
Mika di rumah menatap malas barang-barang yang ada di hadapannya.
Deret
Deret
Deringan ponsel Leon berdering, ada semburat senyum terpancar di kedua sudut bibirnya tak kala saat wanita idamannya menelpon, segala persiapan ia siapkan dulu seperti merapikan kemeja dan tatanan rambutnya.
"Tampan sekali, pasti Mika suka."
Mengangkatnya.
🤳 "Hai ... sayang."
Dengan senyum salam sopan dan santun.
🤳 "Kenapa mengirimiku barang-barang ini?" menunjukkan semua benda yang ada di meja ruang keluarga.
Paket yang baru ia terima begitu banyak dan membuat Mika malas membukanya satu persatu, sudah pasti ulah suaminya siapa lagi jika bukan dia. Ia tidak punya penggemar selain itu meski ia populer di bidang usahanya namun yang jelas yang memberi barang-barang ini hanya Leon seorang.
🤳 "Supaya mood kamu baikan sayang!"
Leon pasrah jika Mika menolak bahkan yang lebih parahnya membuang semuanya ke tong sampah.
🤳 "Pulanglah aku ingin bertanya sesuatu padamu Leon."
Mika mematikan video call nya dengan Leon secara sepihak, masalah rumah tangganya tidak perlu orang lain ada yang tau. Meski barusan sikapnya sangat ceroboh,hampir saja membuka aib rumah tangganya ke publik. Apa kata orang jika seorang pengacara seperti Leon dan juga dirinya tercoreng nama baiknya sebab permasalahan rumah tangganya.
Perihal kecelakaan Leon dengan seorang wanita yang saat ini terbaring koma, lumpuh dan hilang ingatan saja di tutup rapat-rapat oleh pihak perusahaan Kharel papa mertuanya.
"Hah ..." Helaan nafas Mika begitu berat.
"Enak banget ya jadi orang kaya tajir melintir dari lahir bahkan sebelum lahir, punya peliharaan apa sih sampai-sampai banyak orang kaya?" pikirannya berkelana kemana-mana.
Leon segera tancap gas tanpa sopir, masih ingat jalan pulang dan pergi berkerja.
"Sayang."
Memeluk erat tubuh Mika dari belakang, Mika masih bergelayut dalam lamunannya tanpa ia sadari Leon datang dan memeluknya.
"Mikirin apa?" pertanyaan Leon tepat di telinganya.
"Mikirin suamiku yang gak punya perasaan sudah menyakiti istrinya dan jika bukan di desak pertanyaan oleh istrinya pasti gak bakalan jujur-jujur juga!" hendak melepaskan pelukannya tapi percuma Leon enggan melepasnya justru bertambah erat saja.
"Aku-- maaf sayang."
Mika mengerjabkan matanya agar air matanya tidak tumpah kembali.
"Leon, apa kamu tau rasanya patah hatiku saat itu Leon?"
__ADS_1
"Maafkan aku!"
"Sakit Leon, sakit sekali. Apalagi saat aku sering menjenguk mu dan aku lihat tidak ada cincin di jari manis mu, saat aku tanya ke Dokter yang saat itu menangani operasi mu tidak di temukan apa-apa selain dompet dan ponselmu, apa kamu tau Leon hatiku hancur saat itu juga. Kenapa kamu melepas cincin pernikahan kita, kamu tidak...," Mika pingsan di pelukan Leon.
"Sayang ... sayang ... bangun sayang ...." Leon panik langsung mengendong dan merebahkan tubuh Mika di atas sofa dan ia melonggarkan kancing pakaian bagian atas milik istrinya.
Leon mencari kotak obat lalu mencari minyak angin untuk menyadarkan Mika dari pingsannya.
"Kenapa aku tidak sadar jika tubuh mu semakin kurus sayang, maafkan aku sayang." Mengecup berkali-kali dahi dan bibir Mika.
Mika masih belum sadar padahal sudah berbagai cara Leon lakukan namun hasilnya masih nihil.
Atom hari ini ingin mengunjungi putrinya.
"Apa Leon sudah pulang, tumben jam segini sudah pulang. Aku pikir dia akan pergi mengunjungi kekasihnya yang masih terbaring lemah di ranjang pasien rumah sakit?"
Dulu memang Atom begitu menyanjung Leon setinggi langit di angkasa namun setelah menyakiti putri semata wayangnya rasa kagum itu jadi hancur seketika, rasanya ingin mengembalikan kenyataan seperti dulu hal yang sedikit mustahil untuk di ulang kembali.
Tok tok tok.
Ting tong.
Leon mengerutkan dahinya, siapa yang bertamu bukannya pembantu yang beres-beres datang saat pagi dan sore saja sementara saat ini masih siang benderang.
Ia segera merogoh ponselnya dan melihat dari cctv kira-kira siapa yang berkunjung, semoga bukan mertuanya.
"Semoga bukan ayah atau papa, bisa-bisa aku di sidang lagi membuat putri tercintanya pingsan begini. Di tambah lagi Mika gak bangun-bangun lagi." Panik sepanik-paniknya.
Ia terkulai lemas di tempat rasanya sudah tidak sanggup menopang badannya.
"Nasib ... nasib ...," menuju ke pintu utama rumahnya.
Hanya keringat dan degup an jantung yang menemaninya tidak ada yang lain.
Ceklek.
"Ayah." Senyum yang di paksakan tampil.
"Kenapa lama sekali, dimana Mika?" melihat kesana kemari.
"Ada di ruang keluarga ayah, Mika pingsan dan belum sadarkan diri!" cicitnya lirih.
Takut di terkam buaya.
Mata Atom langsung memelototi Leon.
"Pingsan?"
Leon mengangguk dan pasrah
__ADS_1
Sesampainya di ruang keluarga Atom berusaha menyadarkan putrinya.
"Sejak kapan ia pingsan?" sambil memeriksa denyut nadi putrinya dan ternyata masih berdenyut.
"Sepuluh menit yang lalu ayah!"
"Ayo bawa ke rumah sakit."
.
"Mika sayang, akhirnya kamu sadar juga sayang." Senang dan menghujani dengan ciuman bertubi-tubi di dahinya.
Seno dan Atom saling menatap satu sama lain.
"Kenapa aku ada di rumah sakit dan di infus?" menatap Leon.
"Kamu pingsan sayang!" terus menggenggam tangan Mika yang tidak di infus.
"Aku ingin pulang dan ingin tau seberapa jauh kamu menyakiti aku Leon." Masih di ungkit-ungkit juga.
Namanya juga perempuan kalau ada masalah dan pikiran terus tertuju ke arah tersebut pasti akan ia ungkit sampai selesai marahnya.
"Sayang, kamu baru sadar jangan bahas itu dulu ya. Kita hampir tiga hari loh marahan sayang, bukannya tidak baik marah terlalu lama dengan pasangannya." Penjelasan Leon benar.
"Aku sudah memaafkan kamu Leon,"
Leon senang sekali.
"Tapi lanjut besok, jadinya kan gak tiga hari dan kembali menjadi satu hari lagi."
"Sama saja bohong sayang,"
"Sudah tau konsekuensinya seperti apa kenapa kamu membuat kesalahan dengan menduakan aku Leon?"
"Aku kalah taruhan sayang, jika aku menang hari sial itu tidak mungkin terjadi dan menghantui pernikahan kita berdua!"
"Taruhan ko di layanin sih, berarti kalau taruhannya meniduri bakalan kamu iyakan kan Leon?"
"Enggak!"
"Terserah deh, pokonya setelah pulang nanti harap kamu menyelesaikan permasalah kita dan jangan lupa cincin kamu. Aku perlu penjelasan yang masuk akal, andai kalau aku gak terbaring seperti sekarang sudah aku pukul dan tendang tubuh kamu. Gak apa-apa aku masuk penjara dan terkena pasal asalkan dendam ini terbalaskan ke kamu Leon."
Leon menggeleng.
"Aku salah dan aku siap menerimanya sayang dan aku jamin kamu puas membalasnya, asalkan kamu masih tetap mau berumah tangga bersamaku sayang, aku tau kamu wanita kuat baik dan bukan pendendam sayang," masih dengan tutur kata yang sama tegas dan lembut.
Ucapan Mika yang barusan itu bukan bersungguh-sungguh dari dalam hatinya hanya gertakan saja agar Leon tidak mengulangi kesalahannya yang sama. Laki-laki jika sudah punya hobi baru dan hobinya selingkuh itu gak ada obatnya, bisa sembuh sukur-sukur deh jika tidak ya wasalamualaikum.
*
__ADS_1
Redakan emosi dengan membaca istighfar berkali-kali, Astaghfirullah Al Adzim (aku memohon ampun Kepada Allah Yang Maha Agung)