
Mika mencari-cari ponselnya untuk menghubungi Leon namun naas ponselnya tertinggal di lantai atas kamarnya.
"Ish ... dalam keadaan genting begini pakai lupa segala bawa ponsel." Menepuk jidatnya.
Hendak mengambil ponselnya namun salah seorang warga yang tadi membantunya, meminta Mika untuk ke rumah sakit terdekat sekarang juga, tidak mungkin warga juga yang mengurus segala kelengkapan 2 orang yang di tolong nya tadi.
"Maaf Bu Mika, kami hanya bisa membantu sampai di sini." Meminta maaf dengan tulus.
"Iya, tidak apa-apa pak ... Bu ... terimakasih sudah membantu saya sampai menghubungi ambulan untuk datang di tambah lagi kehadiran bapak-bapak polisi juga," mengucap beribu-ribu terimakasih.
Meski sekarang suasana tegang-tegangnya Mika berusaha berpikir positif, mungkin Leon pergi ke Minimarket terdekat.
"Leon ... suasana menakutkan begini kamu ada di mana sih ?" sambil menggigit bibir bawahnya lantaran ketakutan dan hawatir akan keselamatan orang-orang terdekatnya.
Karena sudah tidak ada waktu lagi, pada akhirnya Mika ikut masuk ke dalam mobil ambulan meski anak-anak menangis kencang. Setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam itu akhirnya rombongan pasien sudah sampai di rumah sakit terdekat. Mika menitipkan sementara anak-anak ke salah satu sister yang biasanya menangani bayi yang berada di rumah sakit, meski bukan pekerjaannya suster itu mau membantu dan menolong Mika.
"Mbak, apa bisa saya titip anak-anak saya sebentar mbak. Keluarga saya dua orang masuk IGD mbak, saya harus segera menyelesaikan administrasi juga mbak." Mika berbicara dengan nada bergetar takut di selimuti khawatir yang sangat luar biasa.
"Iya Bu, gak apa-apa. Saya bantu ibu untuk menjaga anak-anak ibu, saya kebetulan tidak ada jam berkerja sekarang," dengan ramah ia berbicara.
Mika bernafas lega saat suster itu mau membantu bahkan menolong untuk menjaga kan anak-anaknya. Tapi sebelum itu Mika sudah melihat secara teliti postur tubuh dan wajahnya serta meneliti sekitar area tersebut, mata tajamnya bisa melihat bahkan memprediksi.
Maka dari itu Mika percayakan sementara anak-anak pada wanita itu, dari pancaran wajah saja bisa di lihat dia wanita baik namun entah sudah menikah atau belum yang jelas tak sengaja Mika menatap perut suster itu sedikit buncit seperti orang berbadan dua. Mungkin sudah menikah, Mika segera menepis bayangan yang tidak-tidak karena tidak baik juga berburuk sangka pada orang lain.
Selesai dengan membayar administrasi dan mengecek kondisi mereka berdua secara bergantian setelah Dokter selesai memeriksa dan melihat seberapa luka dalam yang di timbulkan akibat insiden tersebut.
'Semoga mereka baik-baik saja dan tidak trauma untuk berkerja kembali ke rumahku setelah mereka sembuh dan sehat kembali, takutnya mereka trauma dan keluarga juga ikut merasakan trauma.'
__ADS_1
Mika mencari-cari nama kontak keluarga mereka dan menghubungi mereka, terdengar dari suara kejauhan ada suara tangis. Perasaannya jadi tidak karu-karuan, bahkan kehawatiran Mika pun terjadi. Setelah menghubungi semua pihak keluarga yang ternyata ada beberapa kendala sebab keluarga mereka juga berkerja dan bos mereka belum memberi izin untuk pulang, jadi ... mereka hanya pasrah saja. Demi kebutuhan alasannya.
Pada malam harinya.
Setelah keluarga mereka datang Mika bernafas lega dan beribu-ribu kali ia meminta maaf atas kelalaiannya tidak bisa memastikan orang yang berkerja di rumahnya pulang dan pergi dalam keadaan sehat.
"Bapak ... dan ibu ... serta keluarga dari pak Antok dan Bu Kinan saya meminta maaf atas kejadian insiden ini, saya mohon maaf dan akan tetap bertanggung jawab sampai beliau sembuh dan sehat kembali."
"Tidak apa-apa bu Mika, justru kami semua berterima kasih kepada Bu Mika yang selalu baik ke keluarga kami bu," ucap salah seorang wanita yang tak lain adalah istri dari pak Antok.
Mereka mengangguk setuju dengan ucapan bu Antok, tanpa bantuan Mika mungkin saat ini orang tercinta tidak sebahagia sekarang.
"Bu .. kenapa kami tidak melihat pak Leon, apa beliau ada pekerjaan di luar kota bu?" tanyanya.
Mika menatap Bu Antok dengan terkejut lalu sedetik kemudian ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Sudah sedari tadi pagi Leon tidak ada kabar sama sekali, padahal dirinya sangat membutuhkan sang suami untuk mendampinginya sekarang, kalau meminta pada ayah rasanya tidak pantas sebab dirinya sudah menikah dan memiliki suami yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar.
"Saya pamit pulang dulu ya pak ... bu ... kasihan anak-anak." Sambil mengendong kedua buah hatinya yang ternyata sudah tertidur lelap.
"Hati-hati Bu Mika, apa perlu saya antar bu?" tanya suami bu Kinan.
"Tidak perlu pak Kinan, terimakasih banyak ya sudah ada mobil taksi yang menjemput saya. Saya permisi dulu ya!" sambil mengangguk ia beranjak pergi.
Langkah kakinya terasa lemas setelah pergi dari tempat menegangkan itu, bagaimana tidak menegangkan di antara kerumunan keluarga Antok dan Kinan. Jantungnya tidak baik-baik saja menghadapi mereka, takut juga ada.
.
__ADS_1
BRAGH BRAGH BRAGH.
"Buka pintunya, buka pa." Suara Leon dari dalam kamar itu terdengar sayup-sayup saja di telinga Seno.
"Tidak akan Leon, lagi pula papa mau kamu sadar Leon bahwa istrimu tidak pantas menjadi istrimu. Apalagi dia lahir dari rahim wanita kotor itu," balas Seno pada Leon.
Leon terus memukul-mukul daun pintu dengan keras.
"Terserah papa, yang jelas Leon akan tetap mempertahankan Mika untuk menjadi istriku pa. Aku juga tau pa perihal kebakaran kios milik ayah Atom, itu ada kaitan dengan papa bukan ?" tuduhnya.
'Anak sialan, tau dari mana jika aku menyuruh orang-orang berkerja dengan rapi kenapa Leon bisa tau. Tidak bisa aku harus menyangkalnya, aku akan buat kamu perlahan-lahan menuruti Papa Leon.' Dalam hatinya tetap bersih kukuh untuk memisahkan Leon dan Mika.
"Papa tidak seperti yang kamu tuduhkan Leon, bukannya kamu tau betul jika papa ini sahabat baiknya Atom. Leon!" alasan yang tidak logis.
Memang benar bersahabatan tapi jika bersahabatan di selimuti kebencian dan ketidaksukaan yang mendalam dan diam-diam itu apa nama dan sebutannya.
"Sahabat baik dari mana." Leon tidak habis pikir dengan papanya yang semakin picik pikirannya.
.
Sepulang dari rumah sakit Mika menatap ke seluruh penjuru rumahnya, tidak ada yang aneh hanya kesunyian sebab anak-anak masih asik dengan dunia mimpinya sebab dalam tidurnya mereka berdua tersenyum-senyum.
"Sangat manis dan menggemaskan sekali, apa yang kalian impikan?" mengecup pipi mereka satu persatu.
Mereka hanya menggeliat saja saat bibir mamanya menyentuh pipi-pipi chubby nya.
Mika terus menerus menghubungi nomor ponselnya Leon namun tetap nihil jawabannya, seingatnya tadi pagi Leon keluar dari kamar membawa serta ponselnya. Sejenak kemudian Mika mencari-cari keseluruhan sudut penjuru ruangan untuk mencari ponsel Leon mungkin saja tertinggal, tapi tetap ia tidak bisa meninggalkan lama-lama kedua anak-anaknya.
__ADS_1