Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Mika pergi dari sisi Leon


__ADS_3

Leon meraih jari jemari Mika dan menggenggamnya, rasanya kecil dan dingin.


"Dia hamil." Pembicaraan yang sedang tidak ingin Mika bahas justru Leon membahasnya.


"Anak siapa ?" pikirannya berusaha tenang namun tidak bisa.


"Tidak tau yang, aku yakin itu bukan anakku sebab aku dan dia!"


Mika beranjak pergi.


"Aku mau ke kamar, kamu tidur di sini saja Leon, aku butuh sendirian Leon."


"Tapi, Mika ... Mika ...."


Panggilan Leon ia abaikan.


Leon mengacak-acak rambutnya, jika anak yang sedang di kandung Ayunda anaknya bagaimana jadinya. Seingatnya ia waktu itu sadar-sadar sudah berada di kamar mandi dan waktu itu dia juga menahan gejolak hasratnya saat suasana kamar itu penuh dengan obat perang sang.


Ceklek.


Tubuh Mika merosot ke bawah ia menangis tersedu-sedu.


"Pada akhirnya yang lama bersama tidak menjamin akan selamanya selalu di utamakan dan tidak tergeser." Ia menutupi wajahnya dan menangis sepuas hatinya.


Leon yang mengejar nya tidak dapat menghentikan langkahnya.


'Aku harap ini mimpi dan selamanya hanyalah mimpi buruk, aku belum siap terluka sedalam ini semoga ini mimpi dan pada esok aku bangun tidak terjadi apa-apa.'


Mika berdiri dari lantai menuju ke tempat tidurnya, menyibakkan selimut dan tidur dengan tenang seperti kemarin saat suasana hatinya baik.


'Tenang Mika, tenang ... pasti ini mimpi. Ayo lanjutkan tidurmu.' Memposisikan tidurnya.


Ia tidak nyenyak saat tidur, pikirannya tidak bisa di ajak kompromi untuk sekarang.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus konsumsi obat tidur lebih banyak dari sebelumnya." Mika mengambil 3 butir obat tidur agar pikirannya tenang dan rileks.


Tidak ada hari yang lebih indah selain tidur saat jam nya tidur meski terkadang mata sulit untuk di pejamkan. Mungkin akan ada efek samping dari konsumsi obat berlebihan, tapi dirinya tidak mampu lagi untuk menerima semua secara terus menerus.


Leon mencongkel pintu dan berhasil.


"Haduh ... bodo*nya aku, aku pikir di kunci tapi ternyata tidak. Tau begini gak usah susah-susah cari alat untuk mencongkelnya, kalau Mika tau pintunya aku rusak gimana di tambah lagi pintu kesayangan nya?" tadi saat melakukan aksinya tidak sampai kepikiran sampai ke situ.


Ia menatap tubuh mungil istrinya, tampak pucat dan sendu.


"Maafkan aku, aku berharap itu bukan anakku sayang dan aku juga berharap Ayunda jujur tentang siapa ayah dari bayi itu. Maaf membuatmu terluka lagi sayang."


Mika terlelap nyenyak dalam mimpi dan ia masih berharap itu mimpi malam hari, ketika menjelang pagi mimpi itu sudah sirna dan tidak kembali lagi.


Suara alarm jam berdering.


"Tumben Mika pakai alarm, mau kemana jam segini?" menatap jarum jam yang menunjukkan pukul 04.00.


Masih petang, ia memutar jam pukul 5 yang artinya satu jam lagi alarm tersebut akan berdering kembali, lalu ia melanjutkan tidurnya. Mika sudah terbiasa bangun pukul 4 jadi percuma saja alarm di matikan dan minim obat tidur yang tidak berefek sama sekali di tubuhnya, pelan-pelan ia turun dari tempat tidur.


Cup.


Pipinya di cium seperti biasanya mereka melakukan hal romantis.


Mika sudah siap-siap dengan kopernya yang sudah ia siapkan sejak lama, bahkan koper ini sudah ada setelah ia menerima fakta jika suaminya kecelakaan bersama dengan wanita itu, kini tekadnya sudah bulat.


Seno hawatir.


"Mika."


"Iya pa, ayah mana dan anak-anak?" di depan pagar rumah Leon dan Mika.


Atom dan anak-anaknya baru saja sampai.

__ADS_1


"Itu baru datang, jaga mereka baik-baik ya."


"Iya ayah ... papa ..., maafkan Mika yang tidak bisa melindungi pernikahan ini. Mika ..." menangis.


Seno dan Atom memeluk Mika secara bergantian.


"Satu lagi papa .. ayah .. aku titip Leon dan jangan memberi tau aku kemana." Permohonan Mika di iyakan oleh mereka berdua.


Seno dan Atom sedih harus berpisah dengan putrinya serta kedua cucunya.


"Mika ... apapun keputusan kamu ayah dukung nak, meski keputusan sekarang itu tidak di benarkan dalam agama. Tapi kamu berhak menenangkan diri untuk sementara, jaga kesehatan ya."


Melepas sang putri tercintanya sangat berat, lebih berat saat melepas Mika dulu untuk melanjutkan studinya di luar negri, sedangkan sekarang berbeda ia pergi karena hati terluka olehnya. Atom tau betul rasanya di hianati dan di tinggalkan, bahkan sampai ia kehilangan putra pertamanya dari istri pertamanya padahal ia sangat-sangat mencintainya, lantaran dirinya di rendahkan dan di anggap tidak mampu menafkahi. Begitu seterusnya sampai ia mendapatkan Mika dari pernikahannya yang ke tiga kalinya meski pada akhirnya gagal dan di tinggal kabur juga.


Seno menepuk-nepuk pundak Atom untuk menguatkan sahabatnya, Atom dan Seno belum tau pasti apa penyebabnya dan mereka berdua yakin penyebabnya tidak jauh-jauh dari masalah dengan wanita pelakor lumpuh yang sekarang masa pemulihan itu.


"Seno, ayo kita kembali jangan sampai Leon tau dan curiga kita baru saja melepas putri kita untuk menenangkan dirinya." Justru Atom yang malah menjadi kuat sedangkan Seno masih meratapi kepergian putri dan ke dua cucu tercintanya.


Asma dan Asna ikut serta dalam rombongan, misi kali ini Mika akan mencari pekerjaan baru dengan identitasnya sebagai mahasiswi lulusan luar negri terbaik tahun itu, entah nanti dapat pekerjaan apa yang jelas ia ingin kuliah S2 secepatnya bila perlu jadi profesor yang jujur dan dapat di andalkan di kalangan masyarakat setempat.


Disakiti bukan berarti tambah down, ia berusaha bangkit dengan kerja kerasnya meski akan ada bebatuan kecil yang akan menemani perjalanan hidupnya di luar negri. Penerbangan dari Surabaya-Sydney Kingsford Smith memiliki jarak 4923 km dengan rata-rata waktu penerbangan 10 jam 25 menit.


"Bu Mika, kami terimakasih sudah di pekerjakan di tempat bu Mika, maaf jika kami memiliki salah ke bu Mika. Terimakasih banyak bu Mika." Melepas kepergian Mika majikan baiknya.


"Iya, sama-sama. Saya mohon kepada kalian semua untuk membantu saya pergi ya, jangan bilang siapa-siapa dan ini," memberikan pesangon yang tebal padahal notifikasi bank mereka sudah ada 2 transferan masuk tadi saat di perjalanan menuju bandara.


"Bu Mika, ini?" Asma bertanya.


"Untuk jalan-jalan, terimakasih ya!" sambil tersenyum dan menggendong kedua buah hatinya.


Mika sengaja tidak pakai stroller baby agar dirinya lebih leluasa untuk pergi dan ia juga memesan tempat khusus untuk kedua buah hatinya di dalam kabin pesawat VIP tentunya, masalah uang tidak masalah asalkan tujuannya selain liburan juga melanjutkan studinya.


Sedangkan toko dan gudang ia serahkan ke ayahnya dan juga papanya untuk di kelola saat dirinya tidak berada di Indonesia.

__ADS_1


'Apa keputusanku sudah tepat?' Sambil menatap ke arah luar jendela pesawat.


Kedua anaknya diam dan terus tersenyum saat di ajak pergi dari rumah tadi, apakah anak-anaknya bahagia. Rasanya iya, tapi juga tidak mungkin bahagia sebab terpisah dari papanya.


__ADS_2