Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Setelah kejadian itu ...


__ADS_3

"Sial." Leon melempar satu meja kecil ke sembarangan arah agar papanya tau diri ini tidak suka di siksa begini, lebih baik terusir dan bisa bertemu Mika serta anak-anaknya.


Seno memilih pergi dan menutup telinganya rapat-rapat, rumahnya sudah di desain dengan peredam suara agar apapun yang terjadi di dalam rumahnya tidak terdengar oleh tetangga sekitar, lagi pula kediamannya mewah dan memiliki taman serta halaman yang luas jadi teriak-teriak saja tidak mungkin terdengar oleh tetangga yang lewat.


"Walaupun kamu berjuang untuk keluar dari kamar itu percuma saja Leon." Seno sudah menyiapkan beberapa dokumen penting serta surat perjanjian.


Bisa jadi nanti Leon berubah pikiran dan mau menuruti kehendaknya, anak satu-satunya dan penerus keluarga KHAREL harus mengubur hidup-hidup cita-cita ataupun cinta yang tidak penting. Jika di biarkan perusahaan keluarga KHAREL akan hancur sebab sebagai generasi saja tidak mau.


"Siapkan semua yang saya minta kemarin di meja sini, jangan lupa pengacara hebat dan notaris sebagai saksi." Seno memerintah dengan nada tegas dan mendominasi.


Ini rumahnya, ini juga haknya untuk mengatur segala yang ada di rumahnya sendiri.


Leon menatap ke seluruh penjuru ruangan itu, tidak ada celah sama sekali, bahkan jendela saja tidak ada. Ruangan bernuansa putih dan sedikit ada warna merah di beberapa sudut ruangan tak lupa tempat tidur yang sangat mewah bukan kesukaan Leon, Leon lebih suka yang berbentuk sederhana namun kokoh dan elegan saat di lihat dan di jadikan tempat beristirahat.


"Ini sebenarnya ruangan apa sih?" seumur-umur ia baru pertama kali tau rumahnya ternyata ada ruangan khusus entah ruangan bawah tanah atau lantai teratas atau mungkin ruang tengah yang jelas Leon di buat bingung dengan rumah ini.


Leon berpikir secara terbuka agar rencananya tidak berantakan,tapi alasan apa yang harus ia lakukan untuk bisa kabur dari rumah bak neraka. Tidak pernah terbesit pikiran buruk kepada orang tuanya yang ternyata seperti ini, apakah ini rahasia kelam orang tuanya demi menutupi segala hal dengan berbagai cara.


"Bagaimana keadaan Mika dan anak-anak, aku berharap mereka bertiga baik-baik saja." Resah selalu.


Semenjak ia sadar saat siang tadi ia terus menerus memikirkan keadaan anak-anak dan Mika, apa mereka merasakan nasib yang serupa dengannya atau justru lebih parah lagi.


Ia mencari-cari ponselnya tapi tidak ada di seluruh kantong baju dan celananya.


"Sial ... pasti di ambil papa, sialan papa ini seeenak nya sendiri mengambil ponsel ku yang jelas-jelas aku beli menggunakan uangku sendiri, hasil kerja kerasku sendiri." Melempar sendal yang ia gunakan ke arah pintu.


BRAG.


.


Mika membersihkan rumahnya dengan telaten seperti sebelum-sebelumnya, sebab sekarang dan mulai hari ini ia harus bangkit dan bisa kembali. Entah Leon pergi kemana yang jelas ia merasakan ketakutan dan tertekan namun ia jaga kewarasannya agar anak-anaknya tidak ikutan stres seperti ibunya.


"Harus fokus ... harus fokus Mika, ingat kamu masih banyak orang yang harus kamu bahagiakan hidupnya." Menyeka keringat yang sudah membasahi seluruh badannya.

__ADS_1


Meski begitu Mika tetap bersyukur dengan apa yang ia punyai sekarang.


"Leon ... kamu sebenarnya ada dimana Leon?" menangis sejadi-jadinya.


Jika Leon tadi pagi tidak membuka pintu itu pasti sekarang Leon dalam keadaan baik-baik saja bukan, dirinya mau bercerita pada siapa jika pada ayah takutnya ayah justru kecewa karena dalam kekacauan sebesar ini Leon tidak ada di tempat.


Dret Dret Dret.


Mika merasakan ada getaran di saku celananya, pasti itu Leon yang menghubunginya.


"Pasti Leon." Semangatnya kembali membara setelah seharian panik sendirian.


Setelah tau panggilan itu bukan dari Leon semangatnya yang barusan membara kini redup tapi sebisa mungkin ia tetap tersenyum dan bahagia, karena yang menghubunginya adalah sang ayah.


Clik.


📞 Hallo ayah, tumben malem-malem ayah telpon Mika. Ada apa yah?


📞 Tadi pagi di rumah ada kejadian yang mengejutkan ayah. Kenapa kamu tidak menghubungi ayah nak, dan Leon juga kenapa tidak menghubungi ayah.


Cegluk.


'Aku harus bilang apa ke ayah?' bertanya dalam hati.


📞 Mika, kenapa kamu diam nak. Apa ada masalah lainnya selain masalah kejadian tadi pagi di rumah kalian?


📞 Ayah, besok pagi-pagi Mika mau bertemu ayah. Apa ayah ada waktu


📞 Ada Mika ... ada nak, ayah akan selalu ada waktu untuk putri ayah tercinta


📞 Terimakasih ayah, terimakasih. Yah ... Mika mau beberes dulu yah


📞 Iya, kamu lanjutkan nak. Ayah matikan dulu telponnya

__ADS_1


"Huft ..." akhirnya Mika bisa bernafas lega.


Dulu saat papa Seno masih baik ia juga seperti ayah, akan hawatir dengan keadaannya. Namun ... semua berubah begitu saja entah apa alasannya, meski ya ... ia tau baru beberapa bulan lalu bahawa ibunya memiliki pekerjaan yang membuat malu. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya tidak bisa protes lahir dari rahim siapa yang ia sesalkan kenapa harus diri ini yang terkena akibatnya di tambah lagi perasaan cinta dan sayangnya terhadap Leon tidak bisa di hapuskan begitu saja.


Pagi hari pukul 07.09 WIB.


"Pagi ayah." Sapa Mika setelah keluar dari mobil kesayangannya.


"Pagi Mika, ayo masuk cucu-cucunya kakek yang tampan dan cantik," menyambut dengan baik.


Atom sebagai ayahnya tau apa yang sedang menyelimuti hati dan pikiran Mika putrinya.


"Duduklah dulu nak, tadi malam saat kamu bilang akan datang kemari ayah membuatkan sop ayam kesukaan kamu nak. Untuk kedua cucu-cucu ayah juga," mencium gemas pipi mereka bergantian.


Mika sampai di buat terharu dengan pemandangan yang sungguh bermakna, ia mengambil ponselnya dan memfoto ayahnya berserta anak-anaknya.


Cekrek.


"Eh, kamu mengambil foto kita bertiga Mika?"


"E ... he ... he ... iya ayah, lagian jika di lihat dari sudut pandang pengambilan gambar sangat pas ayah. Coba lihat kesini lagi yah!" memfokuskan arah kamera ponselnya.


Atom dengan antusias tersenyum ke arah kamera ponsel tersebut.


"Satu ... dua ... tiga ..., senyum ... ayah."


Cekrek.


Setelah selesai berfoto-foto ria kini dunia Mika kembali seperti semula ia datang, diam dan tidak ceria sama sekali apalagi saat matanya tak sengaja menata bangunan megah di sebelah rumah ayahnya.


"Nak ... dimana Leon, kenapa kamu hanya bertiga dengan anak-anak saja. Kamu dan Leon baik-baik saja bukan?" tanyanya lagi.


Atom sudah tau sebenarnya jika kejadian kemarin pasti tidak jauh-jauh dari ancaman Seno waktu itu, ia juga tidak habis pikir putranya tidak ada di tempat. Daripada ia bingung dan penasaran ia memilih menunggu sedikit lama putrinya untuk berbicara jujur sendiri.

__ADS_1


Pertanyaan apapun jika di tanyakan dengan buru-buru pasti hasilnya tidak tepat, akan banyak alasan yang terucap bukan kejujuran yang nyata.


__ADS_2