Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Jika kamu jadi aku, bagaimana?


__ADS_3

'Pernah di sakiti oleh orang tersayang membuat diri ini mau percaya seperti sebelumnya itu hilang, yang ada rasa curiga dan takut akan kehilangan dan di lukai kembali. Padahal antara kesalahpahaman itu sudah di atasi, namun bekasnya masih menempel di hati dan pikiran ini.'


Mika kembali menyesap kopinya.


"Bu Mika, ini hasil laporan bulan ini." Memberikan laporan pada Mika.


"Terimakasih ya,"


Hanya melihat-lihat laporan saja membuat kepala Mika terasa mau pecah bagaimana bisa omset skincare miliknya semakin turun dari bulan ke bulan.


"Sepertinya aku harus menutup usaha skincare milikku ini. Dan fokus ke toko saja dari pada ?" Mika berfikir keras.


Mika sudah memutuskan untuk memberikan semua karyawannya bonus dan pesangon agar mereka tidak tersinggung dengan produknya yang tidak akan di pasarkan kembali. Hari berganti bulan dan Leon sudah menerima keputusan istrinya yang fokus terhadap tokonya yang mulai berkembang pesat bahkan bisa mengirim beberapa barang sampai ke luar kota dan memiliki 2 buah gudang besar.


"Mika."


"Iya, ada apa Leon sayang,"


Leon menatap Mika penuh tanya, tumben istrinya memanggilnya dengan sebutan sayang di belakang namanya.


"Kenapa menatapku seperti itu, ada yang salah dan aneh dengan penampilan ku yang?" melihat tubuhnya sendiri.


"Senangnya," tidak menjelaskan justru Leon menghujani Mika dengan penuh ciuman di seluruh wajahnya.


.


Makan malam.


Atom dan Seno menatap kedua anak-anaknya dengan penuh harapan tentunya, berharap hubungan mereka baik-baik saja tanpa ada yang menghalangi kebahagiaan mereka berdua lagian mereka juga sudah punya anak yang harus di jaga perasaannya.


Tuing.


Leon menatap ponselnya, lebih tepatnya ponsel kerjanya bukan ponsel pribadinya.


"Ada masalah, kenapa tidak di balas dulu." Mika mengunyah makanannya dengan lahap.


Leon melirik istrinya dan bingung harus berbicara apa di depan istrinya, kalau menutupi darinya pasti akan ada masalah lagi padahal hubungannya baru membaik dan usia buah hatinya juga hampir satu tahun minggu depan.

__ADS_1


"Nanti setelah makan saja yang,"


Mika sedikit menaruh curiga dengan suaminya, ada apa? apa yang sedang ia tutup-tutupi darinya. Apa jangan-jangan wanita itu sudah sadarkan diri dan meminta suaminya untuk menolongnya kembali dan nanti diri ini yang di lukai kembali, sebagai wanita ia tau betul perubahan yang ada pada diri suaminya.


"Di balas aja, gak apa-apa."


"Tidak penting yang buat apa di balas," raut wajah Leon ada yang berubah.


Mika menyipitkan matanya.


"Berani berbohong, kelar hidup kamu Leon." Berbisik sambil menggertakkan giginya.


"Sumpah yang gak ada yang aku sembunyikan sayang," memberikan ponselnya pada Mika.


Atom sedari tadi mengawasi tingkah mereka berdua, apa ada masalah lagi. Kenapa anak muda jaman sekarang pernikahan di bikin bercanda bahkan yang lebih parahnya di bikin konten untuk tenar dan secuil uang, padahal itu aib dalam rumah tangganya yang tidak seharusnya dipamerkan bukan. Di tambah lagi dengar istilah ain itu berasal dari diri sendiri yang selalu mengunggah kebahagiaan dan kesedihan yang di buat-buat, maka dari itu tanpa di sadari penyakit rusaknya rumah tangga terjadi.


"Kalian mulai lagi, terutama kamu Leon." Seno geram mulai menggertak putranya.


Mika terdiam di tempat.


Secara kompak mereka menggelengkan kepalanya sambil tertunduk kebawah.


Seno sudah waspada dan pernah mewanti-wanti mereka untuk mengkondisikan perihal permasalahan dalam hiruk-pikuk rumah tangganya.


"Maafkan kami Papa ... ayah ..." Ucap Leon dan Mika bersama-sama.


Sekarang suasana makan malam tidak sejenak seperti sebelumnya, sedikit ada keterangan dan tidak nyaman. Untung saja acara makan malam begitu cepat berlalu dan kini mereka pulang ke rumah masing-masing sedangkan si kembar di titipkan ke Ayah Atom.


"Kalian berdua ini, apa gak kasihan melihat anak-anak. Baru pulang ke rumah kalian satu bulan, hubungan kalian mulai memanas lagi. Awas saja kalau kalian membuat ulah yang mengakibatkan mental kedua cucu ayah terluka." Atom segera menyuruh kedua baby sitter si kembar untuk masuk ke kamar si kembar.


Masalah lagi masalah lagi.


Atom tidak habis pikir dengan pernikahan muda mereka. Lama mengenal juga tidak menjamin utuhnya sebuah hubungan, begitu juga dengan hubungan yang baru terjadi. Ambil keputusan yang baik jangan tergesa-gesa, sebab petaka bisa datang kapan saja dan dimana saja.


.


"Tadi aku belum sempat melihatnya, mana." Meminta ponsel Leon.

__ADS_1


Leon ragu-ragu memberikannya.


"Ini dan cek semuanya yang, gak ada yang aku sembunyikan dari kamu," nada suaranya lirih.


Mika tau apa maksud Leon dengan merendahkan suaranya, pasti ia merasa bersalah tapi jika ia sudah frustrasi dengan masalah itu ia akan mudah marah dan emosi hal ini yang paling tidak di sukai oleh Mika, emosi berlebihan tanpa melihat orang yang menjadi pelampiasan amarahnya.


"Aku tidak asing dengan wajah ini, eh ... bukannya ini Ayunda. Ngapain wanita ini ngajakin kamu bertemu?" menunjukkan hasil chat Leon dengan wanita itu tepat di depan wajahnya.


Mika kesal.


"Dia ... dia ... mau minta maaf ke kamu sayang, tapi aku bingung harus bilang apa ke kamu yang. Hawatir kamu masih marah dan gak bakalan maafin aku!" menggenggam erat tangan Mika.


"Gak perlu, lihat wajahnya saja aku ogah." Mematikan ponsel kerja Leon.


"Yang, tolong ya maafkan dia dan maafkan aku yang,"


Mika berdecak pinggang.


"Segitunya kamu mulai belain dia, oh ya aku lupa jika dia selingkuhan kamu. A ... ha ... ha ... aku nya aja yang bodo* mudah di kibulin oleh kalian." Tertawa miris.


Mika menepis tangan Leon.


"Yang, umurnya tidak tau sampai kapan Dokter sudah memvonisnya jika ia terkena penyakit mematikan juga yang, tolong maafkan saja kesalahan dia,"


Mika kesal sekali, kenapa suaminya begitu bersih kukuh untuk memaafkan wanita itu sekaligus wanita sakit parah. Dirinya di sakiti tidak melihat bagaimana akibatnya kemudian, terus kenapa sekarang seolah-olah dirinya orang yang paling jahat dan yang selalu menyakiti orang lain.


Tes.


"Bukannya memaafkan itu lebih indah yang, kamu sendiri yang mengajarkan aku untuk memaafkan orang lain, kenapa sekarang kamu tidak bisa melakukannya yang?"


"Itu beda!" suaranya mulai berat.


Leon memeluknya erat. Suara tangis Mika tersendu-sendu di pelukannya, ia mengusap dan berusaha menenangkan hati dan pikirannya agar pikiran Mika tidak kemana-mana.


"Andai kamu jadi aku Leon, apa kamu akan terima dan sekuat aku Leon?"


Deg.

__ADS_1


Pertanyaan jebakan batman, jawab apa gak pernah ngalamin dalam hidup hal seperti ini. Jika Mika membalasnya bagaimana, bukannya hidupnya akan kelar saat itu juga kehilangan cinta dan roda kehidupannya yang cerah.


__ADS_2