
Ia meraba-raba tempatnya tidur dengan sang istri dan kenapa alarm jam tidak berdering lagi, ternyata sudah di lepas baterainya dan sekarang jam menunjukkan pukul 11 siang.
"Mika." Mengumpulkan kesadarannya setelah bangun tidur dan melihat sekeliling ruangan yang masih sama rapi, bersih dan tidak ada yang hilang satu benda pun.
Leon bernafas lega sekarang saat mengetahui semuanya masih ada di tempat semula, hanya saja ia belum sadar bahwa benda itu hanya inti sedangkan cadangannya sudah hilang di negri orang.
"Saking happy nya di samping kamu yang sampai-sampai aku ketiduran, kesiangan lagi kalau mau kerja?" tersenyum bahagia.
Ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya tak lupa ia mengenakan parfum kesukaan sang istri, kalem dan tentunya memikat. Tapi perasaannya mulai resah saat keadaan rumah bertambah sunyi saat dirinya menuruni anak tangga.
"Tumben rumah terasa sepi, biasanya kalau Mika di toko atau di gudang gak pernah sesepi ini keadaan rumah? pembantu pagi ini pasti juga sudah pulang, satpam satu itu kemana sih perginya. Biasanya sering masuk dapur bikin kopi dan sahabat-sahabatnya kopi," heran dan penuh kebingungan.
Meski belum sadar jika istrinya sudah pergi ke Negri orang namun ia masih berpikir positif jika istrinya masih ada di kota ini, suara bel rumah terdengar sampai ke halaman belakang rumah tersebut.
"Ish ... mau minum kopi hangat jadi gagal, yang datang siapa sih?" dengan malas ia menuju ke gerbang depan rumah.
Setibanya di taman samping rumah ia tanpa sengaja melihat mobil yang tidak asing baginya, siapa lagi jika bukan klien penghancur hubungannya dengan Mika yang jelas-jelas sudah terjalin puluhan tahun tersebut.
"Wanita itu, kenapa kemari sih?"
Satpam rumah tidak ada mungkin mencari makan siang, Leon saja yang masih belum sadar jika hari ini semua pegawai yang di pekerjakan oleh Mika istrinya di pulangkan semua dengan cara baik.
Begitu juga yang berkerja bersih-bersih rumah dan masak juga sama di pulangkan, yang lebih 2 baby sitter juga meski tadi berangkat bersama namun semuanya di atur oleh Mika secara pribadi agar perginya kali ini aman. Sebab dulu pernah kejadian saat dirinya hendak belajar ke luar negeri ternyata Leon ikut serta padahal drama waktu itu meyakinkan Mika jika Leon gak bakalan ngikutin.
Ayunda menatap ke seluruh penjuru rumah namun hasilnya nihil tidak ada siapapun bahkan Cantik juga sudah keluar dari mobil untuk memastikan ada penghuninya atau tidak hari ini, padahal sudah memohon dan meminta maaf secara baik tapi nyatanya dirinya tidak di harapkan datang untuk sekarang.
"Bagaimana? ada orangnya?" tanya Ayunda begitu antusias.
Jika dirinya berlarut-larut dalam masalah ini, bukan hanya dirinya yang terkena imbas tapi bayi di dalam perutnya juga terkena imbasnya. Apalagi usia kandungannya menginjak 6 bulan, semenjak keluar dari rumah sakit ia tidak berani keluar rumah begitu saja banyak pasang mata yang membicarakan tentang kehamilannya yang tanpa suami termasuk tetangga apartemen yang ia tempati sekarang.
__ADS_1
"Tidak ada nona Ayunda, mari saya hantarkan anda pulang ke apartemen."
"Tidak," tolak Ayunda.
"Ada apa nona, nona tidak ingin kembali ke apartemen nona?" bingung sebab untuk sekarang tidak ada tempat lain selain apartemen itu.
"Jual apartemen itu dan kita pindah ke tempat yang baru!" jawab dingin Ayunda.
Cantik hanya bisa patuh sambil tersenyum, padahal tadi berangkat begitu antusias dab bahagia lalu sesampainya di tempat tujuan dan orang yang di cari tidak ada langsung bad mood.
'Ibu hamil yang satu ini, membuatku harus berkerja keras setiap harinya tidak peduli panas atau hujan bahkan gempa bumi aku harus siap siaga, huh ... tau begini aku harus mengusahakan secepatnya untuk membuat janji dengan tuan Leon.' Cantik membatin sambil fokus mengemudi.
Meski dari kampung ia tidak terlalu kampungan, bisa menjalankan mobil itu suatu kebanggaan di kampungnya bahkan jadi bahan pembicaraan orang kampung meski telinganya sering panas jika ada yang bilang pekerjaannya di kota sebagai wanita penghibur yang tinggal melebarkan kedua kakinya kucuran uang langsung mengalir, padahal pekerjaan bukan itu.
Cantik memang terkadang memegang ponsel milik Ayunda semenjak Ayunda masuk ke rumah sakit, untuk mengurus beberapa pembeli apartemen dan perumahan elit.
.
Leon mengambil ponselnya dan mulai membuka galeri foto, tidak terlalu banyak foto kedua buah hatinya tapi cukup mengobati rasa rindunya.
"Em ... rasanya aku sangat merindukan mereka, hari ini mereka di rumah ayah atau papa ya?" meraih kunci mobilnya.
Saat sampai di rumah mertuanya ia sudah merasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang terjadi tapi itu hanya tebakan Leon saja semoga tidak.
"Ayah." Memanggil mertuanya sambil mencari tapi tidak ada padahal rumah pintunya terbuka.
Leon keheranan rumah sepi dan akhirnya ia menutup pintu bagian depan dari pada kenapa-kenapa setelah ia beranjak dari rumah tersebut.
"Ko berasa aneh ya?" ia lalu menuju ke rumah papanya yang jaraknya hanya sejengkal.
__ADS_1
Seno berada di gazebo dan sedang melakukan vidio call.
"Pa."
Seno berbicara dengan seseorang di telepon dan mendadak di matikan setelah memberi kode ke orang tersebut. Leon curiga namun ia urungkan pasti klien papanya, pikirnya sekarang.
"Eh Leon, baru datang?" sambil tersenyum menyambut kedatangan putra semata wayangnya.
"Tumben pa, Leon di sambut begini oleh papa. Biasanya enggak di sambut!" duduk tidak jauh dari papanya.
Kali ini suasana penuh dengan drama rumah tangga, yang biasanya Seno tidak mau bercanda dengan putranya kini sebisa mungkin membuat candaan dan juga bualan pada Leon agar Leon tidak menanyakan perihal Mika dimana untuk sekarang.
"Apa sudah gak mau papa sambut son?" menepuk pundak Leon.
"Ya mau lah pa, siapa yang gak mau sih di sambut oleh papanya sendiri. Papa nih ada-ada saja!" mengambil camilan yang berada di atas meja.
"Kirain papa udah gak mau."
Seno mengambil koran dan membaca berita terupdate hari ini, kira-kira seperti itulah kegiatannya untuk siang hari di sela-sela istirahatnya sebelum melanjutkan pekerjaan yang melelahkan menginjak usia sudah tua.
"Pa. Leon mau tanya, anak-anak dimana sih pa. Tadi Leon sempat ke rumah ayah tapi rumah sepi banget, setelah kesini juga sama gak ada anak-anak. Apa mereka ikut Mika semua ke tempat kerjaan?"
Deg.
Jantung Seno berpacu cepat, jawab apa coba tapi di iyakan deh dari pada banyak tanya dan ketahuan jika dirinya sendiri yang membantu sang menantu kabur dari putranya.
"Iya, ikut pergi dengan Mika mereka!" jawabnya benar tapi tidak di kota ini melainkan di negara orang.
Leon bernafas lega.
__ADS_1