Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Hal romantis


__ADS_3

"Kamu genggam seperti biasanya sayang, jangan lupa mulut kamu sebab kamu datang bulan bukan!" jawab Leon dengan nafas beratnya.


"Tapi ..." Mika menurut saja, membantu tidak ada salahnya lagi pula sah suami istri melakukan hal beginian juga wajar-wajar saja yang tidak wajar melakukan hubungan di bagian belakang untuk membuang sesuatu.


'Aku gak suka rasanya cairan kental ini.'


Meski tidak suka dan ingin menolak tapi tetap di laksanakan dengan baik dan nurut saja.


Beberapa menit kemudian.


"Maaf ya sayang, jadi belepotan di wajah kamu. Sini aku bantu bersihkan." Menawarkan diri dengan membawa tisu basah.


"Tidak usah Leon, aku akan cuci muka lagi," beranjak pergi dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


"Tapi aku mau membantu kamu yang." Mengekori Mika dari belakang sampai masuk ke dalam kamar mandi.


Mika berdecak kesal, mulai lagi sikap posesif Leon yang bakalan melarang ini itu. Dulu sebelum bencana pulang ke Indonesia, ternyata pelakor Indonesia lebih kejam dari pada di Amerika dulu. Mungkin Leon kurang tampan ya dengan standar ketampanan di sana, mungkin saja. Sebab selama di sana tidak ada yang berani mendekati dirinya, mungkin sikap dingin dan cueknya membuat banyak wanita yang patah hati.


"Leon ... aku masih bisa sendiri ko ngerjain hal sekecil ini," menolak tapi tidak di gubris sama sekali.


Hanya helaan nafas berat Mika keluarkan, mau menantang nanti di bilangin berani dengan perintah suaminya. Selesai membersihkan muka ia mengenakan kelengkapan datang bulannya, tak lupa ia rendam celana kecilnya sebelum di cuci.


.


"Leon." Menatap Leon dengan bersandar di dada bidangnya.


Leon suka sikap Mika yang bermanja-manja di dadanya atau di perutnya, baginya sangat imut jika sang istri semanja ini di pelukannya. Tak lupa Leon membelai rambut indah milik Mika yang beraroma segar itu, setiap helai ia sentuh dan terasa halus sekali.

__ADS_1


"Rambut kamu bagus yang, pakai shampo apa?" mengecup rambut Mika berkali-kali.


"Shampo biasa Leon, lagian buat apa beli mahal-mahal kalau di pakai gak licin dan gak bersih!" jawabnya sambil makan camilan.


Leon yang gemas langsung mencubit kuat-kuat pipi Mika.


"Betul juga yang, jadi aku lebih mudah membuatmu sering keramas jadinya ee he he." Tertawa bahagia.


Mika manyun dan memutar bola matanya, tau begini bilang mahal ajar biar gak sering main basah-basahan dan berujung kesakitan saat berjalan.


"Terserah deh kamu mau bilang apa, jangan lupa kita punya dua baby Leon dan sekarang tanpa baby sitter. Jadi ... kamu sebagai daddy-nya harus siap siaga jangan cuma aku doang yang repot," omelnya terdengar sangat indah.


Memang dulu Mika sering mengomel tapi jauh sebelum memiliki anak, tapi semenjak insiden kurang enak itu semua berubah 180 Drajat dari sebelumnya. Sakit tidak, tapi rasa sesal itu terus menghantui hidupnya bahkan di tebus dengan waktu sekarang tidak mungkin bisa mengulang kenangan lalu.


Untung saja dirinya masih di anggap ada dan tidak di anggap tidak ada, pasti hari-hari penuh penyesalan yang tiada tara.


Atom dan Seno masih berdebat di ruangan lain, agar cucu-cucunya tidak terjaga untuk malam ini. Berharap mereka segera tumbuh besar dan tidak membuat para orang-orang tua seperti kakek-kakeknya kualahan.


"Kenapa Mika saat pulang ke Indonesia tidak membawa ikut serta Asma dan Asna Atom?" Seno penasaran apa alasan Mika, mungkin saja ayahnya di beritahu alasannya secara Atom ayah kandungnya.


"Mika tidak cerita apa-apa No, aku juga tidak bertanya apa alasannya. Pasti sesuatu yang tidak jauh-jauh dari putramu Leon!" jawabnya acuh.


Seno geram, kenapa putranya lagi yang di salahkan.


"Hey Atom, jaga mulut kamu ya. Aku dengar dari kemarin-kemarin kamu terus menerus menyalahkan putraku, putrimu juga salah."


Atom tercengang, tumben nih aki-aki otaknya waras gak konslet seperti biasanya yang gak bakalan membela putranya, Syukurlah jika Seno sudah berubah pikiran menjadi lebih terbuka lagi untuk anak laki-lakinya.

__ADS_1


"Tumben membela putramu, kenapa gak dari dulu saja kamu membelanya. Jika dari dulu sudah aku gagalkan sejak lama hubungan pernikahan mereka secara resmi, bukannya hubungan nikah siri lebih mudah untuk berpisah asalkan tidak ada keturunan," Atom mengeluarkan unek-uneknya.


Memang yang ia tangkap selama ini putrinya tersiksa tertekan batinnya, hati siapa yang tidak terluka melihat putrinya terus menerus terluka berbeda dengan orang tua yang tidak peduli dengan nasib anak-anak nya bahkan dengan tega meninggalkannya.


"Aku baru sadar ternyata mertuanya tidak suka dengan menantunya, tau begini aku juga gak berharap Mika jadi menantuku. Banyak di luaran sana yang lebih baik dari Mika putrimu, jangan lupa Atom dan ingat bila ibunya Mika bukan standar dari keluarga kami. Untung saja aku masih berbaik hati terhadap putrimu, kalau tidak ...." Tatapan matanya dingin dan kembali ke rumahnya sendiri.


Inilah sikap asli Seno, dari dulu Atom memang sengaja memancingnya namun gagal dan baru malam ini terungkap sikap asli Seno seperti apa terhadap orang miskin seperti dirinya.


Atom masuk ke dalam kamar dan menatap kedua cucunya bergantian dengan tatapan sendu terluka, memang rasa kecewanya terhadap Leon masih ada namun perkataan Seno barusan sangatlah benar. Antara Mika dan Leon bagaikan langit dan bumi, Leon terlahir dari keluarga baik-baik dan terhormat tidak seperti putrinya yang lahir dari istri yang ternyata pekerjaan nya seorang wanita panggilan dan Atom selama ini menyembunyikan hal sebesar itu dari semua orang di sekitarnya bahkan Seno, tapi entah dari mana Seno tau yang pasti uang lah yang memberitahukan tentang itu.


Leon mengemasi beberapa pakaian yang ada di ruangan setrika dan melihat pakaian satu persatu dan menatanya sesuai dengan susunan yang sebelumnya dan memasukkan semua kedalam koper.


"Mika sayang, apa semuanya perlu di bawa?"


"Iya Leon!" jawabnya masih sibuk dengan pekerjaannya yang ada di dalam kamar mandi.


Mengemas benda-benda kecil yang tak terhitung jumlahnya, sebab bukan hanya miliknya saja namun milik kedua buah hatinya harus di kemas juga.


Berita besar perdebatan para orang tua masih belum terdengar sampai di telinga Leon dan Mika, karena suasananya sepi tanpa adanya pembantu di rumah Atom membuat kedua belah pihak yang sedang berselisih semakin sengit.


"Leon."


"Iya sayang, ada apa? kenapa wajahmu sedih."


Mika menggeleng.


"Gak tau Leon, tapi perasaan ku gak enak seperti ada sesuatu yang terjadi di rumah ayah," Mika merasakan tidak nyaman dan ingin cepat-cepat pulang saja namun sekarang sudah larut malam mau bagaimana lagi.

__ADS_1


Sekarang tinggal menunggu keputusan dari Leon apa ia memutuskan untuk mengajaknya pulang malam ini atau tidak.


__ADS_2