
Setelah cairan infus habis barulah Mika di izinkan pulang, ia hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran dan kurang istirahat maka dari itu tadi ia pingsan.
"Dimana cincinnya?"
Ternyata sudah tersemat di jari manisnya kembali padahal Mika butuh kejelasan dari suaminya.
"Sudah aku pakai lagi sayang, waktu itu aku melepaskannya dan meletakkannya di meja rias milikmu. Apa kamu tidak mengeceknya sayang?"
Mika menggeleng.
"Apa alasannya kamu melepaskan cincin pernikahan kita."
"Waktu itu aku terburu-buru mau membersihkan itunya Fintan dan lupa untuk mengenakannya kembali sayang dan kebetulan juga waktu itu tertimpa masalah parah. Maafkan sahabat sekaligus suamimu ini sayang, lain kali tidak akan terulang lagi," menyatukan dahinya ke dahi Mika.
Ia rindu sikap manja Leon begitu juga sebaliknya.
"Bolehkah aku mencium mu sayang?"
Mika terpaku, harus jawab apa.
'Sebenarnya aku juga rindu dengan sentuhan hangatnya, tapi ... em ... gengsi.'
"Jawab, bolehkah sayang?" menanyainya lagi.
Hanya anggukan kecil yang Mika berikan.
"Terimakasih sayang."
Cup
Tidak ada balasan dari Mika.
"Balas sayang, aku rindu."
Sudah berbulan-bulan semenjak hamil tua sampai lahiran ia tidak merasakan kehangatan dari Leon, sekarang dirinya gerogi.
"Leon, anak-anak?"
"Aman sayang, papa dan ayah tau. Mereka akan memakluminya!"
Nafas Leon ngos-ngosan.
.
"Masak apa sayang?"
"Mie goreng, lagi malas masak!" sambil mengaduk mie yang sudah siap untuk di nikmati.
"Bekas ciumanku masih ada, apa kamu ingin mempertontonkan ini ke orang-orang." Menutupi dengan memperbaiki tatanan rambut Mika yang tadinya di kuncir kini di gerai oleh Leon.
"Enggak," segera menutupi dengan tangannya.
Jadi, pembantu yang bersih-bersih hari ini tau dong. Malu... nya sampai kapan.
"Sudah tidak apa-apa, santai oke."
"Aku malu," bersemu kemerahan.
__ADS_1
"Kenapa malu, berhubungan badan dengan suami sendiri kenapa harus malu."
"Tetep aja malu Leon, malu," mengambil beberapa piring dan meletakkannya di atas meja.
"Nanti di tutupi foundation dan bedak pasti tersamarkan sayang, yuk makan dulu."
'Demi anak-anak dan rumah tanggaku utuh, apapun akan aku lakukan. Aku bukan seperti wanita yang ada di luaran sana yang akan kabur dan mengurus perceraian sebab kesalah pahaman yang tidak jelas, asalkan jujur dengan pasangan pasti termaafkan. Manusia memang ladangnya dosa sebab memiliki nafsu, jika mengikuti nafsu semata yang tersakiti tidak hanya satu orang tapi banyak orang yang sayang dengan diri ini. Cukup aku yang merasakan, tidak untuk kedua anak kembar ku.'
Tersenyum manis sambil menikmati masakannya yang rasanya ya ... lumayan bisa di rasakan oleh lidah dan mengenyangkan perut saja.
"Lihat, seperti anak kecil saja makanan belepotan kemana-mana." Membersihkan dengan ibu jari dan mencicipinya.
"Memang anak kecil, masih muda dan ting ting," melanjutkan aksinya.
Leon tidak jadi makan dan justru ia melihat istrinya yang begitu lahap dengan sarapan paginya, sarapan terberatnya hari ini dari sebelum-sebelumnya. Kemarin-kemarin Mika hanya minum satu gelas susu dan hanya beberapa kue kering kecil saat pagi hari sedangkan siang jus buah dan sorenya hanya sayur tanpa nasi itupun porsinya juga sedikit padahal sedang menyusui kedua buah hatinya.
"Iya percaya, belum ada seperempat abad juga. Sayang nanti kamu ke kantor tidak?"
"Enggak, sudah izin gak berkunjung. Lagian aku sudah lama mengajukan surat pengunduran diri Leon!"
"Kenapa, kenapa kamu mengundurkan diri sayang. Masih marah sama aku?"
"Tidak, hanya tenaga aku yang gak mampu melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Cukup kamu saja yang kerja di kantor dan melanjutkan cita-cita ku jadi pengacara hebat dan terkenal!" menghela nafas panjang.
"Siap laksanakan sayang." Deretan gigi putih itu selalu bersemayam di pemiliknya, bagaimana caranya lupa dengan senyumnya yang manis.
"Kamu manis Leon." Pujinya tanpa sadar.
"Thank you sayang," melayangkan ciuman jauh.
"Kamu manis Leon!" senyumnya terus di pancarkan.
'Salah bilang lagi, biasa-biasa nih anak manja terus nanti.' Ia sudah hafal betul dengan kelakuan Leon yang sekali di puji tapi menempelnya berminggu-minggu.
Mika menghindari Leon.
"Kenapa menghindar, aku gak punya kutu atau tungau sayang." Mengerjabkan matanya.
"Siapa tau, lagian bukannya biasanya kamu garuk-garuk itu kamu,"
"Itu apa?" menatap ke bawah.
"Kaki kamu, jangan berpikir negatif thinking deh!" beranjak pergi.
"Habisnya tadi malam di urut-urut sambil di pijat, jadi kebawa suasana deh." Sambil cengengesan.
"Aku mau kerja dan menemui anak-anak dulu, jangan aneh-aneh Leon,"
"Sebentar oke, mumpung masih pagi dan baru sarapan. Sikat gigi dulu yuk."
Meraih tubuh Mika dan menggendongnya.
"Turunin." Sedikit meronta.
"Enggak, yang ada kamu jatuh dan bisa-bisa aku bakalan dipanggang ayah sama papa lagi," tetap mengendong sampai ke dalam kamar mandi.
Ia menurunkan tubuh istrinya perlahan di atas wastafel kamar mandi dan menyingkirkan beberapa produk kecantikan ke ujung wastafel.
__ADS_1
"Leon, tunggu."
"Hus ... jangan protes," pasrah sudah Mika di buatnya.
"Leon ... ah ..."
Ia tersenyum saat mendengar suara de sahan sang istri yang sangat memikat telinganya dan tentu saja hasrat laki-laki normalnya bangkit begitu saja.
"Aku akan lebih cepat mengeluarkannya."
Hanya anggukan yang Mika berikan. Rasanya sudah melayang kemana-mana saat tangan dan bibir lincah Leon bermain ke aset-aset berharganya, apalagi di bagian sana.
.
"Leon."
"Iya," menguncir tinggi rambut Mika.
"Bekasnya kelihatan." Menunjukkan bekas cu pang di beberapa titik bagian Leon berkarya.
Kejadian tadi malam saja belum di hapus kini di tambah lagi kemana-mana.
"Di oles saja pakai ini," mengambil salah satu foundation milik Mika.
Dengan telaten dan teliti Leon mengusapkan ke seluruh leher milik Mika tanpa terkecuali dan sebisa mungkin di samarkan agar mereka yang lihat gak panik dan jadi pengen nikah, Leon tau betul jika mayoritas karyawan yang berkerja di toko dan skincare milik istrinya masih singel meski singel cerai hidup dan mati.
"Apakah masih marah?" merangkul dari belakang.
"Enggak!" jawabnya tersenyum.
Wanita itu paling mudah di luluh kan hatinya dan yang paling rapuh hatinya.
Mika ke rumah ayahnya sambil membawakan sesuatu untuk ayahnya, sudah lama dirinya tidak membawakan buah tangan untuk ayahnya.
"Selamat pagi ayah."
Atom menyambutnya dengan suka cita, rasa rindunya dengan sang putri teramat dalam. Ia melihat perubahan raut wajah putrinya yang lebih segar dari sebelumnya.
"Nak."
"Iya yah," duduk di dekat ayahnya.
"Hubungan kamu dengan Leon bagaimana ?" ayahnya terlihat sedih.
"Baik!" sambil tersenyum.
"Jangan berbohong, jika baik kenapa kamu sendirian kemari."
Atom memang kesal terhadap menantunya itu namun ia tahan di depan sang putri, dirinya juga tidak dapat memutuskan sepihak sedangkan Mika sepertinya masih ingin mempertahankan hubungannya dengan sahabat sekaligus suaminya itu.
"Leon kerja ayah tidak sempat kemari, ayah ... bolehkah Mika menginap di rumah ayah?"
Atom menaikkan alisnya.
"Tentu saja boleh nak, si kembar ada di dalam kamu mau menyusuinya dulu atau langsung berangkat ?"
Ia mengangguk.
__ADS_1