Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Semakin waw


__ADS_3

Cit


Cit


Suara burung saling bersahutan.


"Aa ... capek semalaman tidur dalam keadaan begini, pelukan." Mika merenggangkan otot-otot nya.


Leon menikmati wajah cantik Mika, sengaja ia tidak mengendurkan pelukannya. Tubuh Mika pas di peluk-peluk, tidak tipis.


"Hai."


"Udah bangun? dari tadi ?"


"Ya, lumayan sih Mika. Lo mau makan apa?" Leon bergegas.


'Eh, sejak kapan nih curut bisa masak. Perasaan dari lahir ceprot yang masakin pembantu dan susternya yang ada di rumah'


Mika semakin heran, berpuluh tahun bersahabat dengan Leon belum pernah melihat Leon bisa memasak, bahkan keahlian menggoreng telur dan merebus air saja gak pernah melihatnya.


Leon tersenyum.


'Kali ini pasti lo keheranan Mika, gue sudah lama belajar memasak ini itu demi lo. Demi bisa sejajar dengan lo,' batinnya tersenyum devil.


Leon mulai mengenakan apron berwarna kelabu dengan baju senada dengan apron, Leon terlihat tampan bahkan sangat tampan.



'Ih, sejak kapan nih bocah ada pesona begini. Perasaan gak ada tuh?' Mika menatap Leon penuh kagum.


Sahabat yang tidak pernah ia perhatikan secara detail kini ia perhatikan, bahkan ketampanan nya saja bisa di bilang sangat sempurna. Orang kalau terlahir tajir melintir begini ya tampilannya ternyata, tampan sejak lahir kalau orang bilang.


Tak


Tak


Tak


"Jangan lihatin gue kayak gitu, terpesona loh nanti." Leon dengan tertawa renyah sambil memotong beberapa sayuran.


"Haduh ... pede amat lo Leon, siapa yang terpesona. Gue cuma heran, sejak kapan anak manja dan bandel seperti lo bisa masak Leon ?" mencondongkan tubuhnya ke Leon.


Leon membalas tatapan Mika.


"Sejak gue jatuh cinta pada lo Mika Riana !" jawabnya senang.


Deg


Deg


Deg


Jantung Mika mendadak bergetar.

__ADS_1


'Senyumnya, ngapain sih di tampilkan begitu.' Memalingkan wajahnya secara otomatis.


Memang beberapa waktu ini jantung Mika sering berdegup kencang saat bersama Leon, tapi ia tidak tau juga apa artian dari itu. Apa benar ada perasaan, atau cuma sekedar terpesona sesaat dan lupa.


"Kenapa diam, perasaan dari tadi berbicara terus?"


"Enggak apa-apa, pengen diam aja!" tidak berani menatap Leon.


Lagi dan lagi Leon bahagia, oh ... gadis impiannya mulai merespon, sebab tadi saat berdekatan tanpa sengaja ia sepertinya mendengar degup jantung Mika. Setelah berkutat cukup lama dengan masakan di dapur akhirnya yang ditunggu-tunggu pun sudah jadi.


"Nih .. lihat hasil masakan gue, cantik kan." Dengan bangganya.


Dari segi tampilan memang menarik, tapi entah dari segi rasanya.


"Gue coba ya, kalau enggak enak gak gue makan." Mika selalu blak-blakan.


Jleb


Padahal kata-kata barusan itu sungguh menancap tepat di dada Leon.


"Baiklah, apapun tanggapan kamu. Gue harap lo suka," pasrah dalam hati sakit pakai banget.


Setidaknya hargai masakan pasanganmu yang tulus, itu akan membuat mereka bahagia. Bahagia bukan hanya masalahnya uang, tapi perhatian dan kepedulian secara langsung juga penting.


Mika mencicipinya.


"Enak, pas di lidah gue. Thank you Leon." Beranjak dari duduknya dan langsung mencium pipi Leon kuat-kuat.


CUP


"Ciuman pagi gue, AAAA ... Mika lo romantis banget." Kegirangan bukan main.


Mika yang hendak menyuapkan lagi makanan itu ke dalam mulutnya jadi terhenti, sebab Leon berteriak.


"Astaga, gue salah kasih ucapan. Dia jadi gini" Mika berbisik lirih, sambil jari telunjuk tangannya miring dari dahi atas ke bawah yang artiannya orang gil4.


.


Ketika masa ospek


Tidak di ceritakan secara detail, pasti semua taukan ospek atau opak adalah masa orientasi dan pengenalan lingkungan kampus itu seperti apa ?


SKIP ya kesayangannya emak🄰


"WAH ... tampannya mahasiswa baru itu." Ujar salah satu mahasiswi yang sedang berkumpul di kerumunan dan membuat teman-temannya menoleh seketika.


Mika terlalu fokus pada bukunya, buku persiapan untuk belajarnya nanti. Saat ospek atau opak masih biasa-biasa saja, tapi setelah pakai pakaian rapi kuliah berbeda 180 drajat dari sebelumnya.


"Siapa sih yang di bicarakan dari tadi ?" Mika jadi penasaran.


Seberapa tampannya sih orang yang sedang di bicarakan.


"Aiyah ... si curut bandel itu ternyata, haduh..." Mika geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Ia kembali fokus pada bukunya. Sementara Leon di kerumunin orang-orang yang haus akan perhatian.


'Mika ... tolong.' Dalam hati butuh istrinya untuk membantunya.


Meski bandel dan suka bolos tapi ia juga polos cuma ikut-ikutan tren aja biar di bilang gaul gak kudet padahal nyali ciut, seciut perasaannya yang tidak berani bilang ke Mika. Mika mulai kesal dengan suara-suara wanita yang begitu manja, baru juga masuk kelas sudah jadi bahan kerumunan.


"Hey ... minggir, suami gue ini."


"Halah ... ngaku-ngaku, apa buktinya ?" tanya salah seorang mahasiswi.


"Gak ada!" Mika jawab jujur.


"Ada, kami sudah menikah." Leon menunjukkan jari manisnya dan juga jari manis Mika yang sama-sama mengenakan cincin kawin di sama.


Mika terlupa jika di jari manisnya ada cincin, benar-benar lupa.


'Aduh ... kalau Leon tau gue lupa punya cincin di sini, gimana?'


"Pasti bohong, yuk temen-temen kita pergi dulu. Lagian jaman modern begini, yang udah nikah aja bisa cerai, apalagi cuma ngasih bukti cincin doang." Di tertawakan oleh beberapa orang yang melihat kejadian ini.


Leon sedih mendengarnya.


"Gak usah lebay, gak ada temen gak apa-apa. Ada gue, sejak kapan sih lo jadi melo begini Leon."


"Sejak bucin ke lo sih Mika,"


Mika tersenyum kecut, lagi-lagi pihak dirinya yang di salahkan oleh Leon.


"Iya ... iya ...,"


Mika pindah tempat duduk yang awalnya jauh dari Leon kini sebelah dengan Leon.


"Terimakasih," senyum kemenangan.


Lagian wanita-wanita tadi itu hanya wanita bayaran Leon saja agar Mika bersimpati pada dirinya dan tidak mengabaikannya, ternyata cara ini berhasil menarik perhatian Mika.


'Akhirnya duduk dekat gue, kalau lo berani jauh-jauh lagi dari gue akan gue bikin lo cemburu dan perhatian lo hanya ke gue Mika, kecuali saat lo mengejar impian lo. Gue gak akan menghalangi itu Mika.'


Pelajaran di kampus tidak didetailkan ya


Saat selesai pelajaran.


"Hay cantik."


"Hay juga," canggung.


"Sendirian?"


"Tidak!" jawab singkat.


Mika memang selalu membatasi hal-hal tertentu, ia sudah berjanji ke Leon dan tidak mungkin ia ingkari janji. Baru kali ini mika di sapa pria bule asli sana, kulitnya gelap tapi tampan dan matanya berwarna hijau sedikit biru, seperti mengenakan softlens. Tubuhnya bagus terlihat dari lengan ototnya yang terlihat begitu pas di badannya. Leon yang baru memesan makanan terkejut saat hendak dirinya kembali ke meja yang ia pesan bersama Mika tadi.


"Haduh ... baru sebentar, sudah ada yang deketin. Dari segi tubuhnya, oke. Tapi, entah kalau wajah." Leon dengan percaya dirinya mendekati.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2