
Dokter yang baru menangani operasi pasien tersebut, terkejut saat di dalam mulut pasien ada obat. Obat tersebut masih di selidiki, tinggal sedikit dan sepertinya yang lainnya sudah tertelan oleh pasien. Itu penjelasan yang sedikit tidak masuk akal, obat apa kira-kira.
Setelah selesai di teliti ternyata obat tersebut adalah obat yang bisa menyebabkan orang kehilangan daya ingatnya.
"Benarkah pasien akan kehilangan ingatannya, bukan karena kecelakaan itu?"
"Kecelakaan itu adalah faktornya hilang ingatan sebab ada cidera di otak pasien, di tambah lagi ternyata pasien sudah mengkonsumsi entah secara sengaja atau tidak yang jelas kemungkinan besar pasien tidak akan ingat siapa-siapa lagi, jika ingat pun kemungkinan hanya orang terdekat misalnya orang tua atau saudaranya saja yang lain lupa, sebab obat yang masuk ke dalam tubuhnya adalah dosis besar dan di negara kita belum beredar dengan mudah tuan muda!" jawab sang Dokter.
"Baiklah Dokter, terimakasih. Bila dia sadar segera hubungi saya ya Dok."
"Siap tuan muda," jawab Dokter itu.
Hari berganti seharusnya Mika sudah sadar namun belum ada tanda-tandanya untuk sadar dari tidurnya pasca operasi.
Nathan Arcelio pemuda tampan sejuta pesona, selain anak pemegang saham terbesar sekaligus anak pemilik rumah sakit di kota ini ia memiliki ketenaran dan juga otak yang cerdas. Di usianya menginjak 14 tahun ia seperti orang yang sudah dewasa bahkan sangat berwawasan tidak seperti anak yang menginjak dewasa namun masih seperti anak-anak.
"Hay ... wanita cantik, apa tidak ingin bangun dari tidurmu. Ternyata kamu ini selain cantik, sepertinya usiamu tidak jauh berbeda denganku. Jika nanti kamu sadar apakah kamu masih bisa memiliki kenangan lama bersama pasanganmu, aku tidak yakin wanita secantik kamu tidak memiliki kekasih." Hanya menebak-nebak usianya masih 20 tahunan. Benar laki-laki yang sedang memandang wajah Mika begitu terkagum-kagum dengan kecantikan Asia nya.
Omar yang baru saja membeli beberapa camilan untuk tuan mudanya.
"Tuan muda, ini camilan anda." Memberikan sesuai dengan permintaan Nathan.
"Kenapa banyak sekali, kamu mau meracuni saya ya?" menatap tajam asistennya itu.
__ADS_1
Omar mengeluarkan keringat dingin, dia salah lagi tapi bukannya ini semua atas permintaannya. Bahkan catatan dan rekaman suaranya masih tersimpan rapi di saku jaketnya agar sewaktu-waktu tuan mudanya jika berdusta ada bukti sebuah rekaman suara.
'Maafkan saya tuan muda, saya terpaksa agar uang gaji dan keselamatan kerja saya ikut tuan muda aman sampai nikah dan menua.' Omar menangis dalam hati.
Mata Nathan membulat tajam pada Omar.
"Kamu, memata-matai saya ya. Hapus enggak, kalau kamu mau mengancam saya dengan itu tidak mempan meski umur saya masih belasan tahun." Marah dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Tuan muda, sekali lagi saya minta maaf saya tidak akan menghapus jika tuan muda sering menyangkalnya. Lagi pula jika tuan ingkar maka dengan mudah saya lapor pada tuan besar Arcelio," seperti ancaman tuannya pada bawahannya.
"Silahkan lapor saja, jika uang bulanan saya di stop papa jangan salahkan saya tidak bisa memberimu bonus-bonus lagi, huh ...." Lucu sekali wajah ngambek Nathan.
"Maaf tuan muda Nathan, lain kali akan saya ulangi. Eh ... maksudnya tidak akan terjadi lagi," panik dan takut, masih banyak cicilan yang harus ia bayar selain cicilan rumah dan kendaraan milik istrinya.
"Nah ... begitu juga cukup bagus jawaban kamu."
"Tuan saya permisi terlebih dahulu."
"Iya, sana-sana," asyik dengan camilannya.
Sambil makan ia melihat wajah cantik yang berada di hadapannya.
"Sebentar lagi aku akan lulus SMP lalu akan pergi ke SMA, apa kamu gak mau bangun dulu dan mengucapkan terimakasih dulu begitu kakak Xia?" Nathan menatap tajam ke arah Mika.
__ADS_1
Ia menghela nafas saat tidak ada tanda-tanda wanita yang ada di hadapannya bangun, usai menghabiskan semua camilan ia beranjak pergi. Banyak cerita yang ia katakan berharap ia akan segera bangun dari tidurnya.
"Tuan bagaimana, apa sebaiknya tuan pulang terlebih dahulu?" tanya Omar pada Nathan.
"Tidak perlu Om Omar, saya langsung ke sekolah saja!" jawabnya kurang bersemangat.
Omar tau jika tuan mudanya ada perasaan pada pandangan pertama terhadap gadis yang ia tolong beberapa hari yang lalu itu, bahkan secara khusus tuan mudanya memberikan nama kesayangannya untuk anaknya nanti pada gadis itu.
.
Leon pusing dengan suara tangisan kedua anak kembarnya.
"Pa ... ini semua gara-gara papa. Apa papa begitu bahagia melihat hubungan kami hancur begitu saja pa?" marah namun tetap mengendong kedua buah hatinya.
"Itu gara-gara perbuatan kamu Sendiri, andai dulu kamu tidak berbuat aneh-aneh dengan membeli barang haram itu apakah mungkin kedua anakmu jadi korbannya, jadi ... jika kamu ingin menyalahkan orang lain salahkan dirimu sendiri yang tidak bisa mengontrol nafsu menggebu mu dulu Leon. Pokoknya papa tidak mau tau kamu harus berkerja mulai besok di kantor sudah berhari-hari kamu diam dan sekali protes menyalahkan papamu ini, di tambah satu lagi semenjak Mika dan Atom pergi kamu juga menyalahkan papa mu ini, itu kemauan mereka pergi sendiri jadi apa salah papa jika papa mengambil anak-anak kamu saat Mika sedang istirahat," sangkalnya Seno.
Leon yang awalnya marah-marah kini terdiam,ia harus berpikir positif untuk sekarang. Tidak punya apa-apa dan tidak punya uang sama sekali, demi mencari istri dan juga mertuanya harus memiliki uang terlebih dahulu, harus dengan cara diam-diam tanpa sepengetahuan papanya.
'Sial, gua gak punya apa-apa. Apalagi dukungan, sama sekali gue gak punya, sial ... sial ... sial ... banget hidup gue. Rumah tangga gue terancam di tambah lagi gue gak tau keberadaan istri gue apakah dia baik-baik saja di luaran sana?' bertanya dalam hati.
Seno menatap Leon penuh dengan terkaan.
'Apa nih anak udah mulai sadar ya, gak bisa pokonya gak bisa Leon harus mau menuruti keinginanku dan tetap pada pengawasanku. Aku mau Leon menikah dengan wanita dari salah satu rekan bisnisku, jika berhasil bukannya aku akan mendapatkan keuntungan lagi dan lagi di tambah lagi bisa menyelamatkan reputasi keluarga, em ... jika diingat-ingat siapa ya namanya ... oh aku ingat namanya Ayunda ia berkerja di salah satu perusahaan properti terbesar di kota S pasti koneksinya banyak dengan rekan-rekan sesamanya, baru beberapa hari bertemu dengan papanya ya ... meski anaknya hamil di luar nikah tanpa tau siapa bapaknya tapi papanya Ayunda seorang pebisnis handal bahkan setiap orang yang mengajaknya berkerja sama selalu berhasil dan sukses.' Seno merancang segalanya.
__ADS_1
.
Upnya agak lama sebab badan kurang sehat, terimakasih sudah berkenan mampir.