
Atom juga di hubungi oleh Seno.
Mereka berdua berbicara di rumah Atom sebab Mika tidak ada kabar padahal tadi kata Asma Mika baru saja melakukan panggilan vidio call dengan anak-anaknya.
"Apa ada kabar dari Mika?" Seno menatap Atom dengan tatapan sedih.
"Tidak ada, Leon putramu dan gara-gara putramu itu putriku jadi begini dan terluka. Aku memang tidak tau apa permasalahan mereka yang aku tau jika Leon pergi dengan wanita itu yang tak lain kekasihnya setelah menikah dengan putriku dan memiliki anak-anak, tapi jika nanti Leon sadar tolong suruh Leon untuk melepas putriku Seno. Untuk persahabatan kita akan tetap terjalin seperti biasanya tanpa ada rasa kecewa meski rasa kecewa itu ada, dan untuk si kembar biarkan aku yang menjaganya selama Mika menenangkan dirinya, aku sendiri tidak tau dan tidak bisa berbuat banyak. Tolong untuk orang-orang kepercayaan mu untuk menjaganya dari jauh jika tau keberadaan putriku."
Atom bicara panjang lebar dan Seno terdiam, memang putranya yang salah sebab dirinya tidak bisa mendidik putranya dengan baik.
"Tapi Atom, jangan begini Atom. Bukannya sudah ada permintaan kamu saat sebelum mereka menikah dulu, agar mereka tidak berpisah. Bukannya itu semua permintaan kamu, kenapa sekarang berbeda Atom?"
Atom berhenti dan menatap Seno dengan tatapan kecewa yang teramat dalam.
"Aku pikir kamu sudah tau permasalahan nya Seno, ternyata aku salah. Putramu berhianat dan melukai putriku, tidak hanya putriku tapi juga kedua cucuku. Mika sejak lahir sudah menderita, kenapa setelah melahirkan anak-anak nya ia masih terluka kembali bahkan anak-anak nya juga ikut merasakannya. Aku tau Allah SWT memberikan aku cobaan ini, tapi Mika tidak salah yang salah aku. Kenapa ... kenapa harus putriku dan cucu-cucu ku yang menerima dosa ini, apa salah mereka." Tubuh Atom merosot dan ia menangis di atas lantai dingin di rumahnya.
Seno merangkulnya dan memohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaiannya menjaga sang putra.
"Maafkan aku Atom, aku yang salah aku yang tidak bisa dan aku yang tidak berguna sebagai orang tua tunggal yang tidak bisa mendidik putranya, aku yang salah Atom. Tolong maafkan putraku Atom, ia tidak sepenuhnya salah," Seno juga tergugu.
Atom terdiam sebelumnya memang begini dan pada akhirnya kejadian itu terulang bahkan yang kali ini lebih parah dari sebelumnya.
__ADS_1
"Ini bukan salahmu, jangan menyalahkan kamu. Kamu sudah benar mendidiknya tapi dianya saja yang kurang bersyukur dan merasa kurang dan kurang." Atom melepas pelukan.
Di hidupnya tidak ada lagi ada rasa istimewa atau bangga terhadap menantu laki-laki yang ia harapkan bisa mengayomi dan menyayangi Mika sepenuhnya kini harapan-harapan itu sudah sirna tanpa bekas, kenapa laki-laki yang sudah ia kenal lama justru menyakitkan, apa perlu mencarikan orang baru.
Sebenarnya tidak pernah sedikitpun terbesit di pikirannya untuk mengantikan posisi Leon dengan orang lain tapi apa boleh buat jika ini adalah takdir.
.
Mika bertanya pada Dokter yang menangani operasi Leon beberapa hari yang lalu tapi sang Dokter juga tidak menemukan cincin saat di operasi waktu itu. Mika berkali-kali meyakinkan dan menanyakan hal yang sama tapi tetap saja jawaban dari Dokter itu sama seperti sebelumnya, tidak di temukan benda apapun yang melekat di tubuh Leon kecuali ponsel dan dompetnya.
'Separah itukah kamu Leon ?'
Di pikiran Mika hanya ada pikiran aneh-aneh, tidak diinginkan, tidak di harapkan kehadirannya.
Mika menatap cincin kawin yang masih tersemat di jari manisnya, sangat cantik dan elegan. Ia segera tersadar dari lamunannya dan bergegas masuk ke dalam mobil, kali ini yang ia butuhkan menyegarkan pikirannya dan menata kewarasannya agar mengurangi depresi yang akan datang.
"Kalau kamu niatnya mau melukai aku dan membuatku depresi dan takut kehilangan kamu, kamu salah besar Leon. Selagi aku di jalan yang benar pasti doa istri yang tersakiti akan segera di kabulkan cepat atau lambat, aku berdoa agar kamu seumur hidupmu akan di hantui rasa bersalah yang teramat dalam padaku dan pada anak-anak Leon." Mengepalkan tangannya saat memegang stir mobil.
Mika tidak berharap banyak, jika Leon hilang ingatan dan melupakannya itu akan menjadi lebih baik dari pada ingat dan menyakitinya kembali. Sudah cukup permainan petak umpet yang ia ciptakan di kehidupan ini, cukup diri ini yang terjebak dalam permainannya, jangan yang lain di ikut sertakan.
.
__ADS_1
Leon masih di alam bawah sadarnya, ia bermimpi sepertinya ia kehilangan sosok yang teramat ia sayangi dan cintai.
"Papa ... selamat tinggal, papa jangan mencari kami ya. Kami baik-baik saja bersama mama." Ucap salah satu anak perempuan entah itu siapanya.
Tapi dari wajahnya terlihat seperti dirinya hanya saja versi perempuan.
"Jangan ... jangan ... pergi, kalian siapa? kenapa kalian mirip denganku, apa kalian adikku atau anakku?"
Hanya senyuman yang terukir di sudut bibir kedua anak kembar itu dan satu lagi ada suara merdu seorang wanita yang tidak jelas saat di lihat oleh Leon, entah itu siapa tapi sepertinya itu adalah ibu dari kedua bocah kembar tersebut.
Leon meneteskan air matanya.
Tes
Tidak ada yang tau sebab sekarang ini tidak ada yang menjaga Leon kecuali pengawal-pengawal Seno papanya yang berada di luar ruangan, suster dan Dokter juga sering mengecek tapi untuk sekarang tidak di cek kondisinya sebab baru saja di cek semuanya normal dan baik-baik saja tinggal menunggu kesadaran Leon kembali.
Sedikit ada pergerakan di tangan Leon tapi tidak sampai merubah posisi tangannya di letakkan di tempatnya beristirahat.
.
"Gimana kabar anak-anak yang aku tinggal beberapa jam an ini, apa mereka baik-baik saja. Mungkin mereka kelaparan dan mencariku, sebaiknya aku segera kembali saja."
__ADS_1
Walaupun marah dengan papa mereka tapi Mika tidak akan setega itu meninggalkan anak-anaknya terlalu lama meski 2 baby sitter nya terpercaya dan baik semua. Tapi penanganan anak tetap harus orang tuanya sendiri yang mendampingi dan merawat mereka agar orang yang membantunya untuk menjaga kan anak-anaknya ada waktu sebentar untuk beristirahat.
Ia mengemudikan mobilnya dengan santai, pikiran boleh kacau tapi soal keselamatan diri dan orang lain itu juga penting, jangan pernah egois di jalan meski di buat emosi oleh orang lain saat di jalan. Mika mengecek ponselnya ternyata ponselnya mati di mobil juga tidak ada tempat mengisi ulang daya baterai, terpaksa ia membiarkan ponselnya mati untuk beberapa menit sebelum sampai ke rumah papanya.