Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Gara-gara batu bata


__ADS_3

Setiap aplikasi punya peraturan masing-masing, tapi hanya aplikasi ini yang nyaman untuk emak nulis.


Maaf jika sering lama update.


Emak ingatkan lagi, untuk teman-teman yang mau nulis, di usahakan jangan di bawah 1k kata-katanya agar apa. View akan di hitung 0 jika kurang dari 1k, untuk itu harap maklum ya jika emak sering curhat sebab ini masalahnya.


Jadi, untuk yang nulis di bawah 1k artinya gratis untuk penulis tanpa bayaran.


Emak akan berusaha nulis 1k lebih setelah itu baru ngoceh 🥰🥰🥰


dan untuk pembaca yang suka ngasih like doang dan gak baca alis scroll doang, harap melipir saja ya.


Dan lagi-lagi peraturan yang baru.


Pusing, sedih, pokonya campur aduk deh. Maaf ya lebay😁


.


"Terimakasih Leon." Memeluk senang.


Sekarang cita-cita nya akan tercapai, ia akan menjadi pengacara hebat yang siap membantu orang-orang yang sedang membutuhkan.


"Iya, tapi ..."


Mika mengendurkan pelukannya dan menatap Leon penuh tanya.


"Ada tapinya, apa Leon?" penasaran dong dengan maksud Leon.


Apa Leon meminta haknya atau alasan yang lain.


"Lo harus berjanji satu hal ke gue Mika Riana!" seringai licik di bibir Leon.


"Janji apa dulu." Panik dong di minta untuk berjanji.


Kalau minta hak gimana, terus nanti gimana dengan cita-citanya. Memang ia ingin jadi seorang istri dan sekaligus ibu, tapi bukan di umur 18 tahun ini atau umur 19 tahun.


Terlalu muda, takutnya ada apa-apa ke depannya.


Tapi, beda dengan takdir. Garis takdir manusia sudah ada sejak dulu dan tertulis jelas di Lauhul Mahfudz.


"Janji," Leon membisikkan sesuatu tepat di telinga Mika. "Nanti aja, kalau sudah di pengadilan agama." Sambungnya.


Otak Mika mendadak blank.


"Maksudnya ?"


"Segera setelah umur kita genap sembilan belas tahun, kita akan bawa saksi kedua orang tua kita dan penghulu yang menikahkan kita waktu itu. Apa lo setuju Mika ?"

__ADS_1


"Hey ... stop ... stop ... Leon, jangan basa basi deh. Langsung cus ... pada intinya kenapa sih!" benar belum paham ternyata.


"Kita urus pernikahan kita secara resmi di pengadilan agama, supaya negara dan pihak KUA mencatat pernikahan kita secara legal atau sah, masa lo gak paham sih dengan kata-kata gue."


Mika menggeleng, soal pelajaran sekolah masih bisa di atasi, tapi ... beda cerita jika menyangkut pernikahan. Ia pernah juga belajar agama tapi soal itu, beda cerita. Semua butuh proses pelan-pelan. Mengingat saat di sekolah pelajaran agama tidak mendetail, karena Mika di sekolah negri.


"Ya ... ampun, sahabat gue yang sekarang jadi suami gue paham bener soal pernikahan. Jadi, nanti setelah umur kita genap nih ya, lo mau urus pernikahan. Lo cinta dan sayang banget ya ke gue leon?" sambil tersenyum-senyum.


Puk


"Kalau gak di urus secara resmi, lo bakalan kabur terbang ke burung lain. Gue yang susah jadinya!" kesal dengan kekonyolan Mika.


"Lah, kenapa jadi lo yang susah sih Leon. Pakai bahas burung ... burung segala. Bukannya lo tambah happy,"


"Jangan berlagak bodo* Mika Riana, bukannya lo udah tau kalau gue selalu menganggap lo lebih dari seorang sahabat. lo gak sadar sama sekali."


Mika menggeleng.


"Ah ... sudahlah, pokoknya yang jelas gue gak rela lo pergi ke burung orang lain. Awas saja kalau beneran berani kabur ke burung sana," mata Leon menyipit sambil mengisyaratkan kedua jarinya dari matanya ke mata Mika.


Mika menjulurkan lidahnya saat Leon hilang di balik pintu kamar mandi.


"Leon mau ngapain, bukannya baru buang air kecil?" sedikit meninggikan suaranya.


Sudah selarut ini kenapa Leon hobi sekali ke kamar mandi, ada apa dengan nya.


'Sebentar lagi pasti dia tanya-tanya, ish ... jawab jujur deh apa yang terjadi. Bila perlu mendetail, sedetail-detailnya pada Mika.'


Ceklek


Suara handle pintu kamar mandi terbuka.


Wajahnya segar, tapi gak mandi.


"Seneng banget, baru ngapain?"


"Biasa cowok normal, lepas cebong!" berbaring di samping Mika.


Mereka sudah bisa ya tidur bersama, cuma tidur gak lebih. Itu pun ada pembatasnya, guling dan bantal tidak lupa batu bata juga ada di tengah-tengah tempat tidur.


"Lepas cebong, dari situ lo?"


menunjuk bawah pusar Leon.


"Iyalah,dari mana lagi coba. Kayak gak hafal dari kemarin-kemarin !"


Percakapan absur keduanya begitu seru dan lucu.

__ADS_1


Atom yang tidak sengaja mendengarnya hanya tertawa di luar kamar Mika dan menantunya, mereka itu masih lucu-lucu dan imut.


"Mika, bisa gak sih batu bata nya di buang ?"


Mika menyilangkan tangannya.


"No ... no debat kawan, anda faham ...!"


"Ya ampun Mika ... Mika ... sampai kapan coba gini terus, sakit nih badan tiap hari kena batu bata. Kaya mau jadi kuli aja, gue ini anak orang kaya Mika." Protes lagi protes lagi.


Mika tidak peduli, ia memilih memunggungi Leon dan meninggikan selimut pribadinya sampai batas tubuhnya tertutup sampai bagian leher.


"Yo wes, sak karep mu Mika Riana sing ayu dewee." Gerutunya.


.


Pagi hari.


Suasana langit masih menghitam dan berselimut sedikit awan hitam berkelabu. Sepertinya akan turun hujan, tapi ada bulan dan bintang di sana yang senantiasa menghiasi langit saat pagi.


Leon meraba-raba.


"Aduh ... sakit banget tangan dan kaki gue, dasar batu bata pembawa sial. Awas saja lo, bakalan gue hancurin hari ini." Sumpahnya sambil menunjuk-nunjuk batu bata.


Mika yang mendengar suara Leon yang marah-marah menatap malas dari luar kamarnya, Mika berada di balkon kamarnya sebelum ia turun ke lantai satu untuk melakukan rutinitasnya sebagai seorang anak perempuan dan istri.


"Kenapa tuh badan? sakit lagi. Pulang deh sono ... sono ... ke rumah lo dan bawa tuh semua spring bad yang lo punya yang kata lo harganya fantastis." Kibasan tangan Mika, mengisyaratkan Leon yang pergi.


"Udah tau pakai nyindir lagi, lain kali tidur deh di rumah papa sesekali jangan di rumah lo ... lo ... mulu selama kita nikah," Leon bergegas turun dari tempat tidur setelah bersusah payah memperbaiki posisi tempat nya tidur.


"Siapa juga yang nyuruh tidur sini, bukannya lo sendiri yang semalam bilang tidur di rumah ayah. Jadi gue gak salah dong pakai tuh pembatas di tempat tidur." mulai ngegas.


"Ish, dasar perempuan selalu benar gak salah" ledek nya pada Mika.


"Apa lo bilang, perempuan selalu benar. Kata umpatan itu untuk gue " gak terima.


Beginilah suasana pagi di kamar paling atas, sebab cuma lantai 2 dan lantai dua terisi satu kamar saja, yaitu kamar Mika saja.


"Tapi kan memang benar adanya, jika perempuan selalu benar dan laki-laki selalu salah." Sama-sama meninggikan suaranya.


Atom sudah mengenakan headset nya untuk menyumpal telinganya.


"Setiap hari ribut, seperti butuh berbicara ini dengan Seno. Bila perlu belikan rumah saja," menggelengkan kepalanya.


Seno merasa ada yang tidak beres saat ia membuka sedikit jendela kamarnya dan melihat rumah Atom.


"Sepi amat kayak kuburan, tapi tunggu kamar atas sepertinya ada yang tidak beres. Mereka bertengkar lagi? atau jangan-jangan sudah malam pertama, yes ... asik ... asik... bakalan dapat cucu asik." Bergoyang-goyang sambil buka aplikasi tik tok dan di upload.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2