_3

Hampir dua tahun kemudian


Hari baru pun telah dimulai, dimana Leon mengerjakan pekerjaan kantornya dalam keadaan terpaksa namun terbiasa sejalan dengan berjalannya waktu, meski setiap hari penuh dengan tekanan dan tepaksa demi tujuannya bisa menemukan kembali sang istri yang sudah lama pergi berbulan-bulan hampir dua tahun kurang lebih jika di hitung dari saat malam kejadian itu.


'Kemana sih kamu sayang, sudah berkali-kali aku mencari keberadaanmu namun hasilnya tetap nihil, bahkan orang-orang yang aku percayakan untuk mencari keberadaanmu juga tidak mendapatkan hasil apa-apa.' Leon di buat bingung sekali, semua usaha sudah di lakukan bahkan mengerahkan tenaganya sendiri juga selalu ia lakukan di tengah-tengah kesibukannya membuat cabang kantor baru di kota S.


Tok tok tok.


"Silahkan masuk." Leon fokus dengan beberapa file yang ada di hadapannya serta memeriksa tempat yang akan menjadi calon kantor cabang di kota S.


Pembangunan akan selesai dalam bulan ini dan di pastikan Leon akan memimpin langsung kantor cabang, saat ini sudah banyak staf kantor yang di pindah dari pusat ke cabang dan ada beberapa juga karyawan baru.


.


Nathan menatap Mika dengan tatapan kecewa berat.


"Kakak Xia beneran gak mau tetap tinggal di rumah, papa dan mama gak marah loh kak justru bahagia sebab ada kakak Xia dirumah." Memohon dengan wajah imutnya.


Mika menghela nafas panjang.


"Huft ... walau bagaimanapun kakak tidak bisa tetap tinggal Nathan," sambil mengacak-acak rambut Nathan.


"Kakak ... kenapa mengacak-acak rambut Nathan, jadi berantakan kan ...." Mendengus kesal.


"Bagaimana tidak di acak-acak rambut kamu Nathan, jika ekspresi wajah kamu begitu lucu dan menggemaskan," sambil tertawa puas.


"Kak, bagaimana jika kakak mempertimbangkan keadaan kakak sekarang yang mulai pulih kesehatan kakak?" berusaha menghalangi kepergian Mika.


"Tidak bisa, kakak tetap tidak enak dengan kedua orang tua kamu Nathan!" jawabnya tetap bersih kukuh untuk tidak tinggal.

__ADS_1


Sudah 2 bulan lamanya ia tinggal di rumah kediaman Arcelio, rumah Nathan. Ia ingin berkerja layaknya orang-orang di luaran sana,meski Mika tau ia tidak memiliki identitas apa-apa untuk sekarang.


"Tapi kakak mau pergi kemana, nanti makan pakai apa kak. Kakak saja menolak pemberian papa dan mama." Nathan menatap tubuh tinggi semampai Mika dengan tatapan hawatir luar biasa.


Meski baru mengenalnya 2 bulan semenjak sadar dari koma, tapi Nathan merasakan ia bukan wanita jahat apalagi memanfaatkan keadaan, sama sekali tidak ada di perlakukan Mika dalam kesehariannya. Pembantu di rumah juga senang tanpa komplain.


"Kakak mendapatkan pekerjaan dan perusahaan itu baru saja berdiri, bukannya kamu juga tau kalau perusahaan yang baru saja selesai di bangun itu membutuhkan banyak karyawan dan karyawati, kakak sudah mendaftarkan diri sebagai tukang bersih-bersih di sana, dan kakak bersyukur di terima di sana untuk berkerja sebagai tukang bersih-bersih," penuh dengan semangat dan bahagia.


Nathan tidak mungkin menghancurkan kebahagiaannya begitu saja, sudah berkali-kali Nathan menawarkan Xia untuk berkerja di rumah sakit namun ia tidak mau dengan alasan takut dengan ruang jenazah, ada-ada saja alasannya padahal ia tidak pernah takut apa-apa, bahkan kematiannya yang hampir merenggutnya saat kecelakaan hebat itu, sampai ia mau berjuang untuk sadar meski memerlukan waktu hampir 2 tahun lamanya untuk membuka matanya kembali.


.


"Setelah dipikir-pikir ada benarnya juga perkataan Nathan tadi, berkerja di rumah sakit lebih baik. Namun ... aku tidak mau membebani mereka lagi, setelah aku di beritahu bahwasanya aku bukan salah satu anggota dari keluarganya membuatku tersadar akan satu hal, orang lain akan tetap menjadi orang lain sekalipun sudah menjadi bagian hidup salah satu sanak keluarganya." Mika menatap ke arah langit-langit kamar yang sejuk dan dingin itu.


Hanya lamunan yang selalu menemani dirinya ketika pagi dan malam menghampiri.


"Entah perasaanku sendiri atau apa, kenapa perasaan ini terus menerus untuk pergi berkerja di anak cabang perusahaan besar itu, tapi ...," Banyak pikiran dan harus memikirkan keputusan yang pas untuk hidupnya.


Waktu pertama kali dirinya sadar dan menanyakan keberadaan ayahnya tentu saja ia shock berat, namun berusaha tegar dan untuk masalah yang lainnya ia tidak mengingat apa-apa, bahkan tenang masa lalu dan pernah tinggal di kota mana ia sama sekali tidak ingat yang terlintas di pikirannya hanya ayahnya saja.


"Apa benar kamu tidak mengingat siapa-siapa Xia, bahkan nama kamu sendiri ?" tanya seorang pria paruh baya yang tak lain papanya Nathan.


Ibunya Nathan pun juga sama halnya bertanya, namun lagi-lagi jawaban sama yang ia dapatkan.


"Baiklah, mulai sekarang kamu bagian dari keluarga kami Xia. Jangan sungkan-sungkan jika kamu butuh sesuatu pada kami, anggap kami orang tua angkat kamu Xia." Sambil memegang bahu Mika.


Mika terharu dengan sikap pasutri yang jelas-jelas tidak memiliki ikatan darah sama sekali, ternyata di luaran sana masih banyak orang baik yang tanpa pamrih membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan dan pertolongan.


"Terimakasih mamanya Nathan," secara sopan ia mencium punggung tangan ibunya Nathan dan papanya Nathan.

__ADS_1


Rasa terharu yang kini ia peroleh, ia tidak akan menyia-nyiakan kebaikan orang yang telah menolongnya dari maut.


"Jangan panggil mamanya Nathan lagi ya Xia, kami orang tua angkat kamu panggil sebutan Ibu ya." Dengan lemah lembut nada bicaranya.


Memang layak di sebut-sebut sebagai ibu, tutur katanya mampu memporak-porandakan perasaan orang yang mendengarnya, pantas saja anaknya terdidik dengan baik. Tau membantu dan menolong orang lain, padahal tidak kenal sama sekali, betapa bangga dan bahagianya sukses mendidik anak-anaknya.


"Baik ibu, terimakasih banyak sudah merawat Xia saat Xia koma di rumah sakit," ibarat kata seperti ada ikatan darah antara anak perempuan dengan ibunya.


Saling memeluk haru isinya kala itu, beberapa minggu yang lalu.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu kamar Mika mengejutkannya.


"Astaga, hampir saja aku terjatuh dari tempat tidur." Memegang dadanya yang berdegup kencang sebab terkejut dengan suara ketukan pintu yang mendadak.


Ceklek.


"Apa ibu boleh masuk?" Amanda kepalanya berada di ambang pintu yang terbuka.


"Silahkan ibu!" masih terdengar canggung namun menyenangkan.


Amanda terharu, ia memang tidak memiliki seorang putri bahkan tidak melahirkan seorang putri hanya putra yang bernama Nathan Arcelio.


Amanda mengusap surai rambut Mika, rasanya begini ternyata di perhatikan oleh seorang ibu, dalam hidupnya ia belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.


.


Leon menatap ke arah jendela mobil, sebenarnya ia enggan untuk pindah ke kota S namun hati kecilnya terus menerus mengajaknya untuk pergi ke sana.

__ADS_1


'Huh ... padahal enak tinggal di kota ini, namun tuntutan pekerjaan mengharuskan aku pergi ke kantor cabang dan memimpin kantor cabang kota S yang jelas-jelas butuh waktu dan beradaptasi kembali. Mika ... kamu ada dimana sih sayang?' masih memikirkan istrinya itu.


Note: Alur maju mundur cantik ya🥰


__ADS_2